Pikiran Rakyat
USD Jual 14.373,00 Beli 14.073,00 | Sedikit awan, 22 ° C

Tekan Pengangguran, Pemerintah Perbanyak Balai Latihan Kerja

Satrio Widianto
Ilustrasi.*/ADE BAYU INDRA/PR
Ilustrasi.*/ADE BAYU INDRA/PR

JAKARTA, (PR).- Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta orang atau naik 2,95 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2017. Sedangkan, Tingkat Partsipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat 0,59 persen poin.

Sejalan dengan itu, pemerintah terus berupaya membuka kesempatan kerja seluas-luasnya guna menekan angka pengangguran.

Dalam setahun terakhir, pengangguran berkurang 40 ribu orang, sejalan dengan Tingkat Pengangguran Teebuka (TPT) yang turun menjadi 5,34 persen pada Agustus 2018. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tngkat pendidikan lain, yaitu sebesar 11,24 persen.

Oleh karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) kembali membuka Balai Latihan Kerja (BLK) di  Sidoarjo, Jawa Timur, untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Tak heran kehadiran BLK Sidoarjo ini disambut antusias oleh masyarakat setempat.

Kepala BLK Sidoarjo Iman Agung mengatakan, BLK itu akan dibuka pada 2019 dengan empat bidang keahlian, yaitu Otomotif program pelatihan Tune Up Sepeda Motor konvensional, Pengelasan dengan program pelatihan SMAW 1 G, Garmen Apparel dengan program pelatihan menjahit komponen pakaian, dan Teknologi informasi dengan program pelatihan Practical Office.

"Sasaran pelatihan adalah semua warga yang belum memiliki pekerjaan. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan, para alumni pelatihan dapat membuka usaha sendiri maupun bekerja di perusahaan-perusahaan dan industri sesuai kompetendi yang diperoleh," kata Kepala BLK Sidoarjo, Iman Agung di Sidoarjo, Sabtu, 15 Desember 2018.

Pemerintah menyatakan serius dengan kehadiran BLK itu. Selasa, 14 November 2018 lalu, pihak delegasi China datang berkunjung guna membahas kerjasamai pengembangan BLK sebagai pusat pelatihan berbasis teknologi China. Pihak China ingin masyarakat di Indonesia mempunyai kemampuan dalam mengoperasikan, men-setting, merawat, serta memperbaiki peralatan dan mesin berbasis teknologi China.

Berdasarkan diskusi, China tertarik  mengembangkan teknologi bidang manufaktur, otomotif, telekomunikasi sesuai dengan potensi yang ada. Oleh karena itu peran BLK Sidoarjo sangat diharapkan dalam melatih sumber daya manusia yang ada di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya agar mempunyai kemampuan dalam teknologi berbasis China.

Sementara itu, Apriaman Pulung Kusdarmano, Penyelenggara dan Pemberdayaan BLK Sidoarjo mengungkapkan luas areal BLK itu baru dibangun  6 hektare dari luas tanah 12 hektare. "Rencananya mulai 2 sampai 12 Januari 2019 akan menerima siswa untuk 4 kejuruan IT,  las, garmen dan otomotif masing2 1 kelas 16 siswa. Awal Maret 2018 mulai belajar," ungkapnya.

Apriaman mengatakan untuk instruktur garmen ada 2 orang, IT 1, calon instruktur manufacture 5 dan calon instruktur las 1 "Saat ini tengah dibangun asrama dengan jumlah 14 kamar untuk masing-masing kamar 4 siswa" katanya.

Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri mengaku bangga  karena peralatan yang dimiliki BLK milik Kemnaker tidak kalah dengan peralatan di Training Centre Taoyuan Taiwan. "BLK Kemnaker memiliki peralatan yang bagus-bagus juga, sesuai dengan kebutuhan industri," kata Hanif yang juga mempelajari hal baru yakni pentingnya memperhatikan kondisi psikologis peserta pelatihan untuk keberhasilan pelatihan. Tidak hanya fokus belajar, peserta juga diberi berbagai fasilitas hiburan untuk menyegarkan kembali pikiran mereka usai mengikuti pelatihan di kelas.

Hanif juga kagum dengan program pelatihan Bakery yang menghabiskan waktu 600 jam. "Artinya harus fokus dan mendetail, sehingga semua bidang dari kejuruan tersebut dipelajari dengan baik. Ini hal bagus yang patut kita contoh dan kembangkan di BLK kita," terang Hanif.

Menurut Hanif, saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi dan akan mencapai puncaknya pada 2030. "Bonus demografi memiliki dua pilihan, berkah atau tantangan. Menjadi berkah kalau kualitas SDMnya sesuai dengan perkembangan zaman, menjadi tantangan jika kurang dipersiapkan secara matang menghadapi perubahan zaman," ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM dengan memperbaiki akses dan mutu terhadap pelatihan kerja. "Sekarang siapa saja boleh ikut pelatihan, tidak ada batasan pendidikan dan usia," imbuh Hanif.

Selain itu, pemerintah juga menggalakkan program triple skilling. "Ada skilling untuk mereka yang ingin mempelajari keterampilan baru, upskilling bagi yang ingin meningkatkan kompetensi, dan reskilling bagi yang ingin merubah keterampilan yang sudah dimiliki," ucap Hanif.***

Bagikan: