Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya cerah, 16.7 ° C

Usai Bertemu Jokowi, TGB Zainul Majdi Tanggapi Isu Kemungkinan Jadi Cawapres Jokowi

Muhammad Ashari
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Madji atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Madji atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang.

JAKARTA, (PR).- Sejumlah tokoh yang masuk dalam kandidat pendamping Jokowi turut hadir dalam acara Partai Nasdem di Jakarta, Senin 16 Juli 2018. Beberapa nama itu seperti Mahfud MD, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi alias TGB Zainul Majdi, dan Airlangga Hartarto. 



Seusai kuliah umum, tokoh-tokoh tersebut, bersama Jokowi, tidak langsung ke luar gedung. Sekitar 15 menit mereka berada di dalam gedung. 



Ditemui seusai acara, TGB Zainul Majdi yang juga Gubernur Nusa Tenggara Barat mengaku hanya bicara biasa saja dengan Jokowi di dalam gedung. Tidak ada pembicaraan khusus. "Ya beliau (Jokowi) sudah agak lama tidak ketemu sehingga menyampaikan mungkin mau ke NTB," ujarnya. 



Terkait Pilpres 2019, Ia mengatakan, merupakan hak prerogatif Jokowi untuk menentukan pendampingnya dalam pilpres nanti. Begitu pun bila namanya ternyata masuk sebagai kandidat pendamping Jokowi. 



Zainul menanggapi masuknya nama ia sebagai kandidat pendamping Jokowi sebagai sesuatu yang baik dan patut disyukuri. "Semua yang baik disyukuri saja, semua yang baik disyukuri," katanya.        



Namun demikian, ia mengelak ketika ditanya kesiapannya bila ternyata dipilih oleh Jokowi untuk menjadi pendampingnya. Menurutnya, kesiapan itu baru bisa dijawab setelah ada keputusan yang resmi dari Jokowi. 



"Jawaban itu kan kalau sudah ada sesuatu yang jelas. Tapi, yang jelas, banyak tokoh bangsa yang lebih hebat. Bersama saya (di dalam gedung) ada Pak Mahfud, banyak. Ada Pak Airlangga juga," tutur TGB Zainul Majdi.

Mahfud MD serahkan pada Jokowi



Sementara Mahfud MD mengaku belum tahu menahu mengenai proses pendamping Jokowi, meski namanya masuk sebagai kandidat. Menurutnya, yang mengetahui hal tersebut hanyalah Jokowi sendiri dan partai-partai pendukungnya. Ia pun mengaku lebih banyak mengikuti informasi tentang capres-cawapres dari media massa. 



"Dalam proses seperti ini, siapapun calon wapresnya kan tidak harus tahu. Mungkin belum ada yang tahu juga yang di kantong Pak Jokowi itu siapa saja dan dari mana atau yang dibocorkan Pak Jokowi kepada media. Kalau saya, tidak tahu," kata Mahfud yang merupakan Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.



Menurutnya, proses penentuan capres-cawapres kini tengah bergulir. Ia menyatakan harapannya agar kelak dari proses itu bisa lahir calon yang terbaik. "Yang penting, Indonesia menjadi lebih baik," tutur Mahfud.***

Bagikan: