Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 29.1 ° C

Pentahelix Bandung Kirim 12 Ton Bantuan ke Lombok

Eriyanti Nurmala Dewi

BANDUNG, (PR).- Bantuan sebanyak 12.454 ton yang terbagi ke dalam 629 koli dikirim dari Bandung ke Lombok. Bantuan yang berhasil dikumpulkan oleh Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bekerjasama dengan Bank Saampah Bersinar (BSB) serta para pihak yang bersinergi dalam Pentahelix  meliputi pemerintah, pengusaha, komunitas, akademisi, dan media ini, diberangkatkan dari Lapangan Udara (Lanud) Husein Sastranegara Bandung, Kamis 23 Agustus 2018.

Fifie Rahardja dari YSBI mengatakan, bantuan sebanyak itu tidak akan berhasil dikumpulkan jika tidak ada kepedulian dari para pihak yang bergabung dalam konsep kerja Pentahelix. Termasuk adanya dukungan Kejati Jabar, Kejati Bale Bandung, dan Kodam III/Siliwangi.

“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah bersinergi untuk membantu korban gempa bumi Lombok. Kita doakan semoga semua bantuan tersalurkan dengan cepat dan bermanfaat untuk semua korban,” demikian Fifie saat memberangkatkan perwakilan Tim Pentahelix ke Lombok.

Gempa di Lombok hingga hari ini masih terus terjadi meskipun dalam skala kecil. Beberapa warga mengungkapkan kekhawatirannya tidur di dalam rumah, jika tiba-tiba terjadi gempa besar lagi. "Makaya mereka lebih nyaman tidur di luar sehingga, bantuan terpal masih sangat dibutuhkan," kata Mohamad Dofir.

Selain terpal, kebutuhan makanan kemasan juga masih sangat tinggi karena para pengungsi belum bisa memprediksi sampai kapan mereka di lokasi-lokasi pengungsian."Makanan tidak hanya dibutuhkan satu dua hari, atau satu minggu, perlu terus menerus sehingga makanan yang tidak cepat basi dalam kemasan masih sangat diperlukan, seperti biskuit dan makanan lainnya," katanya.

Hunian sementara



Dofir juga menjelaskan, sekira 300 dari 2000 orang pengungsi korban Gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dari Desa Rendangbajur, Kec. Gunungsari, Kab Mataram, saat ini menghuni tenda-tenda tipis yang berada di sekitar halaman Kantor Kejati Lombok. Sebanyak 40 orang di antaranya adalah karyawan Kajati NTB. "Mereka seperti juga warga korban gempa lainnya harus mengungsi sambil menunggu perbaikan rumahnya," ujar dia.

Kepala Dusun, Hamid (42)  mengatakan, masyarakat sangat terhibur dengan kedatangan rombongan dari Bandung Jawa Barat. Selain rombongan membagikan makanan juga memberikan cara-cara trauma healing. "Beberapa ibu dan anak-anak di pengungsian ini hampir setiap malam ngigau. Mereka tampaknya sangat trauma. dengan kejadian gempa yang berturut-turut ini," ujarnya.

Dia menambahkan, selain bantuan terpal dan makanan, para pengungsi khususnya anak-anak membutuhkan sarana pendidikan karena banyak yang rusak. Sekolah-sekolah dan pondok-pondok pesantren banyak yang rusak. Selain itu, warga juga belum tahu kapan gempa akan berhenti sehingga mereka memerlukan hunian sementara.

“Kami tidak tahu kapan kami dapat membangu rumah lagi. Terpal yang ada ukurannya kecil dan tipis bahkan sudah banyak yang rusak. Khawatir kalau datang hujan. Kami ingin ada hunian sementara untuk para korban ini,” ujarnya.***

Bagikan: