Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 27.6 ° C

Target Satu Juta Rumah Belum Tercapai

Mukhijab

YOGYAKARTA, (PR).- Target pemerintah membangun satu juta rumah bagi warga penghasilan rendah dalam tiga tahun belum tercapai. Sejak diluncurkan pada 2015, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai penanggungjawab sekaligus eksekutor program baru merampungkan 900 ribu rumah, dengan catatan yang dibiayai APBN hanya 20 persen.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid menyatakan pelaksanaan pengadaan perumahan rakyat tidak bisa sepenuhnya ditangani pemerintah. APBN hanya mampu mendanai sekitar 20 persen,  30 persen subsidi dari berbagai sumber dana,  50 persen peran swasta dan masyarakat.

Menurut dia, PUPR menargetkan 100 ribu rumah bisa diselesaikan tahun ini atau 2019 untuk memenuhi target 1 juta rumah.

Dalam seminar nasional perumahan di Fakultas Teknik di Grha Sabha Pramana, Kamis, 3 Mei 2018, dia menyatakan periode 2015-2017 telah diselesaikan 900 ribu. “Kami bertekad tahun ini bisa satu juta rumah selesai pada 2019,” kata dia.

Faktor lahan yang terbatas dan harganya  yang tinggi menjadi penyebab target satu juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang difasilitasi tabungan perumahan rakyat tersendat pelaksanannya. Kemudian faktor keterbatasan dana negara.

Mengatasi kendala tersebut, menurut Dirjen PUPR, peran swasta sangat vital. Mereka tidak hanya ikut mengusahakan lahan, swasta juga bisa menanggulangi modal pembangunan.

Apabila 80 persen dana diserahkan secara mandiri ke masyarakat, warga yang belum memiliki rumah sulit untuk membayar uang muka dalam jumlah besar. Seperti gayung bersambut, swasta sangat antusias dilibatkan dalam pengembangan rumah warga penfhasilan rendah.

Sejak terpilih menjadi pada pemilihan presiden 2014, Presiden Joko Widodo menentukan prioritas program, antara lain pembebasan pemukiman kumuh menjadi hunian layak huni di 56 kota di seluruh Indonesia.

Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM Iman Satyarno menyatakan program satu juta rumah tersebut hendaknya jangan sekedar memenuhi target kuantitas saja. Seratus ribu rumah sisanya perlu didukung teknologi bahan dan metode konstruksi yang memadai.

Dalam memenuhi tuntutan tersebut, maka perguruan tinggi harus dilibatkan untuk menjaga kualitas rumah sederhana tersebut.***

Bagikan: