Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 24.2 ° C

Terpal Barang Langka di Lombok

Siska Nirmala (error)
SEJUMLAH warga berada di tenda pengungsian pascagempa di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, Senin, 20 Agustus 2018 lalu. Pascagempa bumi yang berkekuatan 7 Skala Richter mengguncang Lombok pada Minggu malam pukul 22.56 Wita mengakibatkan sejumlah rumah di daerah tersebut roboh dan puluhan warga mengungsi.*
SEJUMLAH warga berada di tenda pengungsian pascagempa di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, Senin, 20 Agustus 2018 lalu. Pascagempa bumi yang berkekuatan 7 Skala Richter mengguncang Lombok pada Minggu malam pukul 22.56 Wita mengakibatkan sejumlah rumah di daerah tersebut roboh dan puluhan warga mengungsi.*

MATARAM, (PR).- Warga terdampak gempa bumi 6,9 Skala Richter (SR) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, kesulitan mendapatkan terpal di pasaran untuk tenda darurat. Jika pun ada, harganya melambung bisa mencapai Rp 1 juta dari biasanya Rp 450 ribu.

"Kami sudah cari-cari dimana, sampai ke Pasar Cakranegara, Mataram sejak gempa besar pada 5 Agustus 2018, sampai sekarang tidak dapat juga," kata Nur Saad, warga Dusun Senaru kepada Antara di Lombok Utara, Rabu, 22 Agustus 2018, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Terpal yang dicari warga itu berukuran 6 x 7 meter yang mampu menampung delapan orang. "Bantuan dari pemerintah untuk terpal belum ada juga, jadi kita harus mencari. Tapi sulit sekali dan harganya melambung," katanya.

Ia mengatakan bantuan terpal dari pemerintah hanya ke orang-orang yang sama yang telah mendapatkan bantuan. Sedangkan banyak warga korban gempa lainnya yang belum mendapatkan bantuan.

Akibatnya warga pun harus memanfaatkan sisa terpal dari lahan pertaniannya atau kandang hewan ternak yang sudah rusak, untuk dijadikan penahan dingin kabut malam.

Bukan saja terpal, jeriken untuk air melambung tinggi. Dari harga semula Rp 35 ribu menjadi Rp 55 ribu per unit. "Itupun jadi barang langka juga," katanya.

Akibat langkanya terpal, kata dia, pernah terjadi perkelahian sesama warga saat mendapatkan sumbangan dari pendonor dari Bogor, Jawa Barat. "Saya dapat bantuan pakaian bekas untuk 33 posko sumbangan, di antara pakaian bekas ada satu terpal. Dua warga berebutan sampai berkelahi," katanya.

Hal senada dikatakan oleh Aminah, warga Dusun Koko Putek, yang belum juga mendapatkan terpal dari pemerintah dan hanya memanfaatkan dari sisa terpal yang ada.

"Terpal ini sudah bolong, tetap saya gunakan dibandingkan kedinginan malam hari. Rumah sudah ambruk," katanya.***

Bagikan: