Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sedikit awan, 25.1 ° C

Ditutup Besok, Simak 3 Alasan Mengapa Belum Ada Capres dan Cawapres yang Mendaftar

Ari Nursanti

BANDUNG, (PR).- Jelang H-1 penutupan pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk Pilpres 2019, belum ada kubu yang mendaftarkan pasangan calonnya (paslon) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Masa pendaftaran capres dan cawapres Pilpres 2019 dibuka sejak 4 Agustus dan akan ditutup pada besok Jumat 10 Agustus 2018.

Hal ini terjadi diyakini karena dinamika para partai politik (parpol) masih sangat tinggi jelang penutupan pendaftaran capres dan cawapres. Sehingga menurut Pengamat Politik dari Pusat Studi Politik dan Demokrasi Fisip Unpad, Firman Manan, belum bisa dipastikan berapa pasangan calon yang akan maju dalam Pilpres 2019.

“Beberapa hitung-hitungan masih mungkin, bisa calon tunggal dua paslon, atau bahkan tiga paslon. Kedua, juga nama-nama yang belum jelas sampai saat ini, bahkan ada kemungkinan kita baru bisa mengetahui seperti apa petanya pilpres itu pada saat 10 Agustus,” ujar Firman saat on air di PRFM, Rabu 9 Agustus 2018 malam.

Firman menilai, ada beberapa alasan yang membuat para koalisi belum mendaftarkan secara resmi capres dan cawapresnya untuk Pilpres 2019 hingga saat ini. Pertama, perihal aturan presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden sebesar 20 persen. Artinya, tidak ada partai politik yang bisa mengajukan calonnya sendirian.

“Pertama soal presiden 20 persen, membuat kemudian banyak variabel yang menyebabkan tidak mudah untuk memutuskan siapa yang akan maju menjadi paslon. Karena kalau kita bicara 20 persen, maka tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan calonnya sendirian, tentu saja kemudian harus membangun koalisi,” katanya menjelaskan.

Sementara yang kedua yaitu adanya koalisi partai. Menurut  Firman, kesepakatan koalisi partai menjadi semakin sulit dicapai. Sebab, posisi cawapres itu hanya satu, sedangkan ada beberapa koalisi partai yang mungkin memiliki calonnya masing-masing. Sehingga dibutuhkan hasil akhir yang adil untuk semua partai pengusung.

Elektabilitas



“Untuk koalisi petahana Jokowi, paling tidak ada lima partai yang menyatakan akan mengusung Jokowi. Cuman persoalannya kan, siapa yang menjadi cawapres, tentu ini tidak mudah mencapai kesepakatan, karena ada lima partai bahkan masih ada kemungkinan bertambah, sementara posisi, sehingga kalau ada salah satu partai itu menjadi cawapres, apa insentif yang didapat partai lain, atau bahkan komprominya bukan dari partai yang menjadi cawapres,” jelas Firman. 

Sedangkan ketiga, persoalan elektabilitas calon itu menjadi sangat penting. Penting bagi para pengusung, untuk mencari figur yang punya popularitas dan tingkat elektabilitas yang relatif tinggi. Dan terakhir, tentunya persoalan logistik. Sebab, Pilpres itu biaya politiknya besar, sehingga persoalan logistik itu menjadi persoalan yang belum mendapatkan titik temunya. 

“Karena ini dipilih oleh rakyat, maka persoalan elektabilitas itu menjadi penting, jadi tidak semata-mata mengusung siapa pun, tetapi menghitung betul figur yang punya popularitas, sehingga dia punya potensi untuk menang. Lalu persoalan logistik, ini juga yang menjadi perbincangan alot, karena bagaimana pun kalau kita bicara pemilhan secara langsung, biaya politiknya tidak kecil, itu juga menjadi problem yang sampai malam ini belum ada titik temunya,” ungkap Firman.***

Bagikan: