Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Langit umumnya cerah, 22.1 ° C

Jalan Masjid, Alamat Terbanyak Pengguna Telefon Seluler

Mukhijab
Ilustrasi sim card-kartu seluler.
Ilustrasi sim card-kartu seluler.

YOGYAKARTA, (PR).- Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (APTSI) mengklaim telah meriset alamat-alamat pengguna telefon seluler berdasarkan nomor telepon (SIM card) yang terdaftar pada provider. Para pengguna seluler umumnya mencantumkan nama dan alamat yang tidak sebenarnya saat registrasi nomor telepon.

“Alamat pelanggan seluluer yang teregistrasi di provider aneh-aneh. Alamat paling banyak gang atau jalan masjid. Nama penggunanya paling banyak lima huruf, yang popular Amin, Dul. Ini akibat tidak ada validasi identitas pengguna nomor telepon seluler,” kata Ketua APTSI Sutrisman saat diskusi soal regulasi registrasi ulang Sim Card di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Kamis, 2 November 2017.

Menurut dia, perilaku pengguna seluler dalam registrasi identitas bisa dikategorikan tidak lumrah. Identias diri dengan sadar disamarkan atau dipalsukan sendiri. Ini menandakan saat beli SIM card, petugas gerai asal-asalan saja memasukkan nama pengguna. Atau pemilik nomor telefon dengan sadar menulis sendiri nama samarannya. “Orangnya ganteng-gateng, kok pakai nama samaran,” ujarnya disambut tawa para mahasiswa.

Regulasi tentang registrasi ulang nomor SIM Card oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi mencoba untuk mengubah kebiasaan tersebut. Dengan kewajiban pemilik nomor SIM card memasukkan nomor induk kependudukan. Artinya, setiap nomor yang teregistrasi akan divalidasi oleh Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.

“Kalau nomor induk dan nama tidak sesuai, maka petugas merespon registrasi tidak berhasil atau sebaliknya nama dan nomor induk sesuai direspon registrasi berhasil,” kata Sutrisman.

Berdasarkan data per Kamis, 2 November 2017 pukul 13.47 WIB, pemilik nomor SIM Card yang registrasi ulang mencapai 33.280.559 orang.

Apa motif di balik registrasi nomor telefon?



Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Taufik Hasan menyatakan, jumlah pemilik nomor teregestrasi tersebut belum mencapai separuh dari jumlah nomor yang terpakai oleh pelanggan telefon seluler. Perkirakannya, nomor yang belum teregestrasi sampai jam tersebut mencapai 160 juta lebih atau belum mencapai separuhnya.

Dia membantah program registrasi nomor SIM card ke Kementerian Komunikasi dan Informasi itu menyimpan motif bisnis terselubung. Dia menepis pertanyaan mahasiswa bahwa program ini bagian dari kerjasama kementerian terkait dan provider untuk mengarahkan pengguna seluler mengikuti sistem telepon pascabayar.

Menurut dia, maksud program tersebut mengarah ke model identitas tunggal (single identity) bagi data kependudukan untuk sasaran jangka panjangnya. Tujuan lainnya, nomor dan nama pengguna yang sesuai identitas berdampak pada identitas kependudukan dan kepentingan administrasi lain seperti administrasi perbankan maupun administrasi kependudukan.

“Kepentingan lainnya, efisiensi atau pembatasan jumlah nomor telefon seluler. Ini berkaitan dengan penggunaan sumber daya penomoran (telefon seluler). Arahnya tidak ada lagi penggunaan nomor satu kali pakai. Kemudian jangan sampai terjadi nomor SIM card mencapai 20 digit. Ini menyulitkan pemilik maupun administrasi. Jadi ada kepentingan identitas kependudukan dan efisisensi pada sektor industri nomor telepon seluler,” ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informasi dan Center for Digital Society (CfDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM,

Mungkinkah ada penghargaan (reward) pulsa gratis untuk memacu pengguna telefon meregistrasi nomornya? “Masalahnya, siapa yang menanggung biayanya? Ini gagasan baik, saya tertarik. Atau mungkin cara lain, pemilik nomor yang registrasi pada jam tertentu bebas pulsa," tuturnya. ***

Bagikan: