Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 27.9 ° C

Kapolri: Kelompok Bersenjata Pelaku Penembakan di Papua Dipimpin Egianus Kogoya

Muhammad Ashari
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam konferensi pers terkait insiden penembakan pekerja di Papua, di Istana Merdeka, Rabu 5 Desember 2018.*
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam konferensi pers terkait insiden penembakan pekerja di Papua, di Istana Merdeka, Rabu 5 Desember 2018.*

JAKARTA, (PR).- Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, kelompok terduga  pelaku pembunuhan terhadap 19 pekerja dan 1 anggota TNI di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, sebelumnya sering melakukan gangguan keamanan. Kelompok keamanan bersenjata yang disebutnya dipimpin oleh Egianus Kogoya itu kini tengah diburu oleh anggota TNI/Polri.

Menurut Tito, kekuatan kelompok pimpinan Egianus itu tidak banyak, antara 30 sampai 50 orang. Ia meyakini aparat polisi/TNI yang dikirimkan ke sana bisa kembali mengendalikan situasi.

Menurut Tito, kelompok pimpinan Egianus itu sebelumnya pernah mengganggu keamanan ketika tengah berlangsung pilkada di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga. Kelompok itu melakukan aksi pemerasan kepada pemerintah daerah, kepada pendatang dan masyarakat lainnya.

"Kemudian (saat pilkada) kami kirim pasukan Polri dan TNI. Kenyam, ibukotanya aman. Tapi, kelompok Egianus Sukogoya ini kemudian bergeser, berpindah ke sekitaran Mapenduma, Yigi," ujarnya dalam keterangan pers bersama-sama Presiden Joko Widodo, Menkopolhukam Wiranto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, di Istana Merdeka, Rabu, 5 Desember 2018. 

Tito mengatakan, kelompok pimpinan Egianus ini melihat sasaran pekerja proyek jalan Trans Papua sebagai target yang mudah. Oleh sebab itu, terjadi insiden seperti yang terjadi di Distrik Yigi.

"Ini tanpa belas kasihan mereka bawa dan mereka lakukan pembunuhan. Ini sangat disayangkan karena pekerja-pekerja itu datang untuk membangun. Membantu," katanya. 

Tito mengatakan, insiden yang terjadi di Distrik Yigi itu ada kaitannya dengan peristiwa yang biasanya selalu terjadi setiap tanggal 1 Desember.  Menurut dia, tanggal 1 Desember biasanya selalu diperingati oleh kelompok separatis di sana sebagai hari kemerdekaan Papua. 

"Itu adalah hari penting bagi mereka. Berkaitan dengan pandangan politis mereka sebagai hari ketika Belanda memberikan kemerdekaan kepada kelompok di sana," ujarnya. 

Menurut dia, pada tanggal 1 Desember biasanya kelompok tersebut menunjukkan eksistensinya, mulai dari pengibaran bendera Bintang Kejora sampai ke penyerangan terhadap aparat keamanan. "Kalau aparatnya sulit, ya cari sasaran yang lemah," ujarnya. 

Pada kesempatan itu, Tito juga menyatakan bila informasi sejauh ini mencatat ada 20 korban tewas. Sebanyak 19 orang di antaranya adalah pekerja pembangunan jalan sedangkan 1 orang di antaranya adalah TNI. 

Korban dari TNI ini terjadi satu hari setelah insiden di Distrik Yigi. Anggota TNI itu meninggal setelah terjadi kontak senjata di pos keamanan polisi di Distrik Mbuma.  

"Sebenarnya, pos ini didirikan untuk menjaga para pegawai tadi. Kekuatan (di pos) 21 orang. Ini diserang. Mereka mundur. Tapi, sempat satu orang (anggota TNI) gugur," tuturnya.***

Bagikan: