Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Yuk, Mengenal Istana Bogor

Epul Saepuloh - Periset PR

ISTANA Bogor merupakan satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia, tempat peristirahatan bagi presiden atau wakil presiden beserta keluarga setelah kemerdekaan. Istana Bogor terletak di pusat Kota Bogor dengan luas sekitar 28,86 hektare dan terletak di ketinggian 290 meter dari permukaan laut.

Istana Bogor merupakan salah satu dari sejumlah istana kepresidenan lainnya di Indonesia seperti Istana Negara dan Istana Merdeka (Jakarta), Istana Tampak Siring (Bali), Istana Cipanas (Cianjur), dan Gedung Agung Yogyakarta atau Istana Yogyakarta. 

Istana Bogor dibangun sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan disebut replika ­Istana Blenheim, kediaman seorang nenek moyang Princess Wales Lady Diana.

Gagasan awalnya dari perjalanan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff untuk mencari lokasi peristirahatan pada 10 Agustus 1744. Van Imhoff menemukan tempat yang tepat dan berudara sejuk di Kampong Baroe. Ia membeli wilayah itu seharga 33.500 ringgit. 

Pada 1745, van Imhoff mulai memerintahkan pembangunan satu pesanggrahan atau mansion yang diberi nama Buitenzorg, artinya bebas ma­salah atau terlepas dari kesu­litan. Di kemudian hari, istilah Buitenzorg menjadi Bogor.

Baron van Imhoff membuat sendiri sketsa mansion Buiten­zorg, dengan meniru arsitektur Istana Blenheim, kediaman Duke of Malborough, dekat Kota Oxford Inggris. Namun, hingga masa jabatannya berakhir, bangunan tak kunjung selesai. 

Istana Bogor rampung pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager pada 1856-1861, dengan banyak perubahan dari desain awal sang penggagas.

Pernah dibakar



Istana Bogor menandai awal perkembangan yang pesat dari wilayah Bogor sekarang. Dimulai sejak ekspedisi Belanda pada 1703 yang dipimpin Abraham Van Riebeck yang menemukan ladang di lereng Sungai Cipakancilan. Tempat tersebut menandai adanya kehidupan baru di lahan bekas Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Era 1745-1808, mansion Buitenzorg pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda oleh para gubernur jenderal. Pada masa itu, tak kurang dari 9 gubernur jenderal Belanda mendiami tempat yang jadi awal mula Istana Bogor itu. 

Pada masa pemerintahan Mossel (1750-1761), Buitenzorg rusak dibakar oleh Kerajaan Banten yang melancarkan serangan sekitar tahun 1750-1754 di bawah pimpinan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. 

Pemberontakan Kesultanan Banten digagalkan dan Banten ditaklukkan sebagai rampasan Kompeni. Mossel kemudian memba­ngun kembali dengan tetap mempertahankan bentuknya semula.

Pergantian para gubernur jenderal mengakibatkan berbagai perombakan menimpa pesanggrahan impian Van Imhoff. Pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811) gedung Buitenzorg diperluas dengan memperlebar bagian kiri dan kanan.

Gedung induk dijadikan dua tingkat. Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) dengan mendirikan menara di tengah-tengah gedung induk. Sementara lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya.

Dikuasai pejuang



Gagasan Kebun Raya muncul dari Caspar George Carl Reinwardt yang pada tahun 1816 diangkat menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan untuk Pulau Jawa.

Bangunan mansion Buitenzorg juga pernah mengalami rusak parah akibat gempa bumi yang terjadi pada 10 Oktober 1834. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856), bangunan lama yang terkena gempa di­robohkan dan dibangun kembali dengan gaya arsitektur Eropa abad IX.

Selain itu, dibangun pula dua jembatan penghubung gedung induk dan gedung sayap kanan serta sayap kiri.

Pada 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai ke­diaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer yang harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang. 

Total sebanyak 44 Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah menjadi penghuni Istana Kepresidenan Bogor. Pada akhir Perang Dunia II, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan, sekitar 200 pemuda Indonesia dari Barisan Ke­amanan Rakyat sempat menduduki Istana Buitenzorg dan dibubarkan tentara Ghurka.

 

Buitenzorg diserahkan kembali kepada pemerintah RI pada akhir 1949. Bersamaan dengan itu, kemudian diubah namanya menjadi Istana Kepresidenan Bogor.***

Bagikan: