Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.8 ° C

Jalan Terjal Rindu Menuju Jabar Satu

Muhammad Irfan

PASANGAN Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum secara resmi dinobatkan sebagai pemenang dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018-2023 oleh Komisi Pemilihan Umum awal Juli lalu. Kemenangan pasangan yang didukung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura ini, akan didaulat lewat pelantikan keduanya sebagai Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat terpilih oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 5 September 2018.

Namun kemenangan yang diraih oleh keduanya bukan melulu mulus. Ada dinamika internal dan tarik menarik dukungan yang lazim terjadi pada kontestasi politik.

Ridwan Kamil pernah sangat diinginkan namun sebaliknya pernah juga hampir ditinggalkan. Sementara Uu Ruzhanul Ulum, adalah Wali Kota Tasikmalaya yang pernah punya gairah jadi Jabar 1 tetapi kemudian ikhlas menjadi pendamping Ridwan Kamil.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu pertama kali diusung oleh NasDem dengan dukungan yang kabarnya tanpa syarat. Tetapi dukungan NasDem pada Kang Emil ternyata harus dibayar dengan banyaknya provokasi yang membelah pendukungnya di akar rumput.

Maklum, isu NasDem yang di Pilkada DKI Jakarta mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan diwarnai polemik berbau sektarian, ikut merembes ke Jawa Barat. Namun, Kang Emil bersama NasDem tetap melaju.

Jalan menuju Pilkada Jabar saat itu pun terus dijalin dengan mendapatkan dukungan dari beberapa partai lain. PPP misalnya melabuhkan dukungan pada Emil dengan langsung mengajukan Uu sebagai calon wakilnya. Tak lama berselang, Golkar juga memilih pilihan yang sama namun dengan wakil yang berbeda, yakni Daniel Muttaqien.

Polemik wakil kemudian mewarnai jalan Emil menuju Jabar satu. Meskipun Golkar pasca-Setya Novanto mundur mengalihkan dukungannya dari Emil ke kadernya yang juga Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, bukan berarti PPP bisa dengan mulus memajukan Uu. Karena PKB yang juga mendukung Emil ngotot punya wakil dari internal yang juga tokoh Jawa Barat, Maman Imanulhaq.

Opsi konvensi kemudian digulirkan. Namun bukan sambutan baik yang didapat dari pengusung, justru ancaman untuk menarik dukungan jika kadernya tak dipilih sebagai wakil Emil. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin cita-cita Emil berakhir buruk karena tak bisa mengantongi syarat pencalonan 20 kursi di DPRD.

Kebuntuan yang terjadi sepanjang Desember 2017 ini pun usai lewat kesepakatan empat partai pengusung di menit-menit akhir pendaftaran yakni 7 Januari 2018 yang menyepakati Uu Ruzhanul Ulum sebagai pasangan Emil. Menanggapi ini, Maman Imanulhaq yang sempat digadang-gadang menjadi wakil, mengaku legowo. “Pada prinsipnya PKB mendukung kang Emil dan menyerahkan pilihan pada kang Emil,” kata Maman saat itu.

Meski tak jadi, Emil yang sempat ditolak oleh PDIP di awal riak-riak Pilkada Jabar juga sempat membuat PDIP kesengsem di menit-menit akhir pendaftaran. Kabar itu santer beredar setelah Emil sowan ke PDIP pada 3 Agustus 2018 dan di sisi lain PDIP saat itu menjadi partai yang paling hati-hati mengumumkan kandidatnya. Namun kabar dukungan PDIP ke Emil patah setelah pada 7 Agustus 2018, PDIP resmi mengusung kadernya Tb Hasanuddin-Anton Charliyan.

Polemik, kampanye hitam, dan relawan



Syarat dukungan partai sudah lengkap, tak menjamin perjalanan Emil dengan kendaraan empat partai pengusung baik-baik saja. Dinamika masih terjadi dengan kabar bepindahnya dukungan sebagian kader partai pengusung ke kandidat lain.

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, baik dari faktor internal maupun eksternal partai pengusung. Namun, kepada “PR”, Emil pernah berujar kalau dia tak pernah mau ambil pusing mengenai hal tersebut. “Kita fokus di survey terakhir hingga hari H nanti. Dinamika ini tidak datang dari kami, kami tidak akan ikut campur. Pengaruh ada, menyikapinya ya kami kerja kerja," ucap dia.

Kampanye hitam juga tak luput dari serangan yang pernah menimpa Emil selama menjalani proses menuju Jabar Satu. Berbagai isu muncul mulai dari munculnya kicauan lama dia di akun sosial media, hingga dugaan dukungannya pada komunitas LGBT yang entah dari mana asal muasal kabarnya. Serangan ini bahkan terjadi sampai H-1 pencoblosan 27 Juni 2018 lalu.

Emil pun mencoba tenang menghadapi serang-serangan ini. Menurut dia kampanye hitam hanya alat bagi mereka yang takut berkontestasi. “Mereka tidak punya gagasan, jadi menyerang dengan menyebarkan informasi untuk menjelekkan orang lain,” ucapnya.

Adapun yang menjadi kekuatan Emil saat menjalani kontestasi Pilkada kemarin karena modal sosial yang dimilikinya cukup kuat. Mengenai hal ini, Pengamat Politik dari Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf pernah berujar kalau sosok Emil adalah sosok yang bisa menggaet kaum muda karena pengelolaan media sosial yang unggul dibanding kandidat-kandidat lain saat itu. 

Emil dianggap bisa menggiring publik terutama kaum milenial agar menyukainya. Hal ini ditambah visi, misi, dan program yang diusung mempunyai terobosan, inovatif, dan rasional serta memiliki pendukung dan relawan yang fanatik.

"Mesin politik tidak banyak dilakukan oleh pendukungnya, tapi relawannya sangat banyak dan fanatik," ucapnya.***

Bagikan: