Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Jawa Barat, Medan Tempur Penentu Hasil Pilpres 2019 yang Sukar Ditaklukkan

Muhammad Irfan
PILPRES 2019.*/DOK. PR
PILPRES 2019.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Jawa Barat menjadi salah satu medan pertempuran dua kandidat calon presiden yang bertanding di Pilpres 2019 mendatang. Namun, dengan jumlah pemilih terbanyak dan karakteristik pemilihnya yang unik, Jawa Barat diakui tak mudah ditaklukkan.

Masing-masing tim pemenangan harus bekerja ekstra keras untuk menang di Jawa Barat.

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Maman Imanulhaq menyebut, sejak lama konstelasi politik Jawa Barat memang tak mudah ditebak.

Sepengetahuannya, tak banyak partai yang bisa bercokol lama di provinsi dengan 27 kabupaten/kota itu. Hal tersebut tentunya jadi pekrjaan rumah tersendiri.

“Dulu zaman Orde Baru, Golkar. Pascareformasi PDIP kuat, terus Demokrat, sebelumnya PKS. Belum pernah ada yang terus berturut-turut menang di Jawa Barat,” kata Maman Imanulhaq di Rumah Kerja Relawan Jokowi-Ma’ruf Amin, Jalan Veteran I, Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2019.

Jokowi.*/ANTARA

Hal itu pula yang kemudian dirasakan kubunya. Pasangan nomor urut 01 itu sempat menang survei secara signifikan dari pesaingnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Oktober 2018 lalu. Namun dalam survei November dan Desember 2018, justru suara mereka kembali turun di beberapa daerah.

“Jawa Barat itu fluktuatif. Beda dengan Jawa Tengah, yang misalnya, kami sudah targetkan 72 persen (suara) atau Jawa Timur yang meski relatif bergantung daerah, tapi optimistis bisa di angka 60 sampai 65 persen (suara). Sementara Jawa Barat naik-turun walaupun ada dukungan dari 10 bupati/wali kota dan satu gubernur,” kata dia.

Pendekatan keagamaaan dan kebudayaan

Oleh karena itu, tak heran kalau Jawa Barat menjadi satu dari sepuluh provinsi yang menjadi fokus TKN Jokowi-Ma’ruf Amin saat ini.

Timnya akan terus mempromosikan capaian dan solusi kerja Jokowi agar bisa menang di Jawa Barat. Resepnya adalah pendekatan ke-Islaman dan kebudayaan.

“Kita melihat yang kami lakukan lebih menyentuh sisi kemanusiaan. Karena Jokowi sudah bekerja dengan baik tapi masih ada yang mempertanyakan komitmen kerakyatan, makanya kami perbanyak turun ke bawah dengan seniman, anak jalanan. Kami gelar juga beberapa festival budaya di daerah-daerah seperti kuda ronggeng di Sumedang, sisingaan di Subang, atau festival tanah di Jatiwangi,” ucap dia.

Pilpres 2019.*/DOK. PR

Sementara dalam ke-Islaman, tim juga mengedepankan dakwah yang mengedepankan kampanye kejujuran serta transparan dan penuh nilai optimistis.

“Saya sampaikan kemarin, di Baitul Arqam misalnya, ada yang ingin merebut kekuasaan dengan hoaks padahal itu keji, makanya kami menampilkan politik kejujuran, transparan, dan menguatkan bukan pesimisme,” ucap dia.

Maman Imanulhaq menilai, banyaknya pemilih di Jawa Barat menjadi satu alasan kenapa provinsi itu sulit ditaklukkan. Untuk itu, selain melakukan kampanye yang langsung menyentuh masyarakat, TKN Jokowi-Ma’ruf Amin juga membentuk jaringan pelatihan relawan lewat sejumlah Rumah Kerja.

“Di sana ada pelatihan, penguatan saksi, dan sebagainya. Selain di Bandung, Rumker ini juga kami dirikan di kabupaten/kota yang jadi battle ground yakni Bogor, Bekasi, dan Garut. Ini kami bangun atas dasar gotong royong agar menang di Jabar,” ucap dia.

Optimisme tim pemenangan nomor urut 02

Sementara itu, dikutip dari pemberitaan akhir 2018 lalu, Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Syarief Hasan tak menampik kalau Jawa Barat menjadi daerah perebutan sengit antara kubunya dan kubu rivalnya.

Daerah elektoral itu termasuk yang memiliki suara tertinggi disbanding daerah lain dengan 32.636.846 pemilih.

Prabowo.*/ANTARA

“Oleh karena itu kami gencar turun langsung ke lapangan,” kata Syarief.

Pilpres 2019 kali ini pun dinilai Syarief lebih berat ketimbang 2014 lantaran Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin yang memiliki strategi khusus dengan mendulang suara NU di Tatar Sunda. Meski demikian, Syarief yakin Prabowo akan unggul.

Optimisme itu muncul lewat pertandingan awal Prabowo dengan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Prabowo yang kala itu menggandeng Hatta Rajasa, berhasil unggul dengan perolehan 14.167.381 suara atau 59,78 persen. Semenatra Jokowi yang masa itu berpasangan dengan Jusuf Kalla hanya berhasil memperoleh 9.530.315 suara atau 40,22 persen. 

“Kami menargetkan suara yang diraup minimal sama dengan 2014. Kalau bisa lebih. Fakta menunjukkan masyarakat tetap mendukung Prabowo,” kata dia.***

Bagikan: