Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Mekah dan Madinah Masih Ramai dengan Tindak Kejahatan

Sarnapi
Jemaah umrah Akbar berfoto bersama di pelataran Masjid Nabawi, Jumat 13 April 2018. Jemaah umrah harus tetap hati-hati sebab banyak aksi kejahatan di tanah suci.
Jemaah umrah Akbar berfoto bersama di pelataran Masjid Nabawi, Jumat 13 April 2018. Jemaah umrah harus tetap hati-hati sebab banyak aksi kejahatan di tanah suci.

MADINAH, (PR).- Mendengar kata tanah suci biasanya Muslimin membayangkan sebuah tempat yang aman dari tindak kejahatan, padahal Mekah dan Madinah juga sering terjadi tindak kejahatan. Untuk itu, jemaah umrah diminta berhati-hati terhadap upaya tindak kejahatan ini.

Menurut seorang mukimin asal Indonesia, Ustaz Irfan, tindak kejahatan tak mengenal tempat dan waktu apalagi saat ibadah umrah jutaan Muslim datang ke tanah suci. "Apalagi tak sedikit Muslim yang merasa segalanya aman di kota suci sehingga kurang waspada terhadap aksi kejahatan. Akhirnya jemaah kehilangan barang miliknya seperti telefon seluler, uang atau barang lainnya," kata Irfan, Jumat 13 April 2018.

Dia menambahkan, seperti ketika jemaah berkunjung ke Masjid Quba sering terjadi kejahatan. "Lebih baik tempatkan tas di depan dada sehingga bisa mudah diawasi. Orang yang akan berbuat jahat akan berpikir berkali-kali bila tas di depan dada," ucap Irfan yang membantu jemaah umrah Aliansi Konsorsium Umrah Jabar (Akbar) ini.

Selain itu, aksi kejahatan juga bisa dilakukan para peminta-minta yang berada di masjid dengan cara memaksa. "Orang Indonesia terkenal suka memberi sehingga ketika ada orang Indonesia datang akan langsung didekati. Kalau kita memberi kepada pengemis, maka teman-temannya juga akan datang dan memaksa untuk diberi jatah," katanya.

Biaya hidup tinggi



Kejahatan lainnya dengan mengambil telefon seluler ketika jemaah lengah. "Seperti yang dialami seorang jemaah yang tertidur di bus karena capek dan telefonnya langsung diambil pencuri," katanya.

Belum lagi ketika jemaah berada di dalam masjid lalu didatangi orang yang mengaku dari negara konflik seperti Afghanistan, Suriah, Kashmir dan lain-lain dengan meminta sumbangan. "Mereka meminta dengan cara paksa sehingga tolak saja kalau ada yang seperti ini," katanya.

Apalagi saat ini kehidupan di Arab Saudi makin mahal dan sulit sebab pemerintah menerapkan pajak maupun mencabut subsidi. "Kalau sebelumnya harga BBM cuma satu Halah atau 0.9 Riyal Saudi atau sekitar Rp 3.400 per liter, tapi kini sudah naik tiga kali lipatnya," kata seorang pekerja hotel Madinah asal Purwakarta, Kosim.

Di lain pihak gaji pegawai juga tak naik sehingga biaya hidup di Arab Saudi makin mahal. "Biaya pajak untuk seorang pekerja sebelumnya sekitar 2.000 riyal per tahun, tapi kini sudah naik dua kali lipatnya. Untungnya pajak  saya ditanggung atasan sehingga saya tinggal bekerja dengan baik," katanya.***

Bagikan: