Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Umumnya cerah, 21.2 ° C

Kerukunan, Aset Indonesia di Tengah Keberagaman

Muhammad Irfan
WARGA melintas di depan mural bertema keberagaman umat beragama di Marunda, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. Mural tersebut sebagai media edukasi kepada masyarakat agar selalu menjaga toleransi dan persatuan bangsa meskipun berbeda suku dan agama.*
WARGA melintas di depan mural bertema keberagaman umat beragama di Marunda, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. Mural tersebut sebagai media edukasi kepada masyarakat agar selalu menjaga toleransi dan persatuan bangsa meskipun berbeda suku dan agama.*

JAKARTA, (PR).- Keragaman yang relatif bisa dijaga dengan baik di Indonesia hendaknya menjadi aset yang terus dipelihara sebagai bagian dari Indonesia yang menginspirasi perdamaian dunia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Jabhat Al-A'lam Islami Lebanon Syekh Zuhair Juaid saat berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, Jumat 7 Desember 2018.

Menurut Syekh Zuhair, NU sebagai salah satu organisasi massa Islam dengan jamaah yang banyak menjadi satu golongan yang berpengaruh dalam menjaga keragaman ini. "Sepengetahuan saya, Indonesia memiliki 270 juta penduduk, dengan banyak keragaman, tapi tetap rukun. Ada konsep tasamuh (berlaku baik, lemah lembut) pada masyarakatnya," kata Syekh Zuhair. Dia megunjungi PBNU untuk menjadi narasumber dalam seminar bertajuk "Peran Umat Islam Indonesia dalam Membangun Peradaban Dunia".

Menurut beliau, jika dilihat dari perspektif Islam, maka konsep ini jelas sejalan dengan perangai Rasulullah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Syekh Zuhair menyebut terminologi rahmat cakupannya luas, tidak hanya terbatas pada saudara seiman saja tetapi juga sesama manusia. "Semuanya masuk kepada rahmatan lil alamin. Dan itu saya lihat ada dalam diri jamiyatul NU," ucap dia.

Ia juga sempat mengungkapkan kekagumannya kepada NU. Pasalnya, tidak ada sebuah organisasi sosial keagamaan di dunia yang pengikutnya mencapai 91 juta seperti yang terjadi pada NU. Dia menilai, apa yang ada pada tubuh NU sama seperti warisan para utusan.

"Rasulullah tidak mewariskan harta dan jabatan kepada umatnya, melainkan ilmu. Kita di sini kumpul bukan karena kiai Sa'id banyak uangnya, tapi karena hati kita memang cinta kepada Nahdlatul Ulama. Maka kemudian kita datang ke sini. Kita ikut kepada Nahdlatul Ulama," ucap dia.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini memaparkan sejarah antara nasionalisme dengan Islam yang sesungguhnya tak perlu diperdebatkan lagi. Menurut dia, nasionalisme di Indonesia masih berada di rel ke-Islam-an karena dirumuskan oleh para Ulama.

"Ada KH Hasyim Asy'ari, Ki Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan. Mereka ini yang ikut merumuskan ide nasionalisme di Indonesia," ucap pria yang akrab disapa Kiai Said ini.

Sementara jika merunut sejarah, nasionalisme di Timur Tengah kerap mendapat pertentangan dari kaum agama karena dibangun oleh ide terlampau Barat seperti kapitalisme, liberalisme, atau sekularisme. Hal ini di antaranya seperti yang terjadi di Turki paska Kekhalifahan Utsmani runtuh.

"Nama Muhammad enggak boleh lagi diganti jadi Mehmet. Rajab, Tayib diganti jadi Recep Teyep, enggak ada Bahasa Arabnya. Ada agen yang menggerogoti khilafah dari dalam. Yakni Mustafa Kemal Ataturk. Khalifah terakhir, Abdul Hamid digulingkan dari tahta singgasana Ustmaniyah, dan diusir ke Jerman. Bubarlah sistem khilafah (yang berdiri) sejak Sayyidina Abu Bakar As Siddiq sampai Abdul Hamid itu," kata dia.

Kiai Said pun merefleksikan kembali sejarah keruntuhan Khilafah Turki Ustmani. Ketika wilayah khilafah yang sangat luas itu mulai merosot, tidak terurus lagi, sehingga membuat Inggris dan Prancis sepakat untuk ‘menjarah’ warisan khilafah yang saat itu sedang sakit. Akhirnya, Prancis mendapat Maroko, Aljazair, Tunis, Suriah, dan Lebanon. Adapun Inggris dapat Mesir, Sudan dan Irak.

Dampak dari penjajahan ini kemudian memunculkan nasionalisme Arab yang diembuskan oleh seorang ideolog bernama Michel Aflaq. Dia membentuk partai Ba'ath yang menggembleng kader-kader militan dari berbagai wilayah seperti Suriah, Irak, Mesir, Yaman, Sudan dan Libya. Jika negara-negara ini muncul dengan corak kiri, maka Amerika Serikat yang saat itu terlibat perang dingin dengan Soviet pun membantu terbentuknya negara-negara monarki di Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, dan Kuwait.

"Dari dua kelompok negara-negara di atas, semuanya bukan ulama. Maka kalau bentrok, ngeri. Zaman Gamal Nasir, ulama besar seperti Sayyid Qutb digantung. Dan masih banyak lagi ulama dibunuh di tangan Nasir. Demikian juga Saddam yang juga tercatat telah membunuh banyak ulama. Sementara di Indonesia, alhamdulillah, KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama-nasionalis, KH. Ahmad Dahlan juga ulama-nasionalis," ucap dia.

Sejak tahun 1914, kata Kiai Said, KH Hasyim Asy'ari sudah punya visi misi, agenda besar, cita-cita besar, berupa sinergi antara ‘ukhuwah islamiyah’ dan ‘ukhuwah wathaniah’ atau semangat keislaman dan semangat kebangsaan.

"Islam saja belum bisa menyatukan umat. Demikian juga nasionalisme saja, tanpa agama yang kosong dari spirit, kering. Harus dua-duanya," ucap dia.

Sementara itu, Ketua LD PBNU, KH Agus Salim sebagai pihak yang menyelenggarakan seminar ini menegaskan bahwa keberadaan agama Islam bukan hanya berbicara tentang akidah dan syariah, melainkan juga peradaban dan kemanusiaan. Menurut Kiai Agus, dalam sejarah Islam, perjuangan Nabi Muhammad dimulai ketika peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah. Perpindahan ini membuatnya berjumpa dengan sebuah masyarakat yang plural, baik agama maupun suku.

"Realitas yang beragam ini, menjadi tonggak Nabi Muhammad dalam mencetuskan Piagam Madinah yang ditujukan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat di Madinah. Inilah awal mula Nabi Muhammad mendirikan negara yang dilandaskan pada asas konstitusi madani, civilization, bukan pada agama,” ucapnya.***

Bagikan: