Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan petir singkat, 21.4 ° C

Meluruskan Dugaan Dua Kaki Demokrat di Pilpres 2019

Muhammad Irfan
WAKIL Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan (kiri) bersama Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Yandri Susanto (kanan) memberikan paparan pada acara diskusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 13 September 2018. Diskusi tersebut mengambil tema "Demokrat Berdiri di Dua Kaki pada Pilpres 2019".*
WAKIL Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan (kiri) bersama Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Yandri Susanto (kanan) memberikan paparan pada acara diskusi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 13 September 2018. Diskusi tersebut mengambil tema "Demokrat Berdiri di Dua Kaki pada Pilpres 2019".*

JAKARTA, (PR).- Partai Demokrat telah resmi mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang. Namun meski telah berkoalisi dengan Gerindra, PKS, dan PAN, sikap partai berlambang segitiga mercy ini masih dipertanyakan dan menjadi polemik setelah ada beberapa kader Demokrat yang memberikan dukungannya kepada pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Lantas apakah hal ini akan mengganggu koalisi?

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan, kondisi Demokrat memang agak berbeda dengan partai pengusung Prabowo lainnya. Dia menyebut PKS dan PAN sudah melakukan sosialisasi terlebih dahulu bahwa akan bergabung dengan bapak Prabowo, sementara Partai Demokrat tidak .

“Kami baru memutuskan setelah mulai atau akan bergabung pada 24 Juli 2018 setelah bapak Prabowo bertandang ke kediaman bapak SBY,” kata Syarief dalam diskusi terbuka yang dihadiri oleh perwakilan dari Demokrat, PAN, dan PDIP di Ruang Wartawan DPR RI, Kamis, 13 September 2018.

Merapatnya Demokrat ke koalisi Prabowo pun masih berlangsung secara non-formal hingga diresmikan pada 10 Agustus 2018 atau beberapa jam saja jelang pendaftaran Pilpres. Jika dihitung sampai hari ini, Demokrat berkoalisi dengan kubu Prabowo baru menginjak usia sebulan.

”Sebelumnya, Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, ketua Demokrat) menginstruksikan kepada seluruh ketua DPD seluruh Indonesia, untuk melakukan survei internal di seluruh kader seluruh kader partai Demokrat. Jadi survei internal itu minta persetujuan atau pandangan, Apakah kita itu mau dukung Jokowi atau dukung Prabowo, jadi kita betul-betul dari bawah dan murni tidak ada pengkondisian dulu, inilah salah satu ingin saya sampaikan secara gamblang mengapa hal ini terjadi,” kata dia.

Pada hasil survei itu yang diambil dari 34 DPD Demokrat di seluruh provinsi, hasilnya adalah hampir 80 persen memilih merapat ke Prabowo, sementara sisanya itu memilih Jokowi. Melihat hal tersebut dia tak memungkiri ada 20 persen aspirasi partainya yang hendak mendukung Jokowi.

“Mengapa mereka begitu? karena mereka, seluruh kader partai Demokrat ini menginginkan agar yang dicalonkan itu adalah kader partai Demokrat sendiri, jadi realistis dong. Dari yang lebih daripada 20 persen itu memang kebanyakan dari Jawa Timur, Papua, NTT, Bali kemudian Sulawesi Utara. Apakah kami akan pecat mereka semua? kan enggak mungkin, karena kami hanya meminta masukkan,” ucapnya.

Syarif justru menilai saat ini kewajiban pihaknya untuk meyakinkan 20 persen kadernya ini agar memilih Prabowo. Bisa jadi mereka belum tahu visi misi yang diusung Prabowo apalagi saat survei mereka hanya dihadapkan pada dua opsi yakni Jokowi atau Prabowo. Meski demikian, Syarif tetap menyatakan partainya solid mendukung Prabowo-Sandi.

“Kami yakinkan bahwa kami akan usahakan yang 20 persen itu kurang lebih agar supaya mendukung Prabowo-Sandi dan kita masih punya waktu kurang lebih enam bulan,” ucapnya.

Fenomena biasa



Kawan koalisi Demokrat, yakni Yandri Susanto yang menjabat sebagai Ketua DPP PAN menyebut, perbedaan pendapat di sebuah rumah besar seperi Demokrat pada dasarnya hal yang wajar. Justru yang menjadi acuan adalah sikap elitnya seperti SBY, AHY, atau Syarief Hasan. Dan dalam pertemuan dengan Prabowo-Sandi, Rabu, 12 September 2018 malam terkonfirmasi kalau Demokrat solid bersama Gerindra, PAN, dan PKS.

“Jadi kalau hari ini ada tudingan Demokrat main dua kaki, saya kira itu  keliru. Demokrat itu solid dan sangat sungguh-sungguh untuk memenangkan pasangan Prabowo-Sandi karena kami melihat bahwa kepentingan politik Demokrat ke depan itu bisa terakomodir kalau pasangan Prabowo-Sandi menang,” ucap Yandri.

Pihaknya pun yakin dengan pengalaman Demokrat yang banyak apalagi membawa SBY sebagai presiden dua periode, tentu punya cara memenangkan Prabowo-Sandi. Dia pun meminta publik tak meragukan lagi soliditas Demokrat.

“Saya kira itu kita harus percaya Demokrat  bisa merapikan itu semua,  kalaupun misalkan pada akhirnya juga tidak bisa, mari kita saling menghormati karena Pilpres ini kan menghadapkan dua anak bangsa,” ucapnya.

Lagi pula main dua kaki di Pilpres ini sudah fenomena yang biasa di beberapa kali Pilpres. Seperti adanya Kwik Kian Gie di kubu Prabowo. Apalagi Pilpres adalah faktor figur sebab kedekatan hatinya rakyat dengan figurnya langsung.

“Jadi untuk Demokrat kami respek dan kita akui dan kita yakin dengan kepiawaian beliau, bapak SBY dan bapak Syarief, bisa merapikan dan bisa mendialektikakan dengan teman-teman yang ada di bawah,” ucapnya.

Menanggapi hal ini, Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait menilai setiap partai termasuk Demokrat tentu punya ciri khasnya sendiri. Tetapi di PDIP meskipun ada perbedaan dalam menentukan pilihan, ketika partai telah mengambil keputusan, semua akan solid. Saat pemilihan Cawapres Jokowi misalnya, Ara mengaku dirinya mendukung pencalonan Mahfud MD sebab menurutnya, pihaknya memerlukan orang seperti beliau yang nasionalis dan bisa diterima oleh berbagai kalangan.

“Tetapi setelah partai saya memutuskan, saya akan loyal dan saya bekerja untuk Pak Jokowi dan Pak Kyai Haji Ma'ruf Amin. Dalam proses kita boleh berbeda, Ibu Mega sangat demokratis untuk bisa memberikan ruang-ruang itu, tetapi begitu sudah diputuskan kita akan menjalankan itu,” kata Ara.

Adapun tugas seorang kader dalam kerja politik adalah meyakinkan pemilihnya di daerah untuk memilih capres yang diusung oleh partainya. Ara mencontohkan, dia yang pada Pileg 2019 berada di Dapil Bogor-Cianjur misalnya, akan meyakinkan pemilihya jika pemilih itu tak mendukung Jokowi-Ma’ruf.

”Misalnya ada pemilih saya di Dapil saya di Bogor-Cianjur yang tidak memilih Jokowi dan Ma’ruf Amin, saya akan datang meyakinkan dia. Justru itu tantangan saya, itu kerja politik kita di situ, kalau tidak, tidak ada lagi kerjaan politik, kita akan menerima apa adanya aja,” ucap dia.***

Bagikan: