Pikiran Rakyat
USD Jual 14.311,00 Beli 14.011,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Potensi Pemilih di Pemilu 2019, Jawa Barat Tak Mudah Ditaklukkan

Tim Pikiran Rakyat
Ilustrasi/DOK PR
Ilustrasi/DOK PR

JAWA Barat menjadi salah satu medan pertempuran dua kandidat calon presiden yang bertanding di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 ­mendatang. Selain untuk pilpres, perebutan kursi anggota legislatif di Jabar pun tergolong ketat dan seksi. Dari pemilu ke pemilu, parpol selalu memasang tokoh-tokoh populer ­untuk meraih kursi atau mendulang suara di wilayah Jabar.

Namun dengan jumlah pemilih terbanyak dan karakteristik pemi­lih­nya yang unik, Jawa Barat sering kali tak mudah di­taklukkan. Masing-masing tim pun harus be­kerja ekstrakeras untuk menang di Bumi Pasundan tersebut.

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Maman Imanulhaq menyebut sejak lama konstelasi politik Jawa Barat memang tak mudah ditebak. Itu karena, tak banyak partai yang bisa bercokol lama di provinsi ­dengan 27 kabupaten kota ini. Hal tersebut tentunya jadi pekerjaan rumah tersendiri.

“Dulu zaman Orde Baru, Golkar pascareformasi PDIP kuat, terus Demokrat sebelumnya PKS. Belum pernah ada yang terus berturut-­turut menang di Jawa Barat,” kata Maman kepada “PR” di Rumah Kerja Re­lawan Jokowi-Ma’ruf Jalan Veteran I Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2019.

Jumlah raihan suara yang fluktuatif

Pasangan nomor urut 01 sempat unggul secara signifikan dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Oktober 2018 lalu. Namun survei November dan Desember 2018 justru suara mereka kembali turun di beberapa daerah.

“Jawa Barat itu fluktuatif. Beda dengan Jawa Tengah yang misalnya kami sudah target 72 persen atau Jawa Timur yang meski relatif tergantung daerah. Tapi kami optimis­tis bisa di angka 60 sampai 65 persen. Sementara Jawa Barat naik turun walaupun ada dukungan dari 10 bupati/wali kota dan satu gubernur,” kata dia.

Maman pun menilai banyaknya pemilih di Jawa Barat menjadi satu alasan kenapa provinsi ini sulit ditaklukkan. Untuk itu selain mela­ku­kan kampanye yang langsung menyentuh masyarakat, TKN juga membentuk jaringan pelatihan sukarelawan lewat sejumlah Rumah Kerja.

Sementara itu, akhir 2018 lalu, Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Syarief Hasan tak menampik kalau Jawa Barat menjadi daerah pe­rebutan sengit antara tim Prabowo dan Jokowi. Daerah elektoral ini termasuk yang memiliki suara tertinggi ketimbang daerah lain dengan 32.636.846 pemilih. “Oleh karena itu kami gencar turun langsung ke lapangan,” kata Syarief.

Pilpres kali ini pun dinilai Syarief lebih berat ketimbang 2014 lantaran kubu Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin yang memiliki strategi khusus dengan menggandeng suara NU di tanah Sunda. 

Meskipun demikian, Syarief yakin Prabowo tetap akan unggul. Optimisme ini muncul lewat pertan­dingan awal Prabowo dengan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Prabowo yang kala itu menggandeng Hatta Rajasa, berhasil unggul ­dengan perolehan 14.167.381 suara atau 59,78 persen. Sedangkan Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla  memperoleh 9.530.315 suara atau 40,22 persen.  

“Kami menargetkan suara yang diraup minimal sama dengan 2014. Kalau bisa lebih. Fakta menunjuk­kan masyarakat tetap mendukung Prabowo,” kata dia. 

Ilustrasi/FIAN/PR

Pergeseran tren

Jumlah pemilih pemula di Jawa Barat diperkirakan mencapai 20% dari pemilih tetap yang ada dalam daftar pemilih tetap (DPT). Sementara itu, total pemilih di Jabar mencapai 33.270.845 orang. Setidaknya ada 6.654.169 pemilih pemula di Jabar.

Strategi untuk mendulang suara bagi partai politik  dan calon anggota legislatif (caleg) pun harus berubah. Saat ini, parpol masih memanfaatkan popularitas figur publik dan mantan pejabat sebagai calon anggota legislatif. Tokoh-tokoh tenar itu juga menjadi saingan berat figur publik, terutama bagi yang baru ikut pemilu. 

Pengamat politik dan kebijakan publik dari Universitas Parahyangan Asep Warlan mengatakan, caleg pendatang baru harus bekerja jauh lebih keras untuk mengimbangi para mantan pejabat publik dan artis tersebut. Mereka harus blusukan ke pemilih untuk memperkenalkan diri dan memperkuat modal kualitas dan sosialnya. 

Namun, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan menilai, banyaknya publik figur yang diutus oleh parpol tidak menjamin akan mudah untuk mendulang suara. 

Ia mengingatkan adanya pergeseran tren di kalangan pemilih. Hal itu terlihat dari sedikit kepala daerah dari publik figur yang memenangi pemilihan. “Seharusnya ini sudah menjadi sinyal bahwa mengutus artis bukan lagi jaminan kemenangan,” ucap Firman.  

Firman mengatakan ada tiga hal yang "dimainkan" dalam berkampanye. Selain popularitas figur, ada juga visi dan misi serta isu yang di­sodorkan pada pemilih. Ketiga hal itu dapat dioptimalkan oleh para caleg. ***

Bagikan: