Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 24.4 ° C

Daftar Panjang Kecelakaan Pesawat di Indonesia dalam 14 Tahun Terakhir

Tim Pikiran Rakyat
PENUMPANG menjauhi pesawat Boeing 737-487 milik Garuda Indonesia yang ­terbakar setelah ­terperosok ketika melakukan pendaratan di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, 7 Maret 2007. Jumlah ­korban tewas 22 orang, terdiri atas 21 pe­num­pang dan 1 awak pesawat.*
PENUMPANG menjauhi pesawat Boeing 737-487 milik Garuda Indonesia yang ­terbakar setelah ­terperosok ketika melakukan pendaratan di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, 7 Maret 2007. Jumlah ­korban tewas 22 orang, terdiri atas 21 pe­num­pang dan 1 awak pesawat.*

SAAT peringkat keselamatan penerbangan Indo­nesia melesat naik menjadi posisi ke-55 (tahun 2017) dari posisi ke-151 (2014), tragedi kecelakaan pesawat yang mene­lan banyak korban justru kembali terjadi.

Senin 29 Oktober 2018, terjadi peristiwa yang memilukan saat pesawat Lion Air JT 610 yang mengangkut 189 orang terjatuh di Tanjungpakis, Karawang.

Peristiwa kecelakaan pesawat itu bukan yang pertama kalinya terjadi di Indonesia. Sejak tahun 2004, terhitung ada 9 kecelakaan pesawat yang menelan korban jiwa. Total 559 orang meninggal dunia, belum termasuk 189 orang penumpang dan kru Lion Air JT 610 yang masih dalam proses evakuasi. Dari 9 peristiwa kecelakaan ini, 8 di antaranya merupakan pesawat komersial.

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT selalu melakukan investigasi mendalam setelah kejadian. Mereka ber­koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari maskapai, produsen pesawat, hingga pihak lain yang terkait untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan. Proses investigasi itu memakan waktu yang tak sebentar. 

Selama ini publik hanya digegerkan pada saat insiden kecelaka­an pesawat itu terjadi. Sementara laporan lengkap dari KNKT terkait kecelakaan pesawat itu—yang biasanya dirilis beberapa tahun setelah insiden—tak pernah terekspose dengan lengkap.

Laporan di bawah ini merupakan hasil investigasi resmi yang ­dilakukan KNKT pada rentang 2004-2015. Kesimpulan dari setiap peristiwa berbeda. Beberapa bahkan berbeda antara kesimpulan dan hipotesis awal.

Meski demikian, penyebab kecelakaan ternyata didominasi oleh faktor kerusakan pesawat. Sementara sisanya di­pengaruhi oleh faktor ­kesalahan manusia.

30 November 2004, Lion Air JT538



Pesawat maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT-538 dengan rute Jakarta-Surabaya tergelincir saat hendak mendarat di Bandara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Akibatnya, 26 orang tewas, 55 orang luka berat, dan 63 orang luka ringan.

Kronologi:

Pukul 17.00: Pesawat jenis McDonnell Douglas MD-82 yang mengangkut 146 penumpang itu lepas landas dari Jakarta kemudian transit di Solo.

Pukul 18.15: Pesawat mendarat di Bandara Juanda Sura­baya, namun menurut penuturan penumpang, saat itu pesawat terasa seperti tidak dapat dihentikan dan akhirnya keluar landasan dan masuk ke sawah sebelum akhirnya berhenti di kawasan pema­kaman umum.

Penyebab

Investigasi dilakukan KNKT dengan mengecek kondisi pesawat, landasan, dan data dari kotak hitam. Berdasarkan hasil investigasi KNKT, penyebab kecelakaan pesawat itu lantaran fungsi sistem pendaratan pesawat yang tidak optimal ditambah cuaca buruk.

Saat pendaratan, ada pusaran angin di belakang pesawat. Fungsi penahan laju pesawat juga tidak bekerja dengan baik ketika pendaratan berlangsung.

Dari hasil ivestigasi ini, KNKT merekomendasikan untuk mengulas prosedur pengoperasian pesawat pada saat mendarat dalam kondisi hujan, mengevaluasi pengawasan maintenance, dan mengevaluasi kelayakan pesawat MD-82.

5 September 2005, Mandala Airlines RI 091



Pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines dengan nomor penerbangan RI-091, jatuh di kawasan Padang Bulan, Medan, pada 5 September 2005. Kecelakaan pada pesawat yang mengangkut 117 orang itu terjadi ketika pesawat sedang lepas landas dari Bandara Polonia Medan.

Penumpang yang tewas berjumlah 102 orang, ­termasuk Gubernur Sumatra Utara waktu itu Tengku Rizal Nurdin dan dua anggota DPD Sumut Raja Inal Siregar serta Abdul Halim Harahap. Sebanyak 47 warga di sekitar jatuhnya pesawat ­turut menjadi korban. Ada sedikitnya 17 penumpang pesawat yang dilaporkan ­selamat.

Kronologi:

Pukul 9.40: Pesawat jurusan Medan-Jakarta itu lepas ­landas. Posisi pesawat tidak dalam posisi yang sempurna, lalu menabrak tiang listrik sebelum akhirnya jatuh ke jalan dan menimpa rumah-rumah warga yang terletak sekira 100 meter dari Bandara Polonia.

Pesawat yang baru saja lepas landas, tiba-tiba oleng ke kiri kemudian terlihat api menjalar. Lima rumah warga tertimpa badan pesawat.

Setelah jatuh, pesawat meledak beberapa kali dan terbakar ­sehingga hancur hampir sepenuhnya, menyisakan ekor pesawat bertuliskan PK-RIM.

Penyebab:

KNKT dengan tim investigasi National Transportation Safety Board dari Amerika Serikat menemukan bahwa terdapat keru­sak­an yang menyebabkan salah satu mesin pesawat tersebut tidak bertenaga.

Namun, masih diselidiki apakah kondisi itu sudah ada sebelum atau sesudah pesawat jatuh dan meledak. Ada juga kesalahan pilot dalam mengatur flap dan slat atau alat penambah daya angkat pesawat saat lepas landas yang tidak turun, juga prosedur check list peralatan yang tidak sesuai persyaratan.

Beberapa hari setelah kejadian, muncul laporan yang menyebut­kan bahwa pesawat tersebut membawa kargo berupa durian yang berbobot 2 ton, sehingga hampir mencapai batas berat maksimum yang mampu diangkut pesawat.

7 Maret 2007, Garuda Indonesia GA-200



Pesawat Boeing 737-4B7 milik Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Yogyakarta meledak akibat terperosok ketika melakukan pendaratan pada 7 Maret 2007 di Bandara Adi­sutjipto, Yogyakarta. Muncul api yang dipicu dari meledaknya ban depan saat mendarat, sehingga menjalar ke badan pesawat.

Dilaporkan bahwa badan pesawat terbelah memanjang dari bagian kabin hingga ekor pesawat, sedangkan salah satu sayap pesawat pecah dan terbelah.

Pesawat itu membawa 133 penumpang, 1 pilot, 1 kopilot, dan 5 awak kabin. Jumlah korban tewas sebanyak 22 orang, terdiri atas 21 penumpang dan 1 awak pesawat.

Kronologi:

Pukul 6.00: Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten.

Pukul 7.05: Pesawat tiba di Bandara Adisutjipto Yogyakarta dan mengalami terperosok saat melakukan pendaratan.

Penyebab:

Bukti dari kotak hitam yang dibawa ke Seattle AS untuk diteliti, menunjukkan bahwa flap sayap pesawat tidak dikembangkan untuk pendaratan. Penyelidikan yang dilakukan KNKT menyebutkan bahwa pesawat berada pada kecepatan 60 persen lebih tinggi dari seharusnya.

Pilot Marwoto Komar dilaporkan tidak menghiraukan alarm tanda bahaya pesawat yang berbunyi 15 kali. Pada April 2009, oleh Pengadilan Negeri Sleman, Marwoto Komar dinyatakan bersalah dan menjadi pilot pertama yang dijatuhi vonis pengadilan. Komar divonis 2 tahun penjara.

1 Januari 2007, Adam Air KI-574



Pesawat jenis Boeing B737-4Q8 milik Maskapai Adam Air nomor penerbangan KI-574 dengan rute Surabaya-Manado, jatuh di per­airan Kalimantan. Kotak hitam ditemukan di kedalaman 2.000 meter pada 28 Agustus 2007. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 hilang dan dianggap tewas.

Kronologi:

Pukul 12.55: Pesawat Adam Air nomor penerbangan KI-574 lepas landas dengan rute Surabaya-Manado

Pukul 14.53 Wita: pesawat putus kontak dengan pengatur lalu lintas udara (ATC) Bandara Hasanuddin Makassar. Pada kontak terakhir, posisi pesawat berada pada jarak 85 mil laut barat laut Kota Makassar pada ketinggian 35.000 kaki.

Penyebab:

KNKT merilis hasil investigasi kecelakaan pesawat Adam Air KI-574 pada 25 Maret 2018. Awalnya, alat navigasi pesawat atau yang dikenal dengan Internal Reference System (IRS) rusak. Kedua pilot terkonsentrasi memperbaiki kerusakan dan lupa memperhatikan ins­trumen lain. Mereka tidak menyadari pesawat miring dan turun mendekati laut. Mereka baru sadar dua menit sebelum pesawat pecah menabrak laut.

Hasil rekaman Digital Flight Data Recorder (DFDR) menunjuk­kan bahwa mulanya pesawat telah terbang dengan bantuan instrumen kemudi otomatis. Namun, penanganan terhadap IRS yang dilakukan tidak sesuai dengan panduan, sehingga kemudi otomatis pesawat menjadi tidak berfungsi. Pesawat pun mulai miring.

Setelah pesawat miring ke kanan melewati 35 derajat, alarm berbunyi. Pesawat terus miring hingga 100 derajat dan situasi sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

2 Agustus 2009, Merpati Nusantara Airlines 9760D



Pesawat berjenis DHC 6 Twin Otter milik Maskapai Merpati ­Nusantara Airlines dengan nomor penerbangan 9760 adalah pener­bangan komersial antara Jayapura menuju Oksibil.

Pada 2 Agustus 2009, pesawat hilang dari rute yang seharusnya dilalui kemudian serpihan pesawat ditemukan beberapa mil dari Oksibil dua hari ­kemudian. sebanyak 13 penumpang dan 3 kru pesawat tewas dalam kecelakaan.

Kronologi:

Pukul 10.15 WIT: Pesawat deng­an nomor penerbangan 9760D lepas landas engan estimasi akan tiba di Oksibil pada pukul 11.05.

Pukul 10.28 WIT: Pesawat dinyatakan hilang dan setelahnya diketahui mengalami kecelakaan pada sisi ­gunung.

Penyebab:

Merpati Nusantara Airlines menyatakan tidak sepenuhnya ­be­kerja sama dengan KNKT. Akan tetapi, menurut KNKT, kecelakaan pesawat kemungkinan disebabkan oleh kesalahan manusia atau human error.

7 Mei 2011, Merpati 8968



Pesawat jenis Xian MA60 milik Merpati Nusantara Airlines ­dengan nomor registrasi PK-MZK, mengalami kecelakaan di laut, dekat Bandara Utarom, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Pesawat itu jatuh dari ketinggian 15.000 kaki, sekira 400 meter sebelum landasan 19 bandara tersebut. Sebanyak 25 orang dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu.

Kronologi:

Pukul 12.40 WIT: Pesawat lepas landas dari Bandar Udara Domine Eduard Osok, Kota Sorong.

Pukul 14.05 WIT: Hendak mendarat di Bandar Udara Utarom, Kabupaten Kaimana. Saat akan mendarat, Kota Kaimana sedang hujan deras, sehingga pesawat memutuskan berputar-putar di udara selama 15 menit sebelum mencoba kembali mendarat. Pesawat jatuh di sekitar 400 meter sebelum landasan, setelah sebelumnya kehilangan keseimbang­an. Pesawat kemudian terbelah dua dan tenggelam di Teluk Kaimana.

Penyebab:

KNKT mengeluarkan laporan bahwa kesalahan pilot adalah kon­tributor terbesar dalam kecelakaan itu. Pilot membatalkan pendaratan dan membelokkan pesawat ke arah kiri secara tajam dengan kemiringan yang sangat tinggi, yaitu 38 derajat.

Kejadian itu juga diikuti dengan ketidakpatuhan pilot untuk meng­ikuti prosedur normal dalam menarik sirip sayap atau flap. Hal itu menyebabkan pesawat kehilangan ketinggian secara cepat.

9 Mei 2012, Sukhoi Superjet 100



Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia hilang kontak dan jatuh di ­Gunung Salak, Bogor, saat sedang melakukan uji coba terbang (joy flight). Pesawat membawa 38 penumpang dan 8 awak. Pesawat lepas landas (take-off) dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Seluruh penumpang tewas.

Kronologi:

Pukul 14.00: Pesawat Superjet 100 lepas landas dari ­Lapangan Udara Halim Perdanakusuma menuju Palabuhanratu untuk melakukan joy flight. Pesawat kembali ke Bandara Halim Perdanakusumah dengan selamat.

Pukul 14.12: Pesawat Superjet 100 lepas landas kembali ­untuk joy flight yang kedua.

Pukul 14.33: Pilot meminta izin untuk turun dari 10.000 ­kaki ke 6.000 kaki. Pesawat secara tiba-tiba hilang kontak ­dengan menara pengawas pada koordinat 06° 43' 08” Lintang Selatan dan 106° 43' 15” Bujur Timur.

Penyebab:

Hasil investigasi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di­umumkan oleh KNKT pada 18 Desember 2012. Kesimpulannya, Ketua KNKT Tatang Kurniadi menilai kecelakaan ini disebabkan oleh kelalaian pilot.

Pertama, peta pada pesawat SSJ 100 tidak memuat informasi mengenai area yang dilintasi. Kondisi pilot yang tak menguasai medan dan kontur pegunungan Salak semakin diperparah dengan kondisi langit yang pada saat kejadian sangat tebal sehingga mempersempit jarak pandang.

Kedua, dalam penerbangan tersebut, Pilot In Command (PIC) Aleksandr Yablontsev (57) bertugas sebagai pilot yang mengemudi­kan pesawat dan Second In Command (SIC) bertugas sebagai pilot monitoring. Di kokpit terdapat seorang wakil dari calon pembeli yang menempati tempat duduk observer (jump seat). Kehadiran wakil dari calon pembeli inilah yang diduga kuat membuat hilang­nya konsentrasi pilot dalam mengemudikan pesawatnya. Pasalnya, berdasarkan rekaman di menit-menit akhir, Yablonstev banyak melakukan komunikasi di luar konteks penerbangannya.

28 Desember 2014, Air Asia QZ8501



Pada 28 Desember 2014, penerbangan AirAsia Indonesia QZ8501 rute Surabaya-Singapura hilang kontak setelah sekitar 50 menit lepas landas dari Bandara Juanda Surabaya.

Pesawat tipe Airbus A320 dengan registrasi PK-AXC tersebut meng­ang­kut 155 penumpang dan 7 kru. Badan pesawat ditemukan ­pada 14 Januari 2015. Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpang dan kru.

Kronologi:

Pukul 5.35: Pesawat lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Changi Airport, Singapura. Pesawat terbang ­dengan ­ketinggian 32.000 kaki.

Pukul 6.01: Pilot mendeteksi adanya gangguan dari tanda peringatan. Gangguan tersebut terjadi pada sistem rudder travel limiter (RTL) yang terletak di bagian ekor pesawat.

Pukul 6.09: Gangguan yang sama muncul sehingga pilot melakukan tindakan sesuai prosedur.

Pukul 6.15: Gangguan pada RTLU untuk keempat kalinya muncul. Terdapat indikasi yang berbeda dibandingkan dengan tiga gangguan pertama. Seluruhnya tercatat oleh Flight Data Recorder.

Pukul 6.18: Pesawat hilang kontak saat berada di airway M635.

Penyebab:

Hasil investigasi KNKT menemukan sejumlah faktor yang ber­kontribusi pada kecelakaan pesawat nahas itu. Pertama, retakan solder pada electronic module di Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) menyebabkan hubungan yang berselang dan berakibat ­pada masalah yang bekelanjutan dan berulang.

Kedua, sistem perawatan pesawat dan analisis di perusahaan yang belum optimal mengakibatkan tidak terselesaikannya masa­lah menjadi berulang. Karena kejadian yang sama terjadi sebanyak 4 kali dalam penerbangan

Ketiga, awak pesawat melaksanakan prosedur sesuai Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM) pada 3 gangguan awal. Namun setelah gangguan keempat, FDR mencatat indikasi yang berbeda. Indikasi ini serupa dengan kondisi di mana Circuit Breaker (CB) di-reset sehingga berakibat terjadinya pemutusan arus listrik pada Flight Auqmentation Computer (FAC).

Keempat, terputusnya arus listrik FAC menyebabkan auto-­pilot disengage, flight control logic berubah dari normal law ke alternate law, dan rudder bergerak 2 derajat ke kiri. Kondisi ini meng­akibatkan pesawat berguling mencapai sudut 54 derajat.

Kelima, pengendalian pesawat yang selanjutnya secara ­manual pada alternate law telah menempatkan pesawat dalam kondisi upset dan stall secara berkepanjangan sehingga ber­ada di luar batas-batas penerbangan yang dapat dikendalikan oleh awak pesawat.

30 Juni 2015, Hercules C-130



Pesawat jenis Lockheed C-130 Hercules milik TNI AU dengan nomor A-1310 jatuh, Selasa, 30 Juni 2015. Kejadian berlangsung hanya dua menit setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo di Padang Bulan, Kota Medan. Sebelum jatuh dilaporkan bahwa pilot pesawat tersebut sempat meminta izin untuk kembali ke pangkalan.

Pesawat hendak menuju Kepulauan Natuna dalam menjalankan misi pengiriman logistik dari Penerbangan Angkutan Udara Militer. Pesawat Hercules C-130 itu membawa 101 penumpang dan 12 kru yang merupakan prajurit TNI serta keluarganya. Semuanya dinyatakan meninggal, termasuk korban 22 orang di darat.

Kronologi:

Pukul 11.48: Pesawat Hercules C-130 tinggal landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Medan.

Pukul 11.50: Pesawat belum terbang tinggi, mesin di bagian kanan pesawat mati dan pesawat jatuh dengan posisi terbalik.

Penyebab:

Hasil investigasi menyebutkan kemungkinan mesin sebelah kanan pesawat mati, setelah take off dari Lanud Soewondo, kemudian jatuh. Pilot sempat meminta kembali ke Lanud  ­Soewondo, ­sebab ada masalah di pesawat. Sebelum sempat balik ke Lanud Soewondo, pesawat itu jatuh dengan posisi ­terbalik.

Pesawat Hercules C-130 itu menabrak antena di atas bangunan sekolah yang berada dekat dengan titik jatuhnya pesawat.***

Bagikan: