Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Umumnya berawan, 27.7 ° C

Berkurangnya Hutan Pengaruhi Luapan Sungai Ciliwung

Muhammad Ashari
WARGA melihat kondisi jembatan yang tertutup luapan sungai Ciliwung, di Kelurahan Katulampa, Bogor, Jawa Barat, Senin 5 Februari 2018, akibat cuaca ekstrem. Tambahan lagi, hujan terus menerus berdampak pada aliran Sungai Ciliwung meluap dan melumpuhkan jembatan penghubung antara Desa Katulampa dan Desa Pandansari sehingga tidak bisa dilewati.*

JAKARTA, (PR).- Meningkatnya debit air di Sungai Ciliwung serta longsor yang terjadi di beberapa wilayah Bogor turut dipengaruhi juga oleh minimnya vegetasi hutan rapat serta pemukiman yang semakin padat di wilayah aliran sungai.



Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan, area tanaman yang berkarakter hutan padat kini hanya sekitar 13 persen. Sementara wilayah pemukiman di daerah aliran sungainya pun naik pesat dari tahun ke tahun.



“Dari tahun 1998 ke 2008 saja, kenaikan pemukiman di wilayah DAS Ciliwung 3,5 kali lipat. Apalagi sekarang,” katanya di Istana Kepresidenan, Senin 5 Februari 2018.





Dia menambahkan, longsor di beberapa wilayah Bogor juga dipengaruhi oleh tingginya tingkat curah hujan. Dia mencontohkan, curah hujan di wilayah Gunung Mas dan Riung Gunung yang mencapai 151 milimeter per hari, serta di Grand Hill 148 milimeter per hari. Sementara di Nusa Tenggara Timur, tingkat curah hujan hanya 700-900 milimeter per tahun.



“Jadi memang tekanan dari air hujan itu ada,” ujar dia.

Pos pengawasan air Ciliwung



Siti mengatakan, pihaknya kini tengah mengawasi perkembangan meningkatnya debit air Sungai Ciliwung yang melintasi Bogor hingga Jakarta. Kementerian LHK dikatakannya memiliki pos pengawasan air sungai di wilayah DAS Ciliwung.



Menurutnya, hasil pengawasan pada hari Senin terhadap debit air di DAS Ciliwung yang melewati Katulampa sudah dikategorikan agak rawan. “Kalau lihat gambarnya memang sudah harus diwaspadai,” ujar dia.





Terkait dengan banjir di wilayah Jakarta, Siti menyebutkan, banjir yang datang dari daerah puncak adalah 20 persen sedangkan 27 persen lagi dari kali Pesanggrahan, Angke dan Krukut. “Jadi ini simultan. Oleh karena itu, kawan-kawan di KLHK sedang turun dan awasi ini,” ujarnya.



Dia menyarankan agar setiap daerah memperbanyak bangun biopori. Hal itu dipandangnya efektif meminimalisir banjir dibandingkan dengan membangun dam. “Dam-dam itu kurang pengaruhnya. Tidak sebesar biopori. Jadi, lebih bagus jika biopori lebih diperbanyak,” tuturnya.***

Bagikan: