Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Perbatasan Entikong Rawan Perdagangan Manusia

Bambang Arifianto

JAKARTA, (PR).- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusi Yasonna H Laoly mengunjungi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kalimatan Barat, Selasa, 21 November 2017. Kun‎jungan tersebut untuk memantau pelayanan dan perlindungan warga negara Indonesia di wilayah perbatasan.

Kedua Menteri bertolak ke perbatasan Indonesia-Malaysia dari Kucing, Serawak, Malaysia dengan menempuh 2 jam perjalanan darat. Mereka memantau  pelayanan dan  perlindungan WNI di perbatasan yang menjadi pintu pelintasan utama WNI menuju ke Serawak, Malaysia dan Brunei Darussalaam.

Keduanya meminta aparat dari berbagai instansi yang bertugas di perbatasan agar memperkuat upaya pencegahan masuknya tenaga kerja Indonesia tidak berdokumen. Selain itu, aparat penjaga perbatasan mesti mencegah praktik  perdagangan manusia dengan korban WNI ke wilayah Malaysia melalui jalur Entikong-Tebedu.

"Negara harus hadir di perbatasan sebagai pintu terakhir pastikan WNI bermigrasi dengan aman", kata  Retno dalam keterangan tertulis Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu RI.

‎Diperkirakan, sekitar 700-800 WNI masuk ke Malaysia dan Brunei Darussalaam melalui jalur Entikong-Tebedu setiap harinya. Di sisi lain, rata-rata sekitar 2000 WNI tidak berdokumen dideportasi dari Serawak melalui jalur tersebut setiap tahunnya.

Menurut Imigrasi Malaysia, saat ini terdapat sekitar 155 ribu WNI bekerja secara resmi di wilayah Serawak. Jumlah tersebut merupakan 95% dari seluruh tenaga kerja asing yang ada di Serawak.

Sementara itu, jumlah TKI tidak berdokumen diperkirakan sekurangnya 20 ribu. Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, selain arus  TKI tidak berdokumen, perbatasan Kalimantan Barat - Serawak belakangan juga banyak dijadikan rute perdagangan manusia dari Indonesia ke Timur Tengah.***

Bagikan: