Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.4 ° C

Kutuk Terorisme, Ini Ajakan Keraton Senusantara untuk Masyarakat

Ani Nunung Aryani
SEJUMLAH sepeda motor terbakar sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu 13 Mei 2018. Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pada waktu yang hampir bersamaan.*
SEJUMLAH sepeda motor terbakar sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu 13 Mei 2018. Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pada waktu yang hampir bersamaan.*

CIREBON, (PR).- Keraton senusantara mengecam keras aksi terorisme yang sampai menelan banyak korban meninggal maupun luka di Surabaya. Kecaman disampaikan melalui Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara yang juga Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat.

Sultan Arief pun meminta aparat kepolisian dan TNI untuk tidak segan-segan menindak semua yang mengganggu kemanan, ketertiban, kedamaian, dan kenyamanan, kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan kepada elit politik, kelompok kepentingan, dan sipapun, Sultan Arief mengingatkan untuk tidak mengorbankan bangsa dan negara dengan menghalalkan segala acara.

“Kami keluarga besar keraton-keraton senusantara juga mengajak seluruh masyarakat untuk melaporkan segera kepada aparat keamanan kalau ada hal-hal yang merusak ketertiban, kemanan, maupun anarkisme," kata Arief.

Arief menegaskan, Indonesia merupakan negara berketuhanan, beragama, bermoral, dan berbudaya. Kecaman juga datang dari Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faisal Zaini. PBNU  mengutuk seluruh tindakan anarkisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Dia menegaskan, jihad melalui cara kekerasan merupakan pemahaman yang menyesatkan.

"Jihad sesungguhnya adalah menyebarkan dan mengajarkan Islam dengan cara-cara damai, bukan dengan aksi teror dan menebarkan kebencian. Sebarkan Islam dengan ramah, bukan marah. Ajak, bukan ejek. Rangkul, bukan mukul," katanya saat jumpa pers di Sekretariat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cirebon Minggu 13 Mei 2018.

Pihaknya mengajak keluarga besar NU meningkatkan kewaspadaan dan membantu aparat berwenang, salah satunya menginformasikan bila ada upaya atau gerakan terorisme. Gerakan terorisme yang diindikasikan bertujuan mendirikan negara agama, dipastikan terpola dan terdesain.

PBNU pun menyerukan pemerintah, terutama intelijen, meningkatkan kewaspadaan agar tak lagi kecolongan. Menurutnya, pola-pola terorisme seharusnya telah dibaca intelijen.  Selain mengajak seluruh entitas bangsa bersatu padu melawan terorisme, dalam kesempatan itu, pihaknya juga mengucapkan rasa belasungkawa terhadap korban terorisme, baik di Mako Brimob Jakarta hingga Surabaya. Masyarakat diajak pula tak terprovokasi dan mengikuti kelompok yang mengajarkan jihad melalui aksi teror.

"PBNU bersama tokoh lintas agama akan mendiskusikan langkah-langkah, salah satunya membuka posko di beberapa tempat sebagai antisipasi. Kami bantu pemerintah perangi terorisme," tandasnya.

Selain itu, katanya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU yang merupakan badan otonom NU dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor juga telah diisntruksikan untuk berjaga. Helmy menyebut, aksi teror yang terjadi belakangan ini merupakan panggilan Negara.

"Satuan Banser sudah diinstruksikan untuk merapatkan barisan. Negara sudah memanggil untuk menjaga keamanan," kata Helmy.



Siaga 



Sementara itu, pascaledakan bom di Surabaya, jajaran Polres Cirebon memperketat pengamanan di sejumlah gereja maupun tempat ibadah lain di wilayah hukum Kabupaten Cirebon. Pengamanan salah satunya diberlakukan di Gereja Pantekosta Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon.

"Kami langsung turun dan berkoordinasi dengan instansi terkait agar membantu meningkatkan pengamanan," ungkap Kapolres Cirebon, Ajun Komisaris Besar Polisi Suhermanto Minggu. 

Aparat kepolisian yang berjaga dilengkapi senjata. Kesiapsiagaan, menurut dia, terus dilakukan setiap waktu dan dalam kondisi apapun, mengingat terorisme telah menjadi musuh bersama. "Kami pun meminta masyarakat kooperatif membantu polisi maupun petugas keamanan lainnya dalam memerangi terorisme," tegasnya. Selain aparat keamanan, penjagaan terhadap gereja di Cirebon pun dilakukan umat nasrani.

Ketua Lingkungan Gereja Bunda Maria, Kota Cirebon, Yohanes Muryadi mengungkapkan, pascaledakan bom Surabaya, umat Katolik Cirebon akan siaga menjaga gereja-gereja. "Di gereja biasanya ada satpam, tapi setelah peristiwa bom ini, umat Katolik akan siaga menjaga gereja dengan sistem jaga gilir," katanya di sela pernyataan sikap PBNU terkait bom Surabaya di Kota Cirebon.  Di Cirebon sendiri diketahui ada dua gereja Kristen Katolik yakni Gereja Bunda Maria dan Gereja Santo Yosef. Sementara menurutnya, ada lebih dari 34 gereja Kristen Protestan.

Dalam kesempatan itu, Yohanes pun meminta umat Katolik tak terpancing dan tetap tenang. Di sisi lain, dia pun mengajak umat Katolik meningkatkan kewaspadaan atas aksi terorisme yang disebutnya tak berperikemanusiaan dan berpotensi menghancurkan NKRI.

"Peristiwa ini membuat umat Katolik terbuka dengan siapa saja untuk menggalang persatuan dan kesatuan melawan terorisme, menegakkan kemanusiaan dan keadilan berdasarkan nilai-nilai Pancasila," paparnya.***

Bagikan: