Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Sedikit awan, 20.3 ° C

Jamin Stok di Dalam Negeri, Ekspor Vaksin Difteri Dihentikan

Satrio Widianto
Pekerja menunjukan vaksin yang mengandung komponen difteri sebelum didistribusikan.*
Pekerja menunjukan vaksin yang mengandung komponen difteri sebelum didistribusikan.*

JAKARTA, (PR).- Kepala Bagian Mutu Uji Klinik Imunisasi PT Bio Farma (Persero), Mahsum Muhammadi menyampaikan, pihaknya memiliki stok serum dan vaksin difteri yang cukup. Selain itu, semua serum dan vaksin sudah dinyatakan aman. Pasalnya sudah sesuai dengan lisensi juga prosedur pembuatan obat dan vaksin yang disyaratkan lembaga kesehatan dunia, WHO.

“Selain untuk digunakan di dalam negeri, kami juga biasanya melakukan ekspor ke negara-negara tetangga. Namun, begitu ada kejadian luar biasa atau wabah, untuk memenuhi kebutuhan serum dan vaksin di dalam negeri, kami untuk sementara menghentikan ekspor vaksin ke negara-negara luar. Kebutuhan vaksin dan serum di dalam negeri kami utamakan. Kami juga memiliki stok atau persediaan sebesar 20 persen dari kebutuhan biasanya,” papar Mahsum Muhammadi dalam siaran pers di Jakarta, Senin 8 Januari 2018.

Mahsum juga mengatakan, untuk menjamin rasa tenang masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam, pihaknya saat ini tengah melakukan sertifikasi halal terhadap berbagai serum dan vaksin yang diproduksi. 

Selain vaksin difteri, kata dia,  terdapat sejumlah vaksin lain yang tengah dilakukan sertifikasi halal. Beberapa di antaranya vaksin BCG dan pelarut BCG, vaksin Pentabio (DTTP, HB-HIB) dan vaksin TT. "Dengan sertifikasi halal tersebut, tidak ada lagi alasan bagi masayrakat untuk menolak vaksinasi kepada putra-putrinya," tuturnya.

Jawa Barat terparah difteri



Perbincangan mengenai ketersediaan vaksin juga mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Indonesia Bebas Difteri”. FGD diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI). Acara digelar di Ruang Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kampus Salemba Jakarta, Minggu 7 Januari 2018.

Dalam forum tersebut, diketahui bahwa sepanjang tahun 2017, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi yang tertinggi dengan jumlah penderita penyakit difteri. Menurut data terakhir dari Dinas Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Jawa Barat, sudah ada 123 kasus dengan jumlah kematian 13 kasus. Angka itu tersebar di 18 kabupaten/kota dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.***

Bagikan: