Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian cerah, 23 ° C

Enam Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan

Muhammad Ashari
AHLI waris almarhumah Agung Hajjah Andi Depu memegang tanda jasa dari Presiden Joko Widodo saat penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 8 November 2018. Presiden menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh yaitu Abdurrahman Baswedan dari DI Yogyakarta, Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, Depati Amir dari Bangka Belitung, Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, Pangeran Muhammad Noor dari Kalimantan Selatan dan Brigjen K.H Syam'un dari Banten.*
AHLI waris almarhumah Agung Hajjah Andi Depu memegang tanda jasa dari Presiden Joko Widodo saat penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 8 November 2018. Presiden menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh yaitu Abdurrahman Baswedan dari DI Yogyakarta, Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, Depati Amir dari Bangka Belitung, Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, Pangeran Muhammad Noor dari Kalimantan Selatan dan Brigjen K.H Syam'un dari Banten.*

JAKARTA, (PR).- Enam tokoh dianugerahi gelar pahlawan pada tahun ini. Anugerah gelar pahlawan itu diterima oleh para para ahli warisnya di Istana Negara, Kamis, 8 November 2018.

Keenam tokoh itu yakni (Alm.) Abdurrahman Baswedan, tokoh dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, (Alm.) Agung Hajjah Andi Depu, tokoh dari Provinsi Sulawesi Barat, (Alm.) Depati Amir, tokoh dari Provinsi Bangka Belitung, (Alm.) Mr. Kasman Singodimedjo, tokoh dari Provinsi Jawa Tengah, (Alm.) Ir. H. Pangeran Mohammad Noor, tokoh dari Provinsi Kalimantan Selatan dan (Alm.) Brigjen K.H. Syam'un, tokoh dari Provinsi Banten. 

Presiden Joko Widodo menganugerahkan langsung gelar pahlawan itu kepada para ahli waris dalam seremoni yang dilaksanakan di dalam Istana Negara. Hadir juga dalam acara itu Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Menteri Sosial Agus Gunanjar Kartasasmita, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri PANRB Syafruddin, Menpora Imam Nahrawi, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.  

Kepala Biro Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Laksma TNI Imam Suprayitno mengatakan, Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan telah memberikan pertimbangan pengusulan penganugerahan tanda kehormatan tersebut. Dewan tersebut berpedoman kepada UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan. 

Menurut dia, dalam aturan tersebut yang dimaksud dengan gelar adalah penghargaan negara yang diberikan presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan, pengabdian, darmabakti dan karya luar biasa kepada bangsa dan negara. 

Alasan lebih rinci tentang 6 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan tersebut dimuat dalam buku yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial. Profil masing-masing tokoh dipaparkan secara rinci dalam buku tersebut. 

Abdurrahman Baswedan (1908-1986) dianggap berjasa sebagai pahlawan karena ia dinilai konsisten memperjuangkan integrasi keturunan Arab ke dalam bangsa Indonesia. Perjuangannya dilakukan melalui dunia jurnalistik, dunia kepartaian, dan dalam BPUPKI. 

Agung Hajjah Andi Depu (1908-1985) dinilai sebagai sosok perempuan yang telah memberikan dedikasi serta loyalitas dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia dianggap berjasa mengerahkan dan mengoordinasikan masyarakat untuk melawan kolonial Belanda di Indonesia. 

Depati Amir (1805-1869) diketahui melakukan perlawanan gerilya di Bangka-Belitung selama tahun 1830 sampai tahun 1851. Ia melawan kolonial Belanda dengan faktor penyebab seperti masalah yang berkaitan dengan kehormatan keluarga (ia menuntut tunjangan untuk ayahnya sebesar 600 gulden setahun dibayar oleh pemerintah Hindia-Belanda) dan melawan eksploitasi kolonial atas timah di Bangka-Belitung. 

Mr. Kasman Singodimedjo (1904-1982) dianggap berjasa dalam mempersatukan pandangan di rapat PPKI, 18 Agustus 1945. Ia dianggap bisa menyatukan pandangan kalangan golongan agama dan nasionalis pada rapat tersebut. Selain itu, ia juga dianggap turut berjasa melahirkan TNI. 

Ir. H. Pangeran Mohammad Noor (1901-1979) dianggap berjasa turut mempertahankan keutuhan negara dari serangan kolonial semasa ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1945-1946. Jejak Mohammad Noor dalam perjuangan telah dimulai ketika ia masih bersekolah di THS Bandung pada 1927. Di Bandung itu juga ia berteman dengan Soekarno. 

Brigjen K.H. Syam'un (1894-1949) dianggap berjasa dalam upayanya melawan kolonialisme dengan membangun pesantren. Brigjen juga turut melakukan perjuangan bersenjata dengan bergabung dalam PETA, serta menjadi panglima BKR dan TKR. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merupakan salah satu keturunan dari Abdurrahman Baswedan. Anies juga hadir dalam penganugerahan gelar pahlawan di istana. Menurutnya, proses penganugerahan gelar kepada kakeknya itu telah berlangsung sejak tahun 2010. Saat itu, Pemprov DI Yogyakarta yang mengusulkan kakeknya Anies itu untuk menjadi pahlawan nasional. 

Anies sendiri mengaku ia tinggal bersama kakeknya itu dari ketika dirinya baru lahir sampai bangku SMA. "Saya bersyukur, saya pribadi saya tumbuh besar bersama kakek di rumah sampai saya SMA. Dan pengalaman bersama itu mengesankan luar biasa. Beliau adalah orang yang memang mencintai Indonesia luar biasa, dalam semua pikirannya, langkahnya, tindakannya begitu," ujarnya.***

Bagikan: