Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Perjalanan Politik Yusuf Supendi, Mendirikan PKS Sampai Bergabung ke PDIP

YUSUF Supendi, calon legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Jumat 3 Agustus 2018, pukul 06.00 WIB.

Menurut Ketua PDIP Hendrawan Supratikno, Yusuf Supendi sempat mengikuti pelatihan dalam rangka persiapan pencalegan beberapa hari sebelumnya. Oleh karenanya, meninggalnya pria yang dilahirkan di Bogor 15 Mei 1958 tersebut membuat PDIP berduka.

"Semoga kasih sayang, teladan, dan kenangan bersama beliau tetap hidup di antara keluarga dan teman-teman. Semoga husnul khatimah," Kata Hendrawan seperti dilaporkan Kantor Berita Antara.

Duka citapun mengalir tidak hanya dari PDIP, namun juga dari Partai Keadilan Sejahtera yang sempat ikut dibesarkannya. PKS, partai yang turut dibidani kelahirannya oleh Yusuf Supendi tersebut menyampaikan duka citanya melalui akun Twitter DPP PKS.

"Turut berduka cita, segenap keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera mengucapkan duka cita atas wafatnya Ust Yusuf Supendi Lc. Semoga Almarhum memperoleh khusnul chotimah," demikian pernyataan bela sungkawa PKS dalam akun twitternya.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas juga turut berbelasungkawa atas meninggalnya pendiri Partai Keadilan, cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yusuf Supendi.

Yusuf Supendi dimakamkan sesudah Sholat Jumat di TPU Kober, Kalisari, Cijantung pada Jumat, 3 Agustus 2018.

Perjalanan



Yusuf Supendi berasal dari keluarga ulama terpandang di Bogor. Paman dari putra kelahiran Bogor tersebut, KH Soleh Iskandar, adalah salah satu ulama besar di Bogor.

Masa kecil Yusuf Supendi dihabiskan di Bogor, dan menyelasaikan sekolah dasarnya di kota hujan tersebut. Yusuf kecil menyelesaikan SD-nya di Madrasah Ibtidaiyah Ibnu Hajar, kemudian meneruskan SMP dan SMA-nya di Pondok Pesantren Darul Falah Bogor.

Pada 1979, Yusuf Supendi meneruskan sekolahnya di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh, Arab Saudi. Sepulang dari Arab Saudi, Yusuf Supendi bersama teman-temannya mendirikan gerakan tarbiyah yang kelak menjadi cikal bakal dari Partai Keadilan. Yusuf Supendipun bergelut untuk berdakwah.

Yusuf Supendi mengawali karir politiknya dengan turut serta mendirikan dan menjadi deklarator Partai Keadilan pada 20 Juli 1998. Partai yang mendeklarasikan dirinya sebagai Partai Dakwah.

Partai tersebut gagal memenuhi ambang batas parlemen dua persen, namun mengantarkan Ketua Umumnnya waktu itu Nur Mahmudi Ismail menjadi Menteri Kehutanan di Kabinet Persatuan Nasional di bawah pimpinan Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada 2003, untuk mengikuti pemilu 2004, sesuai aturan Partai Keadilan harus berganti nama. Partai Keadilan Sejahtera dipilih sebagai nama baru PK untuk ikut pemilu 2004.

Dalam pemilu tersebut, pria yang menamatkan pendidikannya di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh, terpilih menjadi anggota DPR periode 2004-2009 dari daerah pemilihan IV Kabupaten/Kota Bogor.

Pindah kubu



Pada 2009 ia terlibat konflik internal dalam tubuh PKS. Akibat konflik tersebut, ia diberhentikan dari PKS pada 2010, yang kala itu menjabat Wakil Ketua Dewan Syariah PKS. Ia sendiri pernah menjabat Wakil Ketua dan anggota Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera periode 2000-2010.

Yusuf sempat menggugat PKS atas pemecatan itu, namun gugatan Yusuf ditolak oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2012.

Yusuf kemudian berlabuh ke Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pada 2013 yang waktu itu dipimpin oleh Wiranto, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan di Kabinet Kerja. Namun di Hanura, Yusuf gagal melaju ke parlemen.

Yusuf secara mengejutkan, pada 2018 bergabung dengan PDIP. "Terkait pilihan politik, itu merupakan 'ijtihad' saya setelah berkonsultasi dengan semua pihak termasuk ibunda. Saya telah menjadi kader PDIP sejak 9 Juli 2018 setelah mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA)," kata Yusuf saat bergabung dengan partai berlambang banteng tersebut.

Yusuf dalam kesempatan itupun berniat akan berjuang mengubah persepsi yang keliru bahwa PDIP sebagai partai anti-Islam.

"Saya amati di lapangan dan membaca laporan riset yang berwibawa misalnya dari Saiful Mujani bahwa pemilih PDIP itu 70 persen kaum santri, muslimin yang taat beragama, maka tepat jika saya bergabung dengan partai ini," kata Yusuf.***

Bagikan: