Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 28.1 ° C

Saat Indonesia Berusia 100 Tahun, Populasi yang Padat Jadi Keuntungan

Yusuf Wijanarko
KENDARAAN terjebak kemacetan di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*

JAKARTA, (PR).- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla meluncurkan Buku bertajuk Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045 di Istana Wakil Presiden, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat 24 Agustus 2018.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa hadir dan menerima secara simbolis buku yang dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan data untuk penyusunan rencana pembangunan baik di tingkat nasional maupun di daerah itu.

Pada peluncuran buku, Jusuf Kalla mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 260 juta jiwa.

Maka, pemerintah, kata Jusuf Kalla, tengah memproyeksikan bahwa pada saat Indonesia beusia 10o tahun, melonjaknya jumlah penduduk harus diiringi dengan peningkatan produktifitas.

"Proyeksi keadaan penduduk kita saat HUT ke-100 RI, jumlah penduduk bukan beban tapi keuntungan," kata Jusuf Kalla.

"Negara maju dan berkembang, saat ini semakin maju juga seiring melonjaknya jumlah penduduk," katanya.

Jusuf Kalla berpesan agar pemerintah daerah responsif terhdap bonus demografi itu, diikuti peningkatan produksi dan fasilitas pelayanan kepada masyarakat.

"Meliputi peningkatan produksi pangan, infrastruktur jalan, dan perumahan, rumah sakit, sekolah, industri, UMKM, lapangan kerja dan lainnya," katanya.

Terkait buku Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045, Iwa Karniwa mengatakan, buku yang diterimanya berisi proyeksi penduduk Indonesia yang mencakup pertumbuhan penduduk, perubahan struktur umur, dan distribusi penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan provinsi mulai 2015 hingga 2045.

Buku itu disusun Badan Perencanaan Nasional dan Badan Pusat Statistik dengan dukungan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Selain itu, ada pula pakar demografi antara lain dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjadjaran.

"Adapun data dasar perhitungan proyeksi ini adalah hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015," ujar Iwa Karniwa dalam siaran persnya.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebut, berdasarkan buku Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045, di berbagai belahan dunia, proporsi usia produktif itu bervariasi terhadap tingkat ekonomi wilayah.

Saat ini, proporsi penduduk usia muda di negara maju menurun. Sementara itu, di negara berkembang termasuk di Indonesia, penduduk usia muda bergerak menuju puncaknya pada tahun 2030-an.

"Pada periode tersebut, proporsi penduduk usia muda di Indonesia akan jauh lebih tinggi dari rata-rata negara di Asia Tenggara," kata Bambang.

Bambang menyebut, dalam buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045, asumsi-asumsi dibentuk berdasarkan pada data Sensus Penduduk dan Survei Penduduk Antar Sensus.

"Berdasarkan hasil proyeksi, jumlah penduduk Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 282 juta jiwa," ujarnya.

Penduduk Indonesia pada 2045 diperkirakan berkisar antara 311 juta jiwa sampai 318,9 juta jiwa.

Bambang juga menyebut, berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus 2015, Indonesia mengalami perubahan struktur penduduk yang cukup cepat dengan Tingkat Fertility Rate sebesar 2,28 dengan variasi yang cukup tinggi antar provinsi.

"Beberapa provinsi, telah memiliki Tingkat Fertility Rate di bawah 2 dan mengalami transisi cukup cepat. Namun, sebagian provinsi, terutama dari Indonesia bagian timur, Tingkat Fertility Rate tercatat masih jauh di atas," katanya.

Maka, tutur Bambang, akan ada dua skenario. Skenario pertama, apabila jumlah anak dibiarkan terus menurun dan Tingkat Fertility Rate mencapai di bawah 2, maka total penduduk sekitar 311 juta jiwa.

Skenario kedua, apabila Tingkat Fertility Rate dapat dipertahankan di kisaran 2, jumlah penduduk diperkirakan berkisar pada 318,9 Juta.

"Pada saat itu, persentase penduduk lansia atau 60 tahun ke atas, akan sebesar 19,85% sehingga Indonesia telah memasuki era baru, ageing population," katanya.***

Bagikan: