Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Mengintip Kondisi 6 Negara yang Terdampak Penguatan Dolar AS

TERHITUNG 5 September 2018, nilai tukar mata uang rupiah mencapai angka 14.960,45 Rupiah. Kenaikan angka yang cukup fantastis dari tahun 2011, yang ketika itu rupiah menguat di angka Rp. 8.455 tepatnya di Agustus 2011 terhadap dolar Amerika.

Kondisi nilai mata uang rupiah terhadap dolar yang terus melemah ditengarai terjadi karena beberapa faktor. Selain itu, sentimen negatif pada mata uang negara berkembang dipengaruhi oleh krisis mata uang Turki dan Argentina yang merembet pada negara-negara berkembang yang mengalami isu pelebaran defisit, salah satu di antaranya adalah Indonesia.

Melemahnya nilai tukar rupiah ini tentu berdampak pada banyak aspek perekonomian Indonesia. Dampaknya akan sangat terasa oleh kelompok masyarakat yang aktivitasnya berhubungan dengan valuta asing, seperti usaha ekspor-impor.

Namun, dampak pelemahan rupiah tidak akan terlalu terasa bagi masyarakat menengah ke bawah selama pemerintah tetap mempertahankan dan menjaga kebijakan-kebijakan yang melindungi masyarakat.

Penguatan mata uang dolar Amerika ternyata tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga berdampak parah pada negara-negara berkembang lain di seluruh dunia. Tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang disebabkan meningkatnya ketegangan perdagangan antar negara.

Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed juga mengatakan, maraknya sentiment negatif di pasar mengenai perang dagang serta harga minyak mentah yang meningkat membuat mata uang negara berkembang mengalami depresiasi. Selain Indonesia, mata uang rupee India, lira Turki, rand Afrika Selatan, rubel Rusia, dan peso Meksiko juga mengalami pelemahan yang cukup parah.

Pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang ini kemudian akan menimbulkan dampak nasional berupa inflasi yang tinggi dan membahayakan perekonomian negara tersebut. Melirik penghimpunan data mengenai tingkat inflasi pada Trading Economics di tahun 2018, berikut terdapat beberapa negara dengan tingkat inflasi tertinggi di seluruh dunia.

 

1. Venezuela (82,766%)



Venezuela menempati urutan pertama negara dengan tingkat inflasi tertinggi dengan 82,766%. Hal ini terjadi karena jatuhnya harga minyak sejak tahun 2014.

Inflasi yang terjadi di negara ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu dengan tingkat inflasi yang sudah meningkat lebih dari 100% sejak tahun 1989.

 

2. Sudan Selatan (122,90%)



Mengutip ACT, pada tahun 2017 BPP menyatakan bahwa di Sudan Selatan telah terjadi kelaparan akut dan krisis pangan terburuk.

Sampai maret 2017, masih ada 1 juta anak-anak di Sudan Selatan yang melanjutkan kehidupan dengan kondisi malnutrisi akut. Keruntuhan ekonomi negara ini timbul dari dampak konflik antar etnis yang terus terjadi.

 

3. Sudan (63,90%)



Sejak berpisahnya negara Sudan dan terbagi menjadi Sudan Utara dan Sudan Selatan, keadaan tersebut memberikan dampak terhadap sumber devisa negara. Dimana sekitar 75% minyak diambil oleh Sudan Selatan yang berpengaruh pada perekonomian Sudan.

Hal tersebut memperparah tingkat inflasi Sudan dari tahun 2011 dengan tingkat inflasi 18% hingga saat ini mencapai 63,90%.

 

4. Argentina (31,20%)



Selama 100 tahun terakhir, Argentina telah dilanda krisi ekonomi, inflasi dan masalah-masalah perekonomian lainnya. Sejak tahun 2001, Argentina menderita kerugian modal besar-besaran, ekonomi mengalami penuruna yang parah dan kerusuhan terjadi dimana-mana.

 

5. Suriah (27,10%)



Sejak terjadinya pemberontakan terhadap rezim Assad, perekonomian Surriah menjadi terpuruk dan benar-benar jatuh. Karena pergolakkan ini, Uni Eropa yang merupakan pembeli tunggal minyak Suriah menghentikan impor mereka. 

Begitu juga dengan berbagai bantuan luar negeri yang dihentikan pemberiannya terhadap negara ini.

 

6. Iran (18,00%)



Mengutip BBC, perekonomian iran terus mengalami dampak buruk akibat beragam sanksi yang diterapkan komunitas internasional selama bertahun-tahun belakangan terkait program nuklir. Selain itu rangkaian demonstrasi yang terus menerus terjadi juga mengacaukan perekonomian negara Iran

Di Indonesia, menurut data dari Bank Indonesia, pada Agustus 2018 lalu tingkat inflasi Indonesia berada pada angka 3,20% dimana masih bisa dikatakan rendah jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain di Asia. Namun dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika atas rupiah saat ini, Indonesia tetap harus melakukan antisipasi dan pengendalian agar keseimbangan nilai rupiah tetap terjaga. (Fitir Yana)***

Bagikan: