Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Teknologi Roket Indonesia Tertinggal Jauh

Yusuf Wijanarko
MAHASISWA Universitas Telkom menyiapkan perlengkapan sebelum peluncuran roket dalam Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia serta Kompetisi Muatan Balon Atmosfer di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jumat 26 Agustus 2016. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan menyelenggarakan acara tahunan terkait penerbangan dan antariksa untuk menarik minat wisatawan berwisata ilmiah ke Pameungpeuk.*
MAHASISWA Universitas Telkom menyiapkan perlengkapan sebelum peluncuran roket dalam Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia serta Kompetisi Muatan Balon Atmosfer di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jumat 26 Agustus 2016. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan menyelenggarakan acara tahunan terkait penerbangan dan antariksa untuk menarik minat wisatawan berwisata ilmiah ke Pameungpeuk.*

YOGYAKARTA, (PR).- Pemerintah Indonesia memiliki harapan bahwa 20 tahun mendatang dapat membangun bandar antariksa dan roket yang mampu meluncur ke ruang angkasa untuk kepentingan bangsa.

"Harapan itu tersirat dalam rencana induk keantariksaan yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 yang berlaku sampai 2040," kata Sekretaris Utama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Erna Sri Adiningsih di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa 30 Oktober 2018.

Dalam acara bertajuk "Workshop Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo) dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) 2018" itu, ia mengakui perkembangan teknologi roket di Indonesia masih lambat dibandingkan negara berkembang lainnya. Indonesia masih bergantung apda teknologi yang berasal dari luar negeri.

"Coba kita lihat, perjalanan teknologi roket di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1960-an hingga sekarang. Dalam kurun waktu lima dasawarsa, soal kemajuan roket, jika dibandingkan negara berkembang lain seperti India, Indonesia masih tertinggal," katanya seperti diberitakan Antara.

Padahal, menurut dia, waktu yang digunakan India untuk memulai penelitian teknologi roket tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan campur tangan berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung perkembangan roket agar dapat menyusul negara lain.

"Saya berharap masyarakat Indonesia tidak hanya bertumpu kepada Lapan untuk urusan pengembangan roket, melainkan juga ada pihak-pihak dari industri di Indonesia yang membantu perkembangan keantariksaan," katanya.

Komurindo-Kombat



Selain itu, kata dia, ide-ide segar dari anak-anak muda Indonesia sangat diharapkan untuk membantu tumbuh kembang teknologi roket di Tanah Air. Untuk itu, Lapan mengadakan kompetisi roket dan balon udara secara rutin sejak 2007 untuk seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia dan setiap tahun ditingkatkan kualitasnya.

"Dengan adanya Komurindo-Kombat, diharapkan mampu menarik minat mahasiswa menuangkan ide dan kreasi serta melakukan penelitian terhadap teknologi roket dan muatan," kata Erna.

Menurut dia, ajang Komurindo-Kombat kali ini memiliki perbedaan dengan kompetisi sebelumnya, karena diadakan dua tahun sekali, terhitung sejak 31 Januari 2018 untuk mengumpulkan proposal penelitian yang akan mengikuti dua tahap seleksi.

Proposal yang sudah lolos seleksi tahap 2 akan mengikuti perlombaan peluncuran roket pada 21-25 Agustus 2019 di daerah Pameumpeuk, Garut. Kompetisi ini diikuti 276 orang yang terbagi menjadi tiga kategori yakni Kategori Muatan Balon Atmosfer, Kategori Muatan Roket, dan Kategori Wahana Sistem Kendali.

Semetara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Alumni dan AIK UMY Hilman Latief mengatakan seluruh peserta "Workshop Komurindo-Kombat 2018" diharapkan dapat mengambil pelajaran secara langsung dari para ahli roket dan keantariksaan.

"Kami berharap seluruh peserta dapat menggali informasi dan pengetahuan perihal antariksa dari para ahli yang nanti dapat diterapkan pada alat buatan para peserta “Workshop Komurindo-Kombat 2018," katanya.***

Bagikan: