Pikiran Rakyat
USD Jual 14.503,00 Beli 14.405,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Pertemuan Anwar Ibrahim dan Habibie, Nostalgia Reformasi Indonesia dan Malaysia

Gita Pratiwi (error)
Presiden ketiga RI BJ Habibie (kiri) berpelukan dengan mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim seusai melakukan pertemuan di Jakarta, Minggu 20 Mei 2018. Pertemuan sekaligus ajang silaturahmi tersebut membahas isu-isu terkini kedua negara.*
Presiden ketiga RI BJ Habibie (kiri) berpelukan dengan mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim seusai melakukan pertemuan di Jakarta, Minggu 20 Mei 2018. Pertemuan sekaligus ajang silaturahmi tersebut membahas isu-isu terkini kedua negara.*

JAKARTA, (PR).- Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat Anwar Ibrahim memenuhi undangan Presiden Indonesia ketiga, Bacharudin Jusuf Habibie sebagai teman dekat. Dalam pertemuan itu, keduanya bernostalgia akan bangkitnya reformasi di Indonesia dan Malaysia.

"Pada 1998, Reformasi di Indonesia itu bergulir dan mengesankan bagi saya. Saya mengikuti reformasi di Indonesia dari dekat. Saya pun kenal baik dengan Presiden Soeharto dan pernah mengunjungi beliau pada saat itu," kata Anwar pada konferensi pers di Kediaman BJ Habibie, Jakarta, Minggu 20 Mei 2018.



"Selepas itu, saya dipecat dan slogan pertama saya adalah reformasi. Saya pilih reformasi karena inklusif. Mayoritas umat Islam, Melayu dan pribumi, Tiongkok, dan India, itu mendukung reformasi," kata dia melanjutkan.



Anwar mengaku belajar banyak dari Indonesia tentang reformasi. "Saat ini Partai Keadilan Rakyat memenangi Pemilu Malaysia. Alhamdulillah," kata dia seperti dikutip dari Kantor Berita Antara.



Ia juga menumpahkan kekagumannya akan peran Habibie dalam tulisan ilmiah. ”Dalam tulisan itu saya menjelaskan bahwa ia seorang pemberani yang mampu melaksanakan agenda reformasi di Indonesia dalam masa sesingkat," ujar Anwar.



Pembaharuan yang dilakukan Habibie antara lain di bidang kehakiman, media, politik, maupun ekonomi. "Semua itu dilakukan oleh beliau dalam periode yang singkat," kata dia.



Ia menyebutkan ada dua hal yang harus diperbaiki saat menjalankan agenda reformasi.



Pertama, korupsi yang dikatakan dibudayakan itu mesti diberantas tanpa pilih kasih, bukan penguasa menentukan.



"Kedua, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi harus dihapuskan. Ini tantangan terbesar terhadap pemimpin bangsa yang ingin membawa reformasi dalam pemerintahan mereka," kata dia.

 

Cita-cita yang sama dengan Habibie



Sementara itu, mantan Presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan bahwa Anwar Ibrahim mempunyai cita-cita yang sama yaitu memperjuangkan rakyat.



"Beliau dan saya tidak ada masalah sebagai manusia yang berbudaya, berpendidikan dan bergama. Cita-cita saya dan beliau itu sama , yaitu kita pro rakyat. Kita memikirkan bagaimana agar rakyat itu kualitas kehidupannya meningkat," kata dia.



Setelah pemilihan umum 2018 di Malaysia, Anwar Ibrahim yang telah bebaskan pada 16 Mei lalu setelah mendapat pengampunan dari Raja Malaysia.



Walau terjadi perselisihan pada masa lalu, Anwar ibrahim dengan Mahatir berkoalisi dalam Pemilu 2018 lalu dan menang sehingga Mahathir yang kembali menjadi perdana menteri Malaysia pada usia 92 tahun.

Di PBNU bahas kekuatan menangani radikalisme



Selain bertemu Habibie, Anwar juga menyambangi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj di Kantor PBNU, Jakarta, pada hari yang sama. Said Aqil sendiri ditemani jajaran pengurus PBNU saat menyambut kedatangan Anwar Ibrahim.



"Kita memperkuat hubungan antara Malaysia dan NU. Terutama menyamakan persepsi Islam yang damai, yang ramat, antiradikalisme, antiterorisme, yaitu yang kita kenal dengan Islam Nusantara," ujar Said.



Said menuturkan saat berbincang dengan Anwar Ibrahim, tokoh reformasi Malaysia itu menyesalkan terjadinya aksi bom oleh sekelompok teroris di Surabaya pada akhir pekan lalu.



"Apalagi masyarakat Indonesia sudah terkenal ramah, santun, kok tiba-tiba radikal. Itu hal yang sangat mengagetkan. Oleh karena itu, kita angkat Islam Nusantara untuk 'meng-counter' (mengatasi) Islam radikal. Karena ini mencoreng dan mengotori Islam. Nabi Muhammad tidak pernah menoleransi kekerasan," kata Said.



Anwar Ibrahim sendiri mengatakan, pihaknya akan mengundang Said Aqil mewakili PBNU untuk menyamakan persepsi tentang Islam yang benar. Karena di Malaysia juga ada benih-benih radikalisme kendati tidak separah di Indonesia.



"Malam ini kita fokus pada permasalahan umat Islam tentang keperluan menyederhanakan pemahaman. Bukan berarti meremehkan soal syariat atau hukum karena Islam itu rahmatan lil alamin. Saya yakin dengan pemerintahan baru Malaysia akan bekerja sama dengan Indonesia dalam menghadapi tantangan baru. Dunia lebih menyoroti Indonesia karena Indonesia Islamnya mayoritas dan budayanya banyak," kata Anwar Ibrahim.***

 

Bagikan: