Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 19.9 ° C

Ada 3,6 Juta Barel Minyak Bumi Indonesia yang Tak Termanfaatkan

Yusuf Wijanarko
KILANG minyak lepas pantai PT Saka Energi Indonesia di Blok Pangkah, Gresik. PT Saka Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di sektor hulu migas menemukan cadangan minyak bumi di sumur eksplorasi TKBY-2 wilayah kerja Pangkah, setelah melakukan pengeboran hingga kedalaman 9.500 kaki di lepas pantai utara Gresik.*
KILANG minyak lepas pantai PT Saka Energi Indonesia di Blok Pangkah, Gresik. PT Saka Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di sektor hulu migas menemukan cadangan minyak bumi di sumur eksplorasi TKBY-2 wilayah kerja Pangkah, setelah melakukan pengeboran hingga kedalaman 9.500 kaki di lepas pantai utara Gresik.*

JAKARTA, (PR).- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar menyebut, Indonesia memiliki sekitar 3,6 juta barel minyak bumi dengan status dead stock yang hingga kini belum bisa diolah dan tidak termanfaatkan.

Minyak mentah dengan status dead stock itu terdapat di tangki-tangki fasilitas produksi migas milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hal tersebut dikatakan Arcandra Tahar saat meninjau Onshore Processing Facility PT Saka Energi Indonesia bersama Dirjen Migas Djoko Siswanto dan Wakil Kepala SKK Migas Sukandar di Gresik.

“Tujuan utama kami ke sini untuk melihat dead stock,” ujarnya seperti dilaporkan Galamedianews, Minggu 9 September 2018.

Dead stock atau dengan sebutan lainnya unpumpable stock, adalah volume produk minyak mentah hasil pengeboran yang mengendap di tangki dan tidak dapat dipompakan untuk penyaluran sehingga tidak dapat termanfaatkan.

Arcandra Tahar menginginkan agar volume stok minyak mentah yang selama ini mengendap dapat dimanfaatkan untuk dijual dan menambah penerimaan negara di sektor migas.

“Pemerintah menginginkan stok-stok yang selama ini tidak bisa dipompa dan diam di tangki itu bisa kita bersihkan dan bisa kita jual sehingga yang dinamakan dead stock yang selama ini diam menjadi bermanfaat,” ujarnya.

“Angka dead stock kita sekarang sekitar 3,6 juta barel di seluruh Indonesia. Nah, ini mampu tidak kita kurangi pada level yang masuk akal?” kata Arcandra Tahar.

Selama ini, untuk wilayah kerja migas dengan kontrak bagi hasil yang menggunakan skema cost recovery, dead stock berpotensi dibebankan pada biaya yang harus dibayar oleh negara. Hal itu tentu tidak efisien dan berpotensi mengurangi PNBP migas dari kelebihan pembebanan cost recovery.

Arcandra Tahar optimistis, dari sisi teknologi, Kontraktor Kontrak Kerja Sama di Indonesia mampu mengonversi dead stock menjadi produk yang bermanfaat dan bisa dijual.

“Karena isunya bukan masalah teknologi dan isu technical engineering. Hasil dari dead stock yang sudah diambil bisa dibawa ke kilang-kilang di dalam negeri untuk diolah kembali,” ujarnya.

“Teknologinya ada, dari beberapa opsi nanti kami evaluasi mana yang secara teknologi layak dan secara keekonomian masuk,” ujar Arcandra Tahar.***

Bagikan: