Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.4 ° C

Kemerdekaan Universal yang Tak Hanya Milik Bumi Putera

Muhammad Irfan
Yang Chil Sung (kanan) dan Hasegawa (kiri) saat ditangkap Belanda di perbatasan Tasikmalaya-Garut.*
Yang Chil Sung (kanan) dan Hasegawa (kiri) saat ditangkap Belanda di perbatasan Tasikmalaya-Garut.*

TIGA hari lalu, Republik Indonesia baru saja memperingati hari jadinya yang ke-73. Hari jadi yang ditandai oleh pembacaan proklamasi oleh Presiden pertama, Soekarno didampingi Wakilnya Mohammad Hatta. 

Tetapi bukan berarti setelah pembacaan proklamasi 73 tahun lalu, Indonesia 100 persen bebas dari belenggu penjajahan. Masih ada Belanda berkedok sekutu yang hendak menancapkan lagi kukunya di republik.

Kondisi ini tentunya membuat para pejuang kembali angkat senjata. Menjaga teritori yang sudah disepakati dari rongrongan Belanda.

Tetapi perjuangan tak hanya milik mereka yang asli bumi putera. Garut menjadi saksi atas perjuangan satu orang Korea yang memilih berjuang di republik. Merayakan akhir usia mereka dengan pekik "Merdeka" yang bersahutan dengan desing peluru Belanda di kepala. Dia adalah Yang Chil Sung.

Chil Sung sebenarnya tidak sendiri. Bersamanya ada empat orang Jepang yang memilih berjuang di garis depan. Menurut sejarawan muda, Hendi Jo, Chil Sung saat itu bisa bergabung dengan laskar republik setelah dirinya ditangkap oleh milisi Garut, Pasukan Pangeran Papak (PPP) yang dipimpin oleh SM Kosasih. Kala itu, di tahun 1946, PPP mengepung Cimahi, tempat Chil Sung bertugas, untuk mengambil persenjataan milik Jepang yang telah menyerah.

Chil Sung sendiri bisa masuk ke barisan tentara Jepang karena saat itu Korea masih merupakan koloni Jepang sejak 1910. Pria kelahiran Wanjoon, 29 Mei 1919 ini datang ke Indonesia pada 1942 lewat Tanjung Priok untuk ditugaskan di Cimahi sebagai phorokamsiwon atau penjaga tahanan Jepang.

"Singkat cerita, PPP yang merupakan bagian dari Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia pimpinan Bung Tomo ini mengepung Bandung dan membuat Chil Sung bersama kawan-kawannya yang lain termasuk tentara Jepang menyerah," kata Hendi dalam diskusi sejarah "Universalitas Sebuah Kemerdekaan: Peran Pejuang Korea dalam Revolusi Indonesia" di Jakarta, Sabtu, 18 Agustus 2018 lalu.

Kegusaran laskar PPP terhadap tentara kolonial --yang tak bisa mereka bedakan antara Jepang atau Korea-- membuat nyawa Chil Sung dan tawanan lainnya yang sudah dibawa ke Wanaraja, Garut terancam.

Beruntung, SM Kosasih memilih tak menghabisi nyawa Chil Sung dan empat teman Jepangnya setelah mendapat arahan dari Raden Djajadiwangsa, penasehat PPP yang juga keturunan Pangeran Papak, bangsawan Pajajaran terakhir yang namanya diabadikan sebagai nama laskar pimpinan Kosasih itu.

"Kata Raden Djajadiwangsa lima orang ini akan menguntungkan perjuangan. Akhirnya dirawat baik-baik dan mereka merasa betah di Garut hingga mereka memutuskan masuk Islam dan ikut berjuang. Lima orang itu adalah Hasegawa yang berganti nama menjadi Abu Bakar, Aoki menjadi Usman, dan dua orang Jepang lain yang berganti nama menjadi Umar dan Ali."

Hendi menambahkan: "Sementara Yan Chil Sung yang sebelumnya punya nama Jepang Yanagawa diganti jadi Komarudin. Menurut Dadang Koswara yang merupakan cucu Raden Djajadiwangsa pemilihan nama ini disesuaikan dengan karakter mereka. Komarudin itu cahaya yang menerangi agama."

Cahaya yang menerangi agama



Tak berlebihan rasanya menamakan Chil Sung sebagai cahaya yang menerangi agama. Karena, kata Hendi, sosoknya memang menginspirasi para pejuang Wanaraja kala itu. Dia pandai merakit bom, bahasa asing yang aktif mulai dari Inggris, Belanda, Jepang Indonesia, dan Sunda, serta bisa menggunakan berbagai senjata. 

Bahkan pada 1947, ketika Wanaraja hendak diserang, Chil Sung membuat dan memasang sendiri bom di Jembatan Cimanuk agar Wanaraja tak bisa dimasuki oleh Belanda.

"Dia bahkan jadi instruktur di PPP bersama Hasegawa. Saking geramnya Belanda, mereka bahkan melibatkan satu tim elit buru sergap dari Yon 3-14-RI (Regiment Infanterie) untuk menangkap orang-orang ini," kata Hendi.

Sepak terjang Chil Sung bersama kawan-kawan Jepangnya harus berakhir pada Agustus 1948. Wanaraja yang mulai sepi karena ditinggal hijrah Divisi Siliwangi ke Yogyakarta imbas dari Perjanjian Renville (17 Janurai 1948), dijadikan kesempatan bagi Belanda untuk menangkap 'tentara asing' ini.

Hendi menyebut, meski saat itu Divisi Siliwangi hijrah, tetapi pimpinan mereka tetap menyisakan sebagian prajurit tangguh di Jawa Barat untuk meneruskan gerilya. Beberapa eks-tentara Jepang termasuk Chil Sung, Hasegawa dan Usman menjadi bagian yang ditinggalkan bersama pimpinannya, Letnan Djoehana.

"Jadi di sebuah rapat pada Agustus 1948 di Desa Parentas, kaki Gunung Dora yang dihadiri juga oleh Chil Sung, Hasegawa, dan Usman ini diam-diam ada mata-mata. Dia orang Garut asli yang membocorkan pertemuan ini. Lewat tengah malam, operasi penangkapan dijalankan. Karena sudah terkepung, Letnan Djoehana, Chil Sung, dan yang lainnya menyerah," ucap dia.

Mereka langsung dihadapkan pada pengadilan kilat yang dibuat Belanda. Chil Sung, Hasegawa, dan Usman dijatuhi hukuman mati. Sementara Letnan Djoehana dihukum seumur hidup di Cipinang, Jakarta. Eksekusi terhadap trio eks-Jepang ini digelar di seberang Sungai Cimanuk pada 9 Agustus 1948.

"Sebelum dieksekusi ketiganya minta didatangkan seorang penghulu dan berpesan agar jenazah mereka dimakamkan secara Islam. Kepada Belanda, mereka minta dieksekusi menggunakan sarung merah Tjap Padi dan baju koko warna putih. Dieksekusi sekitar pukul 06.00, mereka sempat meneriakkan kata "Merdeka" sebelum ditembak," ujar Hendi seraya menuturkan ketiganya dimakamkan di Pasirpogor sebelum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya pada 1995.

"Mereka bersikap seragam, berani datang menghadapi hukuman mati, ditembak di kepala dan serempak mengatakan Merdeka. Mereka meninggal dalam kondisi sebagai orang Islam dan Indonesia yang kaffah," kata Hendi menambahkan.

Orang Korea di Kesatuan Jepang



Dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Rostineu menyebut di zaman penjajahan Jepang di Indonesia, ada dua tenaga tempur bangsa Korea yang dimanfaatkan Jepang saat itu sebagai gunsok(tentara pembantu) dan ilbon gunnin (tentara reguler Jepang). Mereka dimobilisasi sejak 1942 ke Asia Tenggara.

Berdasarkan data yang dimiliki Rostineu ada 3.223 gunsok yang dipasok dan 43 persennya dikirim ke Indonesia dan ditugaskan di Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Cilacap, dan Surabaya.

"Gunsok ini juga bertuga mensupervisi tentara Heiho bentukan Jepang yang terdiri dari prajurit muda Indonesia. Jadi mereka (tentara Heiho) belajar bukan dari orang Jepang langsung tetapi orang Korea yang ada di kesatuan Jepang," kata Rostineu.

Namun, seperti Heiho dan PETA yang dibetuk Jepang di Indonesia dan melakukan perlawanan terhadap Jepang di Blitar pada 1945, para tentara Jepang berkebangsaan Korea ini juga punya semangat memerdekakan bangsanya yang dijajah Jepang sejak 1910. Mereka bahkan membuat organisasi rahasia Koryeodokripcheongnyeondan atau Korea Freedom Fighter Youth Grop yang berkoordinasi dengan prajurit Indonesia dari Heiho dan tawanan Inggris karena jengkel dengan perlakuan tentara Jepang saat bertugas. 

Kelompok ini pun pernah melakukan pemberontakan di Ambarawa pada 4 Januri 1945. Namun karena bersifat spontan dan tak terorganisir, pemberontakan pun mudah dilumpuhkan. Tiga anggota kelompok yakni Sun Yang Sup, Min Yeing Hak, dan No Byung Han yang dianggap provokator mendapat hukuman berat dari Jepang.

"Kemerdekaan saat itu sangat universal. Mereka punya simpati yang sama untuk merdeka. Pemikiran itu sudah dimiliki oleh Heiho dan tentara Korea. Mereka sejak awal jadi tentara Jepang pun sudah memulai gerakan kemerdekaan," kata Rostineu.

Menambahkan Rostineu, Hendi juga berujar diangkatnya tokoh-tokoh non-bangsa Indonesia dalam membicarakan kemerdekaan Indonesia sengaja dilakukan untuk meredam fanatisme atas nasionalisme yang terjadi selama ini. "Saya khawatir menjadi ultra-nasionalis. Padahal ada juga mereka yang bukan orang Indonesia, tapi juga mereka merasakan juga ketertindasan dan ikut berjuang," kata Hendi.

Diskusi ini juga diisi oleh paparan sejarawan Rushdy Hoesein yang menceritakan masa penjajahan Jepang di Indonesia dan perjuangan revolusi. Dimoderatori oleh Wen Said, acara yang diselenggarakan oleh Historika Indonesia ini juga memantik banyak diskusi baik dari peserta lokal atau Korea yang berasal dari Korea Cultural Center.***

Bagikan: