Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

PBB: Sistem Pangan Masyarakat Adat Lebih Sehat dan Bernutrisi

Siska Nirmala (error)

SAN FRANCISCO, (PR).- Penelitian Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyebut sistem pangan masyarakat adat sangat bernutrisi dan lebih sehat. Sehingga, PBB ingin menghubungkan isu ini pada hak teritorial, sumber daya, hak kultural masyarakat adat.

Seperti dilansir Kantor Berita Antara, Pelapor Khusus PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat Victoria Tauli-Corpuz di San Francisco, Senin, 10 September 2018 waktu setempat, mengatakan halangan untuk menjaga sistem pangan masyarakat adat global adalah adanya ekspansi perkebunan monokultur. Selain itu juga adanya kebutuhan memproduksi pangan untuk ekspor dan pembangunan lain yang dilakukan di tanah adat seperti pertambangan atau infrastruktur.

Namun tentu saja, menurut dia, halangan lainnya adalah pemikiran bahwa makanan barat lebih superior dibanding makanan milik masyarakat adat.

"Tentu saja itu salah karena makanan masyarakat adat sangat bernutrisi, diproduksi dengan cara sangat organik," ujarnya.

Hanya saja, karena sekarang makanan mulai diproduksi dengan cara organik, tiba-tiba sistem pangan dari masyarakat adat menjadi "fashionable". Ada pula pangan lokal yang mulai diproduksi massal secara monokultur setelah diketahui mengandung nutrisi baik seperti "quinoa" di Peru, ujar Victoria.

Seketika semua lahan digunakan hanya untuk memproduksi pangan lokal tersebut dengan cara di luar pertimbangan berpikir keanekaragaman. Jadi, menurut dia, ini konsekuensinya, di satu sistem pangan masyarakat adat diakui namun karena kesalahan cara berpikir justru diproduksi dengan cara yang salah.

"Jadi itu dia kesalahan dari sistem pangan kita," ujar dia.

Selain itu, ia mengatakan bagi banyak orang makanan itu kultur. Makanan digunakan untuk prosesi adat khusus, ritual, hingga panen raya.

"Jadi kita melihat makan bukan sekedar apa yang di makan, tapi berhubungan dengan gaya hidup mu, identitas mu dan kultur mu, proses ritual. Jadi makanan itu bukan hanya soal ekspor pangan saja, untuk komoditas, ini harusnya di apresiasi secara keseluruhan," lanjutnya.

Menekan emisi



Pada dasarnya banyak produksi pangan masyarakat adat itu sangat organik, mereka sangat berupaya menghindari pupuk kimia dan pestisida. Ini cara menekan emisi juga, karena banyak produk pupuk kimia atau pestisida menggunakan bensin.

"Saya rasa banyak masyarakat adat di dunia tetap mempertahankan cara organik. Mereka tahu cara merawat tanah, membuat mikroorganisme dan serangga tetap dijaga sejauh kebutuhan produksi pangan," ujar dia.

"Itu semua sudah menjadi satu paket. Bahwa dengan menggunakan sistem natural untuk memproduksi pangan berarti sudah menekan emisi Gas Rumah Kaca (GRK)," ujarnya lagi.***

Bagikan: