Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Prabowo-Sandiaga Uno Diyakini Miliki Peluang Lebih Besar

Ari Nursanti

BANDUNG, (PR).- Pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo-Sandiaga Uno dinilai memiliki peluang yang lebih besar dibandingkan dengan pasangan petahana Jokowi-Ma'ruf Amin. 

Demikian disampaikan Peneliti politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah. Jokowi-Ma'ruf Amin secara ketokohan berada pada titik puncak, sulit meningkatkan elektabilitas, hal ini menyulitkan pasangan petahana untuk berinovasi menggandeng pemilih baru. Berbeda dengan Prabowo yang memilih Sandiaga yang notabene politisi muda dan memiliki catatan performa cukup baik.

"Prabowo miliki potensi mendulang suara baru, dari kalangan muda dan ibu-ibu, magnetnya ada pada performa Sandiaga Uno," kata Dedi, kemarin.

Pemilihan Sandiaga mendampingi Prabowo cukup strategis, selain karena Sandiaga tidak memiliki catatan buruk dalam kontestasi politik, Sandiaga adalah tokoh penting ekonomi Indonesia. Di luar itu, tren kesukaan pemilih pada tokoh juga terakomodasi, mereka yang tidak menyukai Prabowo karena sosoknya yang kaku, militer, dapat mengalihkan perhatian pada sosok muda dan membaur, Sandiaga sejauh ini mampu menghadirkan relasi publik yang cukup mempesona, terutama untuk pemilih pemula yang jumlahnya cukup signifikan.

Pompa elektabilitas



“Ini persoalan performa, Jokowi-Maruf Amin basis pemilihnya kelompok loyalis parpol dan organisasi Islam semisal NU, tetapi tak lantas masyakat NU kelas bawah dapat tergiring, dan Sandiaga hadir untuk meraup kalangan pemilih di luar itu, dan jumlahnya berpotensi lebih banyak dibanding Jokowi," ujar Dedi seperti dikutip dari PRFM News. 

Di atas kertas, beberapa lembaga survei politik sebelum penentuan pasangan capres cawapres, pemilih Jokowi konsisten, sedang pemilih Prabowo dinamis, dengan hadirnya Sandiaga memungkinkan mesin politik koalisi Prabowo memaksimalkan ketokohan Sandi.

"Sekarang, kerja berat dari Koalisi Gerindra adalah memompa elektabilitas, mereka belum sampai pada titik puncak, berbeda dengan Jokowi yang tugas beratnya adalah mempertahankan elektabilitas, memastikan gerakan tagar #2019GantiPresiden tidak semakin membumi," ucap Dedi.***

 

Bagikan: