Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan petir singkat, 21.4 ° C

Pesan Damai dari Pelukan Jokowi-Prabowo

Muhammad Irfan
PESILAT Indonesia, Hanifa Yudani Kusumah (tengah) saling berpelukan bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Ketua IPSI Prabowo Subianto usai bertanding melawan pesilat Vietnam,  Thai Linh Nguyen s pada final nomor Tarung Putra Asian Games 2018  di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018. Hanifa berhasil mengalahkan lawannya dengan skor 3-2 sehingga menambah raihan emas bagi Indonesia.*
PESILAT Indonesia, Hanifa Yudani Kusumah (tengah) saling berpelukan bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Ketua IPSI Prabowo Subianto usai bertanding melawan pesilat Vietnam, Thai Linh Nguyen s pada final nomor Tarung Putra Asian Games 2018 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018. Hanifa berhasil mengalahkan lawannya dengan skor 3-2 sehingga menambah raihan emas bagi Indonesia.*

JAKARTA, (PR).- Momen pelukan dua calon Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 29 Agustus 2018, usai pesilat Indonesia Hanifan Yudani Kusumah meraih emas mendapat respons positif dari publik. Aksi yang menarik perhatian dan menjadi viral di sosial media ini pun dinilai memberi dampak positif bagi Pemilihan Presiden 2019 nanti.

Dalam diskusi di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis, 30 Agustus 2018, Wasekjen Partai Golkar Ache Hasan Syadzili menyebut momen itu membuktikan sifat kenegarawanan dua kandidat yang akan berkompetisi nanti. Menurut dia, meskipun beda jalan politik di Pilpres, keduanya tetap bersatu padu saat memperjuangkan kemenangan bangsa.

“Pelukan antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi itu menunjukkan makna yang luar biasa bagi kita semua sebagai sebuah bangsa,” kata Ache.

Menurut dia, momen pelukan ini sangat mendinginkan suasana Pilpres 2019 yang cukup panas meski tahapan kampanyenya belum dimulai. Bisa dilihat, kata Ache, di hari itu seluruh masyarakat Indonesia merasa dipersatukan dan gembira yang luar biasa.

“Memang ketika kita semua berhadapan dengan negara lain maka seharusnya kita bersatu. Ini merupakan cermin dari kita menghadapi Pilpres 2019 nanti,” ucap dia.

Ache tak menampik kalau polarisasi yang terjadi di masyarakat Indonesia sudah terjadi cukup lama. Menurut dia, sejak 2014 lalu, masyarakat seolah terbagi dua, ada yang pro-Jokowi ada pula yang pro-Prabowo.

Hal ini berlanjut pada Pilkada DKI yang lagi-lagi dihubungkan dengan Pilpres 2019. Belum lagi ada upaya untuk mengkapitalisasi sentimen-sentimen yang seharusnya tidak diangkat menjadi sentimen publik, seperti persoalan agama, suku, dan isu-isu yang seharusnya tidak diangkat tetapi kemudian diangkat.

“Itu menambah polarisasi yang kuat menjelang Pilpres 2019. Tapi saya berharap semangat persatuan dua kandidat ini bisa diikuti oleh para pendukungnya masing-masing,” ucap dia.

Perlu diteladani



Sementara itu, Ketua DPP Gerindra, Ahmad Riza Patria menyebut pesan damai dari Asian Games untuk Pilpres 2019 sebenarnya tak hanya dilihat dari momen pelukan Jokowi-Prabowo saja. Karena di arena itu, Prabowo yang juga Ketua IPSI ini menunjukkan sikap penghormatannya kepada Jokowi dan pemerintahan saat ini.

“Kemarin kita menyaksikan di TV bapak Prabowo ketika menyampaikan sepatah dua patah kata, di sebelah Pak Jokowi, ibu Mega (Megawati Soekarnoputri), pak JK (Jusuf Kalla) dan lainnya, bersyukur (kemenangan) ini berkat Presiden Republik Indonesia, berkat Wapres  Indonesia bahkan berkat Presiden ke-5 Ibu Megawati,” kata 

Dia pun menambahkan, karakter Prabowo yang menghormati dan menghargai orang lain meskipun itu lawan politiknya, perlu diteladani. Karena hal ini merupakan cara untuk membangun kebersamaan, kerukunan, dan sinergi bahwa setiap prestasi Indonesia adalah buah dari kerjasama dan dedikasi semua anak bangsa.

“Sekalipun memang ini juga bagian dari prestasi Bapak Prabowo tapi justru dia menyampaikan bahwa ini berkat Presiden, Wapres, bahkan Ibu Mega. Saya kira yang paling penting sekarang bukan kita membanggakan prestasi kita masing-masing tapi kita harus bekerja sama, membangun prestasi untuk kepentingan bangsa negara,” ucapnya.

Masih ada yang provokatif



Sementara pakar komunikasi politik dari Universitas Jayabaya, Lely Arrianie menyebut inisiasi Hanifan memeluk dua capres yang pendukungnya sering silang sengketa ini memang sangat emosionil. Gambar, momen, gestur, dan personaliti dari setiap pihak yang terlibat sangatlah baik. Lely bahkan mengaku sempat menitikkan air mata melihat momen ini.

”Kita menyaksikan dramaturgis yang seorang politisi partai tertentu dengan partai politik lainnya yang nampak berkelahi di media massa dan lalu kemudian tepuk tangan bergemuruh dengan melihat pertunjukan mereka. Itu dramatisme panggung politik yang mereka ciptakan,” kata Lely.

Meski demikian Lely tak menampik masih ada saja pendukung dari dua kelompok ini yang gagal mewaraskan nalarnya dalam melihat pertunjukkan tadi sebagai sesuatu yang menyejukkan. Itu diindikasi dari pengguna sosial media yang masih mencoba menampilkan foto berpelukan itu dengan bahasa mereka sendiri yang tetap provokatif.

“Tapi yang jelas kesejukan itu muncul ke permukaan. Orang yang  tidak pernah berkomentar politik, saya amati di berbagai media sosial karena saya juga pengguna instagram, twitter. facebook dan lain-lain tiba tiba berkomentar positif,” ucap dia.

Lely pun menekankan perlunya terus menjaga suhu yang dingin ini jelang Pilpres 2019 nanti. Menurut dia meski sekarang inisiatornya adalah konstituen yang bisa dibilang independen yakni Hanifan, proses jangka panjang dari substansi momen ini adalah peran partai pengusung yang mestinya bisa menjaga suhu politik agar tak melulu panas.***

Bagikan: