Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Jokowi-Ma'ruf Amin Punya Komposisi Pas, Prabowo-Sandiaga Uno Punya Militansi PKS

Muhammad Irfan
Warga mengenakan topeng pasangan Capres Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat melakukan aksi di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Jumat, 10 Agustus 2018. Aksi tersebut sebagai bentuk suka cita dan dukungan masyarakat kepada kedua pasangan Capres-Cawapres yang akan maju pada Pilpres 2019 serta berharap pilihan Presiden 2019 berjalan dengan aman dan damai.*
Warga mengenakan topeng pasangan Capres Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat melakukan aksi di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Jumat, 10 Agustus 2018. Aksi tersebut sebagai bentuk suka cita dan dukungan masyarakat kepada kedua pasangan Capres-Cawapres yang akan maju pada Pilpres 2019 serta berharap pilihan Presiden 2019 berjalan dengan aman dan damai.*

JAKARTA, (PR).- Pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani Arlan Sidha menilai, tidak mudah bagi kubu Prabowo-Sandiaga Uno untuk melawan petahana dengan jumlah partai yang gemuk. Perlu strategi yang sangan terukur apalagi posisi Jokowi-Ma'ruf Amin adalah komposisi komplit beberapa partai seperti PDIP, Nasdem, dan Golkar yang sangat mewakili barisan nasionalis dan PPP serta PKB yang mewakili kalangan religius.

"Hal ini memudahkan mereka diterima oleh pesantren dan tokoh ulama. Ditambah penguasaan media oleh beberapa partai sangat bisa membantu Jokowi-Ma'ruf Amin untuk terus di-branding dalam media. Apalagi jika muatan logistik yang besar dimiliki juga oleh petahana," kata Arlan. 

Namun, di sisi lain, kubu oposis diuntungkan dengan kehadiran PKS yang militansi hingga perjuangan kadernya bisa hidup sampai akar rumput. Peluang ini harus bisa dimanfaatkan betul.

"Sementara bergabungnya Demokrat bisa membantu daya gedor terutama ketokohan SBY. Kesulitan oposisi adalah posisi tawar petahana yang memiliki ulama. Ini akan sangat mudah dikenal bahwa petahana sarat akan keseimbangan nasionalis dan religius," ucap dia.

Adapun branding post-islamisme atau santri modern yang disematkan PKS terhadap Sandi untuk mengimbangi kebutuhan figur religius dirasa Arlan terlalu dipaksakan. Karena beberapa masyarakat di Indonesia akan sulit mengenal istilah tersebut.

"Perlu strategi lain untuk menjawab hal tersebut. Saya pikir pola pendekatan program bisa lebih dipahami ketimbang melebeli seseorang dengan bahasa yang sulit dipahami di akar rumput," kata dia.

Arlan pun menilai pertandingan ini akan sulit dirasakan di kelas menengah namun berada di akar rumput pemilih tradisional. "Dan pemilih milenial yang sebisa mungkin harus bisa diraih karena jumlah mereka sangatlah besar," ucapnya.***

Bagikan: