Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Presiden Joko Widodo Bantah Bakal Hentikan Tunjangan Guru

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo memberikan kuliah umum di Gelora Hasta Brata, Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA), Surabaya, Kamis 6 September 2018.
PRESIDEN Joko Widodo memberikan kuliah umum di Gelora Hasta Brata, Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA), Surabaya, Kamis 6 September 2018.

SURABAYA, (PR).- Presiden Joko Widodo menepis beredarnya kabar di media sosial yang menyebutkan bahwa tunjangan bagi guru akan dihentikan. Ia menyebutnya sebagai kabar bohong. 

Pernyataan tentang tunjangan guru itu dikemukakan Presiden Joko Widodo ketika memberikan kuliah umum di Gelora Hasta Brata, Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA), Surabaya, Kamis 6 September 2018. Ia mengatakan, pemerintah tidak mungkin menghentikan tunjangan guru. Tidak ada alasan apapun juga bagi Pemerintah untuk mengurangi apalagi memberhentikan Tunjangan Profesi Guru.

"Karena tunjangan itu adalah imbalan yang memang seharusnya diperoleh guru atas pengabdian profesi yang telah dan akan diabdikan untuk bangsa selama-lamanya," ucapnya sebagaimana dilansir dari Biro Pers Setpres.

Ia juga menegaskan bila dirinya akan membela kepentingan guru. Utamanya terkait dengan persoalan tunjangan guru. "Saya tegaskan bahwa saya siap untuk berdiri di depan dan berjuang untuk membela kepentingan guru-guru agar dapat melaksanakan tugas mulianya, yaitu mendidik kader-kader bangsa di negara kita," ujar Jokowi.

Fokus SDM



Dalam kuliah umumnya, Jokowi kembali menekankan peranan penting SDM untuk membangun negara. Menurutnya, SDM akan menjadi prioritas pemerintah setelah sebelumnya pemerintah fokus di bidang infrastruktur. 

Ia menyebutkan, Pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan pendidikan merupakan hak bagi seluruh warga Negara. Hal itu menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya.

“Keberhasilan dalam penyelenggaraan Negara dan Pemerintahan ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun manusia Indonesia yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu belajar sepanjang hayat agar dapat menyesuaikan diri dengan zaman yang berubah serba cepat,” ucap Presiden.

Presiden menuturkan, hal tersebut sejalan dengan tahapan besar kedua yang akan dilakukan pemerintah, yaitu membangun sumber daya manusia (SDM), setelah tahapan besar pertama berupa pembangunan infrastruktur telah dimulai.

Menurut Presiden, fondasi-fondasi untuk meningkatkan daya saing bangsa itu kuncinya ada di SDM. "Kita ini memiliki kapasitas terpendam. Punya kekuatan terpendam tapi belum dibangkitkan. Jangan dipikir anak kita kalah dengan bangsa lain," ujarnya.

Presiden memberikan contoh prestasi atlet-atlet Indonesia di Asian Games 2018 yang dapat melebihi target yang diberikan, bahkan dapat menduduki peringkat empat dalam perolehan medali.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengapresiasi peran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) terlahir menjadi bagian perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menurutnya, organisasi yang beranggotakan kaum intelektual ini telah berjasa memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan bangsa melalui pendidikan.

"Peranan PGRI sangat strategis dalam menggerakkan organisasinya ke seluruh negeri. Teruslah berjuang dan berbakti kepada bangsa dan negara," ujar Presiden.

Kuliah umum itu dihadiri oleh kurang lebih tiga ribu orang. Mereka berasal dari kalangan pengurus besar PGRI beserta pengurus ranting, pimpinan perguruan tinggi dan kepala sekolah PGRI, serta para mahasiswa baru dan civitas academica UNIPA. Dalam kesempatan itu, Presiden juga turut meresmikan pembukaan Rapat Kerja Nasional Badan Pembina Lembaga Pendidikan (BPLP) PGRI yang akan digelar hingga 7 September 2018.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Ketua Umum PP PGRI Unifah Rosyidi, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.*** 

Bagikan: