Pikiran Rakyat
USD Jual 14.403,00 Beli 14.103,00 | Umumnya berawan, 21.8 ° C

Relawan hingga Bupati Pandeglang Berhamburan dari Pengungsian Korban Tsunami Lihat Laut Pasang

Gita Pratiwi
WARGA beserta para relawan yang bertugas di posko utama Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, berhamburan usai mendengar teriakan orang-orang yang melihat permukaan air laut semakin tinggi, Selasa 25 Desember 2018.*/KABAR PRIANGAN
WARGA beserta para relawan yang bertugas di posko utama Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, berhamburan usai mendengar teriakan orang-orang yang melihat permukaan air laut semakin tinggi, Selasa 25 Desember 2018.*/KABAR PRIANGAN

PANDEGLANG, (PR).- Trauma masih melanda warga terdampak tsunami di perairan Banten. Tak terkecuali para relawan yang bertugas di posko. Mereka ketakutan dan berhamburan saat melihat air laut pasang.

Warga dan relawan lari berhamburan usai mendengar teriakan orang-orang yang melihat permukaan air laut semakin tinggi.

“Air laut naik, air laut naik. Pak air laut naik,” ujar salah seorang warga yang lari dari arah pesisir pantai Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Selasa 25 Desember 2018.

Ketegangan pun tidak bisa dihindarkan. Seluruh warga dan relawan berusaha menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi.

Sejumlah kendaraan operasional untuk evakuasi warga, terpaksa ditinggalkan karena kepanikan akibat informasi air laut naik tersebut.

Berdasarkan pantauan Kabar Banten, kepanikan yang terjadi selama 15 menit ini sempat membuat kondisi evakusi di Kecamatan Sumur menjadi kacau. Para pimpinan daerah yang sedang berkunjung ke lokasi pun ikut berlarian dengan masyarakat setempat. Seperti Bupati Pandeglang Irna Narulita, Kapolres Pandeglang Indra Lutrianto beserta pejabat lain.

Untungnya, informasi air laut tinggi tidak benar terjadi. Sejumlah relawan beserta para pimpinan daerah kemudian kembali ke posko pengungsian. Relawan pun saling memberikan kabar kepada warga lain yang sempat lari ke arah perbukitan.

16.000 orang lebih mengungsi

Hingga Selasa pukul 13.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data bahwa korban jiwa akibat tsunami di Selat Sunda mencapai 429 orang.

BNPB juga mencatat hingga hari ketiga pascatsunami Selat Sunda, sebanyak 1.485 orang luka-luka, 154 hilang dan 16.082 orang mengungsi akibat tsunami.

Tsunami tersebut berdampak pada lima kabupaten, yaitu Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten, serta Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus di Provinsi Lampung.

Dilansir Antara, penyebab dari tsunami itu sendiri masih menjadi hal yang banyak dikaji. Tsunami itu seakan datang tanpa adanya pertanda apapun, walaupun erupsi Gunung Anak Krakatau bisa dibilang menjadi alasan pemicu logis terdekat.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber dan analisis Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ada analisis awal. Yaitu sebelum kejadian tsunami, letusan Gunung Anak Krakatau terjadi secara terus menerus sejak Juni 2018 dan berfluktuasi, namun tidak ada peningkatan intensitas yang signifikan.

Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau atau "flank collapse", khususnya di sektor selatan dan barat daya. Masih diperlukan data tambahan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang berperan.***

Bagikan: