Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 29.5 ° C

Kala Aroma Pilpres 2019 Menyeruak di Sidang Tahunan MPR

Muhammad Irfan

DUA pasang calon presiden dan wakil presiden Indonesia pada Pemilihan Presiden 2019 nanti telah terdaftar. Partai sebagai elemen pengusung sudah terbagi. Ada yang berkoalisi, ada pula yang memilih menjadi oposisi. Meski belum disahkan, atmosfer kompetisi antar kandidat sudah terasa.

Atmosfer ini bisa dirasakan di berbagai lapisan. Baik yang nyata maupun maya. Di akar rumput dalam obrolan sehari-hari, hingga lobi-lobi para petinggi. Atmosfer ini pun mengemuka, tak terkecuali di resminya Sidang Tahunan DPR/MPR/DPD RI, Kamis 16 Agustus 2018.

Entah disengaja atau tidak, dalam sidang kali ini ada kesan saling sindir dari para pimpinan lembaga yang berpidato. Pidato yang disampaikan oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan misalnya, menyebut jargon 'Aspirasi Emak-emak' yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Seperti diketahui, jargon ini pertama kali disebut oleh bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno saat mendaftar di KPU, 10 Agustus 2018 lalu. Sementara, kita juga sama-sama tahu, kalau sosok Zulkifli Hasan adalah ketua umum PAN yang ikut mengusung pasangan Prabowo-Sandi bersama Gerindra, PKS, dan Demokrat.

"Bapak Presiden, ini titipan emak-emak. Titipan rakyat Indonesia agar harga-harga terjangkau, terutama kebutuhan pokok," kata Zulkifli.

Zulkifli lantas meneruskan pidatonya dengan menyampaikan tiga tantangan perekonomian nasional yang disebutnya membutuhkan terobosan kebijakan pemerintah. Dia juga mengkritisi masalah kesenjangan ekonomi yang masih terjadi hingga masalah pengelolaan utang Indonesia.

"Yang sangat perlu diperhatikan adalah golongan miskin dan hampir miskin masih sangat besar jumlahnya. Golongan ini sangat rentan terhadap perubahan harga," kata dia.

Sindiran lain muncul di akhir pidato Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Jika pidato Zulkifli Hasan terdengar menyindir Jokowi, maka pidato Bambang yang berasal dari Partai Golkar justru sebaliknya. Seperti diketahui, bersama PDIP, PKB, PPP, Nasdem, dan Hanura, Golkar menjadi partai pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Sindiran Bambang disampaikan dalam bentuk pantun. Dia menyinggung pilihan Prabowo mengenai cawapresnya yang bukan seorang ulama. "Pak Prabowo Ketua Gerindra. Sering terima tamu di Kertanegara (rumah Prabowo di Jakarta). Publik mengira akan tunjuk ulama. Ternyata wakil yang tak tersangka," ujar Bambang Soesatyo sambil menutup Paripurna.

Pantun jail Bambang tentu mengundang tawa dari seisi ruangan. Meski demikian, ketika dikonfirmasi mengenai pantunnya, Bambang mengaku pantun itu dibuat spontan. Dia pun menyerahkan pengertian pantun itu kepada masing-masing. "Itu spontan saya tulis di meja dan setelah itu saya bacakan," ujarnya.

Pesan Persatuan



Namun meskipun ada saling sindir, pesan persatuan tetap menjadi pesan utama yang disampaikan oleh para petinggi negara. Zulkifli Hasan yang memulai sidang tahunan dengan sidang MPR misalnya, mengingatkan kembali kisah persahabatan Ignatius Joseph Kasimo dengan M Natsir atau Prawoto Mangkusasmito.

Untuk diketahui Kasimo adalah pimpinan pendiri Partai Katolik Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri persediaan makanan rakyat. Sementara Natsir tokoh penting di Masyumi, Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Partai Islam terbesar di era Sukarno. Sedangkan Prawoto, berasal dar partai yang sama dengan Natsir dan sempat menjadi Wakil Perdana Menteri dan Wakil Ketua Konstituante,

"Pak Kasimo dan Pak Natsir bersepeda bersama setelah debat sengit di parlemen. Sementara pak Prawoto adalah pribadi yang jujur, berdedikasi, dan sangat sederhana. Ia tak kunjung memiliki rumah. Ketika hendak membeli rumah yang sudah lama dia kontrak, Pak Kasimo membantunya," kata Zulkifli.

Zulkifli juga mengenang kisah persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta yang tetap hangat dan akrab meski berbeda pandangan politik dan tak menemui titik yang sama tentang demokrasi. Atau Buya Hamka yang bergegas mengimami shalat jenazah Bung Karno kendati dulu pernah dipenjarakan tanpa proses peradilan. "Bagi Buya Hamka, perbedaan politik bukan halangan untuk memaafkan," kata dia.

Dari sederet kisah teladan ini, Zulkifli pun menambahkan kalau memimpin adalah mengabdi, bukan sekadar jalan mencari kuasa. "Seperti Bung Hatta yang tak mampu membeli sepatu Bally sampai akhir hayatnya. Atau prinsip KH Agus Salim dalam Leiden is Lijden. Memimpin adalah jalan menderita," ucap dia.

Sementara Bambang Soesatyo mengingatkan setiap elemen bangsa untuk menjaga keteduhan politik terutama jelang pesta demokrasi Pileg-Pilpres 2019 nanti. Menurut dia, diperlukan kearifan dalam memanfaatkan media sosial, terutama terkait dengan isu-isu politik yang berbau SARA dan menyulut maraknya politik identitas.

Bambang menyebut seluruh pihak tidak boleh membiarkan berkembangnya politik identitas yang dapat menyulut permusuhan serta mengancam persatuan dan keutuhan bangsa. "Bayangkan, karena berbeda haluan politik, tokoh agama acap kali dihujat. Petinggi partai politik dicaci-maki. Presiden dan lembaga-lembaga negara sebagai simbol kedaulatan negara dilecehkan. Mereka dianggap tak mampu. Program pemerintah dianggap nihil," kata Bambang. 

Menurut dia, perbedaan politik bukanlah hal yang terkutuk dan kritik tak boleh berubah menjadi pembunuhan karakter yang kejam. Jangan sampai terjadi pula digoncangnya fondasi berbangsa dengan isu SARA atau strategi politisasi agama yang berakibat menguatnya politik identitas.

"Akibatnya, kebinekaan kita dalam bahaya. Semua orang cenderung menyatakan diri merasa paling benar. Kerukunan umat beragama justru dianggap tabu. Akal sehat dianggap nista. Karena itu, sudah saatnya, kita harus berani mengatakan secara tegas: Selamat Tinggal Politik Identitas!," kata dia.

Bambang pun mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kembali sendi-sendi politik kebangsaan, yang memberi ruang dan penghormatan terhadap kebinnekaan. Yang menyuburkan kedamaian dan kebersamaan. "Sehingga semua warga bangsa merasa nyaman, hidup rukun dan bahagia dalam rumah besar Pancasila," ucapnya.

Pesan yang sama juga disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Mengutip sebuah pribahasa Sunda "sacangreud pageuh, sagolek pangkek", Jokowi menggambarkan kebutuhan bangsa Indonesia menginjak usia yang ke-73 untuk tetap bersatu dalam meraih cita-cita yang dituju.

"Kita harus bekerja bersama dengan komitmen dan konsistensi," kata Jokowi di hadapan peserta sidang yang diisi oleh para anggota dan petinggi parlemen, lembaga negara, duta besar negara sahabat, juga disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Harapan yang disampaikan Jokowi tentu bukan tanpa alasan. Menurutnya, dalam perjalanan sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia tidak lepas dari tantangan dan cobaan yang menguji persatuan dan kesatuan. Jatuhnya bangunnya sebuah bangsa sangat tergantung pada bangsa itu sendiri.

"Apakah bangsa itu mau bersatu ataukah sebaliknya? Tidak berlebihan pada momentum peringatan hari kemerdekaan tahun ini saya mengajak seluruh anak bangsa untuk kembali pada semangat kepedulian dan berbagi pada sesama anak bangsa tanpa membedakan asal usul suku, agama, atau pun golongan," kata Jokowi.

Jokowi pun optimistis, Indonesia akan menjadi bangsa yang dipandang tinggi oleh bangsa lain jika bisa mempertahankan persatuan, berbagi, dan peduli pada sesama anak bangsa.Semangat ini ditambah dengan semangat kerja bersama agar bangsa Indonesia semakin mampu menghadapi seluruh tantangan masa depan untuk mencapai prestasi bangsa: Indonesia maju yang gemilang.

"Maka Indonesia bukan lagi hanya sekadar nama ataupun gambar sederetan pulau di peta dunia, melainkan sebuah kekuatan yang disegani oleh bangsa lain di dunia," ucap dia.***

Bagikan: