Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Mengembalikan Taji Sastra Berbahasa Ibu

Muhammad Irfan
SEJUMLAH pembicara dalam Anugerah Sastera Rancagé 2018 yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 26 September 2018. Tampak ada Ketua dewan pembina Yayasan Rancagé yang juga sastrawan senior Ajip Rosidi (ujung kanan) akademisi UPI, Safrina Noorman (sebelah Ajip), sastrawan Seno Gumira Ajidarma (empat dari kanan), dan Prof. Dadang Sunendar dari Balai Bahasa (ujung kiri).*
SEJUMLAH pembicara dalam Anugerah Sastera Rancagé 2018 yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 26 September 2018. Tampak ada Ketua dewan pembina Yayasan Rancagé yang juga sastrawan senior Ajip Rosidi (ujung kanan) akademisi UPI, Safrina Noorman (sebelah Ajip), sastrawan Seno Gumira Ajidarma (empat dari kanan), dan Prof. Dadang Sunendar dari Balai Bahasa (ujung kiri).*

PENGGUNAAN bahasa ibu dalam karya sastra modern boleh jadi tak lagi sepopuler dulu. Akan tetapi, keberadaannya bukan berarti telah tiada. 

Sastra berbahasa ibu tetap ada dan tegak berdiri memperjuangkan eksistensinya di tengah hiruk pikuk globalisasi saat ini. Yayasan Rancagé secara konsisten ikut memperjuangkan salah satu kekayaan bangsa tersebut.

Tiga puluh tahun sudah Yayasan Rancagé yang dirintis oleh Ajip Rosidi ikut bergerilya mempertahankan taji sastra berbahasa ibu. Tidak hanya Sunda, perjuangan yang diimplementasikan lewat penghargaan tahunan terbaiknya bernama Anugerah Sastera Rancagé ini juga mendukung sastra berbahasa Jawa dan Bali.

Bahkan, sejak tahun 2017, Rancagé dianugerah­kan pula terhadap karya-karya sastra berbahasa Lampung, Batak, dan Banjar.

Dalam Anugerah Sastera Rancagé 2018 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 26 September 2018, kategori Sastra Sunda dimenangi oleh penulis muda asal Tasikmalaya, Nunu Nazarudin Azhar, untuk karya kumpulan sajak berjudul Miang. Sementara, untuk kategori Sastra Jawa dimenangi oleh Suharmono K yang pernah dua kali menyabet penghargaan ini.

Pemenang untuk kategori Sastra Bali ialah Nirguna. Sementara, kategori Sastra Lampung dimenangi Muhammad Harya Ramdhoni Julzaryah, Sastra Batak oleh Panusunan Simanjuntak, dan Sastra Banjar disabet Hatmiati Masy’ud.

Selain Anugerah Sastera Rancagé, penghargaan tahun ini juga diberikan kepada Tetti Hodijah dengan karyanya Ulin di Monumén. Karya ini diganjar Hadiah Sastra Samsudi 2018—yang dimulai Rancagé sejak 1993—sebagai penghormatan untuk penulis buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda, Samsudi (Bandung, 1899-1987).

Wakil Sekretaris Rancagé Dadan Sutisna mengungkapkan, seperti sebelumnya, penilaian untuk anugerah tahun ini juga dilakukan untuk karya-karya yang sudah terbit satu tahun sebelum penganugerahan diberikan. Prosesnya, para penulis mengumpulkan karya untuk kemudian dinilai oleh juri yang berasal dari dae­rah bahasa-bahasa ibu itu berada.

Untuk sastra Sunda, penilaian dilakukan oleh Teddi Muhtadin dan Hawe Setiawan, sastra Jawa oleh Sriwidati Pradopo, dan sastra Bali oleh Darma Putra. Sementara, untuk sastra Lampung dinilai oleh Kahfie Nazarudin, sastra Batak oleh Parakitri T Simbolon, dan sastra Banjar dinilai oleh Jamal T Suryanata.

”Rancagé memang bekerja sama dengan tokoh di daerah tersebut yang paham akan kebudayaan, sastra, sebagai juri. Idealnya, setiap kategori memang dinilai oleh tiga orang juri. Berhubung ada keterbatasan dalam beberapa hal, kali ini masih satu juri, tetapi ke depan lebih objektif dengan tiga juri,” kata Dadan.

Syarat ISBN



Pada dasarnya, yang menjadi penilaian adalah kemampuan berbahasa si penulis. Sementara, penilaian lain berhubungan dengan kriteria penulisan sastra secara umum, seperti ide dan alur cerita.

Pada tahun 2017, Rancagé menerima 50 judul sastra berbahasa enam daerah tadi.

”Grafiknya memang naik turun walaupun kebanyakan Sunda dan Jawa. Kami juga mensyaratkan karya sastra bahasa daerah bisa dinilai jika dalam tiga tahun berturut-turut ada karya yang menggunakan bahasa daerah itu. Sementara, ke depan, kami berencana mensyaratkan karya yang dikirim punya ISBN,” tuturnya.

Syarat itu diberlakukan karena tak jarang karya yang masuk adalah karya-karya mandiri yang dicetak secara terbatas. Syarat ini juga bukan berarti membebani penulis mandiri, tetapi ditujukan agar karya yang masuk sudah terdaftar.

Melalui Anugerah Sastera Rancagé, dia pun berharap agar perkembangan sastra berbahasa ibu dapat lebih semarak. Pihaknya memang tak menargetkan hal yang muluk-muluk. Akan tetapi, setidaknya, lewat konsistensi Rancagé yang sudah lebih dari seperempat abad bisa membuat sastra berbahasa ibu tetap hidup.

”Minimalnya, sastra daerah hidup, regenerasi penulis ada, tiap tahun ada buku yang dirilis. Ada sastra daerah yang tumbuh kembali. Memang, setelah Rancagé ini, kelihatan bertambah gairah menulis dengan bahasa ibu,” ucapnya.

Ia menuturkan, bahasa daerah lain yang potensial diikutsertakan pada Rancagé sebelumnya adalah bahasa Madura. ”Sudah kirim satu buku, mungkin ke depan akan terus terbit lagi.”

Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Adinda Luthvianti menyebut, penyelenggaraan Anugerah Sastera Rancagé memang baru kali ini digelar di Jakarta. 

Menurut dia, setelah biasanya digelar secara sederhana di kota asalnya, Bandung, Rancagé ke-30 ini layak mendapat apresiasi lebih atas konsistensinya memberi penghargaan dan ikut melestarikan bahasa daerah. ”Ini momentum yang tepat agar Rancagé lebih nasional, bahkan internasional,” katanya.

Ia tak memungkiri, dari lebih 700 bahasa daerah di Indonesia, sebagian kecil penuturnya sudah mulai berkurang. Apalagi, ada wacana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk menyederhanakan bahasa daerah yang justru mengancam eksistensi bahasa dae­rah. Oleh karena itu, upaya pelestarian bahasa daerah seperti ini perlu digalakkan.

”Bahasa ibu itu bisa mengurangi ketegangan dan radikalisme karena ada petatah petitih. Penggunaannya pun sudah mendapat res­pons yang baik sebetulnya. Selain Rancagé, film ’Marlina’ yang berbahasa Sumba bisa mewakili Indonesia di festival dunia,” ucapnya.

Sunda buhun



Dalam catatannya di Keputusan Hadiah Sastera Rancagé, Dewan Pembina Yayasan Rancagé Ajip Rosidi menyebut, sejak pihaknya memberikan hadiah Rancagé tahun 1989, tidak banyak pengarang yang menulis dalam bahasa ibunya. Itu pun hanya bahasa Jawa dan Sunda.

Namun, ketika dua tahun kemudian ada penulis yang menerbitkan buku bahasa Bali dan dihargai lewat anugerah ini, gairah untuk menulis sastra berbahasa ibu di Bali makin bertambah.

”Setiap tahun, buku yang terbit bertambah dengan cepat. Bukan hanya pengarang yang usianya sudah lanjut, melainkan yang muda-muda juga tidak kalah berlomba-lomba memperkaya kesusastraannya,” kata Ajip.

Untuk karya sastra berbahasa Sunda, tahun ini, juri menilai 15 judul yang masuk. Dari jumlah tersebut, kemudian diambil dua judul, yakni kumpulan cerpen Hiji Tanggal nu Dipanisikeun karya Wahyu Wibisana dan kum­pulan sajak Miang karya Nunu Nazarudin Azhar.

Sajak Nunu dinilai layak karena menarik dan secara estetis serta etis bersumber pada alam pikiran sawah tradisional yang belum jadi bagian dari industri. Akibat dari sikap yang demikian, sajak Nunu dinilai teguh pada akar tradisi Sunda buhun, tetapi tak kehilangan konteks kekinian.

”Misalnya, Nunu masih mempertahankan larik delapan engang dan purwakanti yang kuat dalam tradisi puisi Sunda buhun, seperti pantun, sisindiran, dan jangjawokan,” ucapnya.***

Bagikan: