Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 20.9 ° C

Pilpres 2019, Klaim Komunikasi Santun dan Permintaan Maaf Prabowo

Yusuf Wijanarko

JAKARTA, (PR).- Calon wakil Ma'ruf Amin menilai pasangan Joko Wdodo-Ma'ruf Amin unggul di Jawa Barat karena gaya komunikasi mereka yang santun dalam menyampaikan visi, misi, dan gagasan.

Ma'ruf Amin mengatakan hal itu menjawab pertanyaan pers di kediamannya di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta, Rabu 7 November 2018, usai kunjungan dan deklarasi dari para kiai dan ulama-se-Jakarta Pusat.

Ma'ruf Amin memberikan tanggapannya ketika ditanya soal hasil survei dari Alvara Research Center yang menyimpulkan pasngan Jokowi- Ma'ruf Amin menang di Jawa Barat dan Banten.

Menurut Ma'ruf Amin, hasil survei itu baru hasil sementara dan menjadi masukan untuk terus ditingkatkan sampai pada pemilu 2019. Hasil survei yang menyimpulkan pasangan Jokowi- Ma'ruf Amin unggul sementara di Jawa Barat dan Banten, menurut dia, adalah karena prestasi Jokowi selama empat tahun periode pertama.

"Banyak capaian prestasi yang diraih sehingga ada kemaslahatan dan manfaat yang dirasakan masyarakat," katanya seperti dilaporkan Antara.

Hasil survei tersebut menyimpulkan, di Jakarta, pasangan Jokowi- Ma'ruf Amin, tingkat elektabilitasnya 55,6 peren sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno 25,4 persen.

Di Jawa Barat, pasangan Jokowi- Ma'ruf Amin, tingkat elektabilitasnya 47,7 persen sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga 34,4 persen.

Di Banten, pasangan Jokowi- Ma'ruf Amin elektabilitasnya 56,0 persen sedangkan Prabowo-Sandiaga 28,7 persen.

Prabowo tulus sampaikan maaf



Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tulus menyampaikan permintaan maaf terkait pernyataan "tampang Boyolali" yang disampaikannya di hadapan masyarakat Boyolali.

"Apa yang dilakukan Prabowo, menyampaikan maaf, adalah sesuatu yang tulus," kata Muzani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu 7 November 2018 seperti diberitakan Antara.

Muzani mengatakan, pernyataan Prabowo terkait "tampang Boyolali" ingin menggambarkan bagaimana perkembangan pembangunan hotel yang semakin pesat, tetapi tidak dimiliki dan dinikmati masyarakat.

Pernyataan itu, menurut dia, dilontarkan sebagai bentuk penguatan dari kondisi tersebut yang disampaikan dengan gaya pidatonya bahwa apakah kalian pernah tinggal di hotel itu ataupun tidak.

"Itu pengandaian bahwa ada keterasingan antara kemajuan hotel dan gedung-gedung tinggi dengan tingkat kemiskinan. Jadi, maksudnya bahwa kemajuan tidak boleh mengasingkan dari masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, masyarakat harus menjadi bagian dari kemajuan dan kalau bisa menjadi bagian dari kepemilikan sehingga tidak ada maksud melecehkan dan merendahkan.

Dia menilai tidak mungkin Prabowo jauh-jauh datang ke Boyolali untuk merendahkan masyarakat.

"Kalau bagian itu yang dipotong dalam kampanye terus di-viral-kan seolah-olah merendahkan masyarakat Boyolali, itu bagian dari kampanye untuk mengalihkan perhatian Prabowo terhadap memberdayakan masyarakat dengan sebuah isu yang dipelintir," katanya.

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya terkait "tampang Boyolali" yang terlontarkannya dalam pidato kampanyenya di Boyolali, Jawa Tengah. Permintaan maaf ini disampaikannya dalam video berdurasi 2,44 menit.

Pada awal video, Prabowo menyatakan alasannya telah melontarkan candaan yang membuat publik bereaksi dan maksudnya tidak negatif. Karena itu, di akhir video tersebut Prabowo menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

"Maksud saya tidak negatif tapi kalau tersinggung, saya minta maaf. Maksud saya tidak seperti itu," ujar Prabowo.***

Bagikan: