Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Perihal Nuklir, Indonesia Masih Tertinggal di Asia

Dhita Seftiawan
PETUGAS Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengamati kondisi Reaktor TRIGA 2000 di ruang Operator Reaktor Nuklir Kantor BATAN, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Jumat 7 September 2018. Reaktor pertama yang dimiliki Indonesia berkapasitas 2 MW tersebut diperuntukan memberikan pelayanan bagi masyarakat dalam memproduksi radioisotop dan melakukan Analisis Aktivasi Neutron (AAN) yang bermanfaat dalam pengujian sampel makanan maupun lingkungan.*
PETUGAS Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengamati kondisi Reaktor TRIGA 2000 di ruang Operator Reaktor Nuklir Kantor BATAN, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Jumat 7 September 2018. Reaktor pertama yang dimiliki Indonesia berkapasitas 2 MW tersebut diperuntukan memberikan pelayanan bagi masyarakat dalam memproduksi radioisotop dan melakukan Analisis Aktivasi Neutron (AAN) yang bermanfaat dalam pengujian sampel makanan maupun lingkungan.*

JAKARATA, (PR).- Indonesia masih tertinggal dari negara-negara besar di Asia dalam hal pemanfaatan tenaga nuklir. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar masyarakat dan bahkan pengambil kebijakan belum sepenuhnya yakin bahwa nuklir bisa dioptimalkan dengan aman. Indonesia masih kalah dari Bangladesh yang mulai serius memanfaatkan nuklir.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Wisnubroto menjelaskan, pemanfaatan tenaga nuklir selama ini baru pada tahap menghasilkan produk-produk bidang pangan dan kesehatan. Belum pada sektor yang lebih besar seperti pembangkit listrik tenaga nuklir. Padahal, sumber daya manusia Indonesia yang kompeten di bidang tersebut sudah banyak.

Indonesia juga sudah memiliki beberapa reaktor nuklir sejak 1960 yang dibangun di Pulau Jawa. Kendati demikian, pemanfaatannya belum maksimal dan masif karena masih terbentur kondisi sosial di masyarakat.

“Nuklir baru dimanfaatkan untuk menghasilkan tanaman padi, kedelai dan terigu varietas unggul, prototipe radioisotop dan radiofarmaka untuk dagnosis dan terapi, serta perangkat diagnosis fungsi ginjal dan thyroid terpadu. Produk dari Batan tersebut sudah disebarluaskan kepada masyarakat,” ujar Djarot di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu 31 Oktober 2018.

Edukasi masyarakat



Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto menyebutkan, pemerintah perlu mengedukasi masyarakat terlebih dahulu jika ingin memanfaatkan nuklir dengan maksimal. Sebagai badan pengawsan tenaga nuklir, ia menjamin segala aktivitas nuklir di Indonesia aman, baik dari sisi teknologi maupun kesiapan sumber daya manusianya. “Masyarakat Indonesia perlu diedukasi bahwa nuklir aman digunakan selama ada pengawasan dari badan yang berwenang,” ujarnya.  

Dalam sosialisasi pencapaian pengembangan ilmu pengetahuan, riset, teknologi dan inovasi bagi bangsa Indonesia, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menegaskan pemanfaatan nuklir sangat strategis. Menurut dia, pengembangan nuklir masuk dalam program prioritas rencana induk riset nasional (RIRN).

“Dalam RIRN yang telah di petakan sejak tahun 2015, dan secara resmi dilegalkan pada Maret 2018, ada sepuluh bidang yang menjadi perhatian pemerintah. Nuklir bisa dimanfaatkan untuk berbagai bidang. Aplikasi teknologi menjadi sangat penting agar manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat ,” ucap Nasir.

Ia mengatakan, selama puluhan tahun Indonesia belum memiliki cetak biru pengembangan riset nasional. RIRN menjadi penting untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang Indonesia. Pasalnya, pembangunan nasional membutuhkan perencanaan dari setiap bidang untuk mengintegrasikan langkah-langkah yang terpadu dan terintegrasi.

“Di bidang pangan, Batan berhasil menciptakan varietas padi yang mampu meningkatkan produksi 35,5%.  Juga ada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi hasil inovasi dari BPPT dan Reaktor Daya Eksperimental inovasi dari Batan. Untuk memastikan keamanan penggunaan tenaga nuklir, Indonesia memiliki Bapeten, inovasi Reaktor Daya Eksperimental Batan telah mendapatkan izin keamanan dari Bapeten,” ucapnya.

Kepala Badan Standarisasi Nasonal (BSN) Bambang Prasetya menambahkan, segala hal yang dipasarkan ke masyarakat sudah melalui proses standaridisasi dari BSN. Ia mengungkapkan, standar merupakan kunci daya saing bangsa di tingkat global. “SNI dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen dan masyarakat bahwa produk yang dipilih sesuai dan layak dipakai, juga aman, nyaman, dan berkualitas,” ujarnya.***

Tags
Bagikan: