Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.3 ° C

Songsong Revolusi Industri 4.0, Indonesia Siapkan Revitalisasi Total

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) meninjau pameran Industrial Summit 2018 di Jakarta, Rabu 4 April 2018. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi meluncurkan program Making Indonesia 4.0 untuk membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri 4.0.*
PRESIDEN Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) meninjau pameran Industrial Summit 2018 di Jakarta, Rabu 4 April 2018. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi meluncurkan program Making Indonesia 4.0 untuk membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri 4.0.*

JAKARTA, (PR).- Pemerintah menyusun roadmap atau peta jalan mengenai strategi Indonesia dalam memasuki Revolusi Industri 4.0. Peta yang digagas Kementerian Perindustrian itu pada intinya mengupayakan revitalisasi industri Indonesia secara menyeluruh.

Peta jalan tersebut secara resmi diluncurkan Presiden Joko Widodo bersamaan dengan pembukaan Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 4 April 2018.

Biro Pers Setpres menyebut, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 saat ini sedang mentransformasi dunia. Indonesia, seperti negara-negara lainnya, harus bersiap dan mengantisipasi perubahan besar itu.

"Ada sebuah riset oleh McKinsey Global Institute tahun 2015 yang mengatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 dampaknya akan 3.000 kali lebih dahsyat daripada Revolusi Industri pertama di bad ke-19. McKinsey mengatakan, kecepatan perubahan ini akan 10 kali lebih cepat dan dampaknya akan 300 kali lebih luas," kata Jokowi mengutip data penelitian McKinsey.

Industri 4.0 berbicara tentang implementasi teknologi automasi dan pertukaran data dalam bidang industri. 

Melalui perubahan itu, sejumlah penelitian menyebut bahwa hal itu dapat menjadi ancaman bagi lapangan kerja. Sebab, tenaga manusia disebut-sebut akan mulai tergantikan oleh robot dan teknologi automasi lainnya.

Membuka banyak lapangan kerja



Jokowi menilai, industri 4.0 merupakan fenomena yang harus dihadapi dan disambut kedatangannya. Ia percaya, revolusi itu akan menghasilkan perubahan besar bagi tatanan industri. Indonesia sudah harus bersiap untuk menyongsongnya.

Akan tetapi, Jokowi mengatakan, dia tidak begitu saja percaya terhadap kekhawatiran banyak pihak yang memperkirakan revolusi industri 4.0 akan menghilangkan banyak lapangan kerja. 

"Saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan melahirkan jauh lebih banyak lapangan kerja baru daripada jumlah lapangan kerja yang hilang," ujarnya seperti diberitakan Antara.

Dalam peta jalan "Making Indonesia 4.0" yang telah diluncurkan, pemerintah memiliki agenda mewujudkan pembukaan 10 juta lapangan kerja baru tahun 2030 ketika industri Indonesia saat itu diharapkan mampu mengimplementasikan industri 4.0 dan bersaing dengan negara-negara lainnya.

"Selain penciptaan lapangan kerja baru, implementasi industri 4.0 di Indonesia harus memastikan pertumbuhan secara inklusif. Pertumbuhan yang juga melibatkan seluruh lapisan ekonomi masyarakat. Tidak hanya usaha besar, tapi juga UMKM yang ke depannya juga harus dibuat paham dan mudah mengakses teknologi sehingga lebih berdaya saing," ucapnya.

Langkah awal



Sebagai langkah awal dalam menjalankan peta jalan "Making Indonesia 4.0", pemerintah akan menjadikan lima industri nasional sebagai fokus implementasi industri 4.0 di tahap awal. Kelima industri tersebut ialah makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.

"Industri ini merupakan tulang punggung dan diharapkan membawa efek ungkit yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia di 2030," tuturnya.

Bersamaan dengan itu, Jokowi menjadikan "Making Indonesia 4.0" sebagai salah satu agenda nasional bangsa. Kementerian Perindustrian akan menjadi penggerak utama dari agenda tersebut.

"Saya minta kepada kementerian, lembaga lainnya, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha untuk mendukung penuh program ini sesuai tugas dan fungsi masing-masing demi kesuksesan dan kemajuan bangsa yang kita cintai ini," ujarnya.

Ditemui oleh para jurnalis selepas acara, Presiden Joko Widodo dimintai keterangannya soal strategi pemerintah untuk mencegah kekhawatiran soal hilangnya lapangan kerja akibat revolusi industri keempat ini. Menurutnya, masih banyak peluang di bidang industri lain yang mampu menyerap sumber daya manusia dalam jumlah yang sangat besar.

"Kita siapkan (salah satunya) yang namanya 10 Bali baru. Karena dalam situasi apapun yang namanya pekerjaan tangan, kerajinan tangan, dan industri kreatif itu akan menampung lapangan pekerjaan yang tidak sedikit. Artinya ya memang harus kita hadapi. Tidak mungkin kita tidak masuk ke sana. Negara lain masuk sementara kita tidak, ya ditinggal kita," ucapnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Kepala BKPM Thomas Lembong.***

Bagikan: