Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian cerah, 20.8 ° C

Jokowi Heran Disebut Antiulama, PKS Yakin Prabowo Tak Ingin Indonesia Punah

Yusuf Wijanarko
Pilpres 2019.*/DOK. PR
Pilpres 2019.*/DOK. PR

BANGKALAN, (PR).- Joko Widodo, calon presiden petahana heran dia kerap dianggap dan diisukan antiulama padahal pihaknya merasa dekat dengan para ulama.

"Presiden itu antiulama. Lho...lho...lho..., saya itu masuk ke pondok pesantren berapa kali, hari ini dengan ulama," kata Jokowi saat berpidato dalam acara Deklarasi Akbar Ulama Madura Bangkalan, Rabu 19 Desember 2018 di Gedung Serba Guna Rato Ebuh, Bangkalan.

Di hadapan peserta acara yang mengundang sederet ulama Madura itu, Jokowi berupaya menepis berbagai isu yang kerap menerpa dia termasuk soal antiulama.

Jokowi, dalam kunjungannya ke Jawa Timur dalam waktu sehari, berkeliling masuk-keluar pondok pesantren di wilayah Jombang.

Ia menemui pimpinan, pengasuh, dan santri di Pesantren Darul 'Ulum, Pesantren Tebuireng, Pesantren Denanyar, dan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

"Dan yang menerbitkan Keppres Hari Santri tanggal 22 Oktober itu siapa?" tanya Jokowi seperti diberitakan Antara.

Menurut Jokowi, jika dia antiulama, tidak mungkin ia akan dengan gampang menandatangani Keppres tersebut, "Kalau kita anti ulama, tidak mungkin ada Hari Santri," katanya.

Dalam hal memilih calon wakil presiden untuk Pilpres 2019, Jokowi bersama timnya juga memilih sosok dari kalangan ulama.

"Dan juga wakil presiden. Kami memilih saja wakil presiden KH Prof Ma'ruf Amin. Beliau Ketua MUI. Beliau juga Rais Aam di NU. Kok dibalik-balik. Ini kan dibalik-balik namanya. Kalau tidak saya jawab, dibolak-balik lagi," katanya.

Oleh karena itu, Jokowi merasa perlu mengkonfirmasi isu-isu negatif yang beredar tentang dia.

Indonesia punah

Sementara dari Jakarta dilaporkan, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid meyakini calon Prabowo Subianto tidak menginginkan Indonesia punah jika kalah pada Pilpres 2019.

"Beliau pasti menginkan bahwa demokrasi menghadirkan beragam kondisi yang berbeda-beda. Saya tidak yakin bahwa beliau bermaksud mengatakan kalau beliau kalah Indonesia punah," kata Hidayat Nur Wahid di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa 18 Desember 2018.

Dia mengingatkan agar media massa menyimak pidato Prabowo tersebut secara utuh dan jangan memotong pernyataan Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu agar tidak menimbulkan kegaduhan.

Hidayat Nur Wahid meyakini Prabowo menyampaikan kondisi yang perlu diperbaiki dan dikritisi melalui mekanisme pemilu yang lebih baik agar menghasilkan kondisi yang baik.

",Jadi perlu dibaca secara keseluruhan. Karena kalau itu logikanya, ya pastilah beliau tidak berpendapat begitu," ujarnya.

Hidayat Nur Wahid yang merupakan Wakil Ketua MPR itu menilai pernyataan Prabowo merupakan bentuk kritik terhadap sistem dan kondisi yang sedang berjalan di Indonesia, termasuk saat ini menjelang pelaksanaan Pemilu 2019.

Dia menilai Prabowo sebagai seorang demokrat akan menerima apapun hasil Pilpres 2019 selama prosesnya berjalan sesuai dengan mekanisme yang ada.

Sebelumnya, Prabowo, dalam Konferensi Nasional Partai Gerindra pada Senin 17 Desember 2018 menyatakan Indonesia akan punah jika koalisinya tidak mampu memenangi Pilpres 2019.

"Kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah," kata Prabowo saat menyampaikan pidato di acara Konfernas Partai Gerindra yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor. Karena itu, Prabowo meminta agar para pendukungnya tidak boleh kalah di Pemilu 2019.

Prabowo menjelaskan, kepunahan itu bisa terjadi karena sudah terlalu lama para elite berkuasa dengan langkah dan cara yang keliru dan kondisi itu telah menyebabkan tingginya ketimpangan sosial di Indonesia.***

Bagikan: