Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sedikit awan, 24.2 ° C

Sultan Agung, dari 10.000 Prajurit Sampai Prangko

FILM biopik berjudul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta yang disutradarai Hanung Bramantyo resmi tayang pada 23 Agustus 2018. Sejarah mencatat, Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo atau yang lebih dikenal dengan Sultan Agung merupakan sultan dari Kerajaan Mataram.

Dia menjadi sangat dikenal karena telah mempimpin pasukan untuk menyerang markas VOC di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1628  yang saat itu dipimpin oleh JP Coen dengan tujuan mengusir VOC dari pulau Jawa.

Di balik besarnya kekuasaan Sultan Agung sebagai raja Kerajaan Mataram saat itu dan penyerangan besar yang dipimpinnya, terdapat beberapa fakta unik dan menarik yang ada, berikut ini beberapa di antaranya.

Mengutus 10.000 prajurit



Saat akan melakukan penyerangan yang terdiri atas dua masa serangan, Kerajaan Mataram mengirimkan lebih dari 10.000 prajurit ke medan perang dengan ratusan armada kapal. Serangan pertama terjadi pada 22 Agustus 1628 di bawah pimpinan Tumenggung Bahureksa dengan 59 perahu yang membawa 900 prajurit, kemudian dilanjutkan dengan serangan kedua pada bulan Oktober dipimpin oleh Pangeran Mandurareja dengan total 10.000 prajurit

Menimbulkan wabah penyakit



Saat berperang melawan VOC, Kerajaan Mataram mengalami kekalahan karena kekurangan perbekalan. Namun pasukannya berhasil mengotori sungai Ciliwung yang membuat sungai itu menjadi tercemar dan mengakibatkan Gubernur Jendral VOC saat itu JP Coen meninggal dunia karena wabah kolera dari sungai tersebut.

Prangko



Sultan Agung dopilih menjadi gambar utama dalam prangko Republik Indonesia cetakan tahun 2006. Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden Nomor 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975

Dibawah kepemimpinannya, Mataram menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu

Memiliki dua permaisuri



Sudah menjadi hal yang umum di kalangan masyarakat Kerajaan Mataram bahwa raja-raja memiliki dua permaisuri utama, begitupun dengan Sultan Agung. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri Sultan Cirebon dan yang menjadi Ratu Wetan adalah putri Adipati Batang.

Memiliki banyak gelar



Semasa hidupnya, Sultan Agung memiliki banyak gelar yang berganti-ganti sebagai simbol kekuatannya setelah meraih suatu kemenangan. Gelar yang pertama adalah Panembahan Hanyokrokusumo atau Prabu Pandita Hanyokrokusumo.

Setelah menaklukkan Madura pada 1624, gelarnya berubah menjadi Susuhan Agung Hanyokrokusumo. Kemudian pada 1640-an, ia menggunakan gelar Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurraman dan pada 1641 Sultan Agung mendapatkan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram. (Fitriayana Sasmita Siregar)***

Bagikan: