Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 31.2 ° C

Keluarga Korban Lion Air Gugat Boeing

Abdul Muhaemin
TIM SAR gabungan mengevakuasi turbin pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu, 3 Oktober 2018.*
TIM SAR gabungan mengevakuasi turbin pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu, 3 Oktober 2018.*

KELUARGA dari korban kecelakaan pesawat nahas Lion Air JT 610 telah mengajukan gugatan hukum terhadap perusahan tempat produksi pesawat yang berjenis Boeing tersebut di Chicago, Amerika Serikat. Manuel von Ribbeck dari Ribbeck Law Chartered menyebutkan selain mengajukan gugatan hukum, keluarga korban juga meminta ganti rugi dengan nilai ratusan juta dolar AS.

Manuel menuturkan bahwa keluarga korban Lion Air JT 610 mempunyai hak untuk menggugat dan tidak perlu menunggu laporan akhir dari investigasi, lantaran bisa memakan waktu yang lama hingga bertahun-tahun.

Melansir Antara, terkait keputusan siapa yang berhak bertanggung jawab terhadap kecelakaan ini, Manuel mengatakan bahwa hal tersebut akan ditentukan oleh hakim atau juri di Amerika Serikat. Selain itu, Boeing Max 8 yang relatif baru diproduksi merupakan salah satu pesawat yang dibeli oleh pihak maskapai Lion Air.

"Lion Air hanyalah salah satu dari beberapa maskapai yang telah membeli Boeing Max 8 yang relatif baru," katanya.

Deon Botha, pengacara dari Ribbeck Law Chartered menyatakan bahwa pada 7 November 2018, Federal Aviation Administration (FAA) telah mengeluarkan Pedoman Kelayakan Darurat yang baru untuk Boeing 737 Max yang mengarah bahwa kondisi pesawat ini ditetapkan sebagai “kondisi tidak aman”.

"Pesawat Boeing 737 Max 8 yang baru itu dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat," katanya.

Penyidik telah menemukan fakta bahwa system kontrol penerbangan otomatis baru yang terdapat pada Boeing 737 Max tidak terdapat pada versi 737 sebelumnya. Sistem kontrol penerbangan baru tersebut dapat berguna untuk memperbaiki situasi. Namun kondisi yang dialami Boeing 737 Max 8, sistem mendorong hidung pesawat turun secara tidak terduga dan awak pesawat tidak dapat mengendalikannya.

"Sebenarnya hal itu bisa diatasi kalau sebelumnya awak pesawat benar-benar diinstruksikan dan dilatih untuk menghadapi situasi seperti itu, yakni mengubah sistem secara manual untuk menghindari kecelakaan," tuturnya.

Menurut laporan dari Wall Street Journal, New York Times, dan publikasi lainnya, Boeing telah menahan informasi terbaru tentang potensi bahaya yang terkait dengan sistem control penerbangan baru tersebut.

Ribbeck Law Chartered merupakan firma hukum litigasi global yang berkonsentrasi pada bencana penerbangan di seluruh dunia, telah mewakili klien lebih dari 73 negara dan 47 kecelakaan pesawat.***

Bagikan: