Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sedikit awan, 24.2 ° C

Aspal Plastik Akan Diterapkan di Sejumlah Kota

Yusuf Wijanarko
SEJUMLAH pekerja melakukan pengaspalan jalan bercampur limbah plastik di Jalan Sultan Agung, Bekasi, Sabtu 16 September 2017. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan penerapan uji coba pengaspalan jalan raya itu sebagai lokasi kedua infrastruktur jalan yang menggunakan aspal bercampur limbah plastik sepanjang 300 meter guna mengatasi permasalahan limbah plastik di Indonesia.*
SEJUMLAH pekerja melakukan pengaspalan jalan bercampur limbah plastik di Jalan Sultan Agung, Bekasi, Sabtu 16 September 2017. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan penerapan uji coba pengaspalan jalan raya itu sebagai lokasi kedua infrastruktur jalan yang menggunakan aspal bercampur limbah plastik sepanjang 300 meter guna mengatasi permasalahan limbah plastik di Indonesia.*

JAKARTA, (PR).- Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR akan melakukan uji coba penerapan teknologi aspal plastik di sejumlah kota di Indonesia.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 17 September 2017 menyebut, setelah uji coba di Kota Bekasi, teknologi aspal plastik akan diterapkan di beberapa tempat lainnya seperti Cilincing, Surabaya, Medan, dan di rest area ruas tol Tangerang-Merak.

Sebelumnya, pada 16 September 2017, Basuki Hadimuljono dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyaksikan langsung penerapan Teknologi Campuran Beraspal Menggunakan Limbah Plastik di Jalan Sultan Agung, Kota Bekasi.

Ruas Jalan yang diujicobakan merupakan Jalan Sultan Agung di kedua arah, empat lajur dengan panjang 650 meter sehingga totalnya yaitu panjang 2,6 km.

Menurut Menteri Basuki, sebenarnya penelitian pemanfaatan limbah plastik sudah mulai dilakukan sejak 2008 oleh Balitbang PUPR. Kemudian atas inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, penelitian itu terus dikembangkan dan diintensifkan sejak awal tahun 2017.

"Kami sudah melakukan uji coba penerapan hasil penelitian tersebut di jalan dengan volume lalu lintas rendah di Universitas Udayana Bali sepanjang kurang lebih 700 meter pada 18-19 Juli 2017. Hasilnya ternyata cukup baik. Untuk itu, sekarang kami coba di Jalan Sultan Agung, Bekasi sepanjang 2,6 km dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi," katanya.

Untuk itu, kata Basuki, perlu dukungan dari pemangku kepentingan terkait, seperti Kementerian Perindustrian dan Pemerintah Daerah untuk menyiapkan rantai pasok karena limbah plastik kresek sebagai campuran aspal perlu dicacah terlebih dahulu sehingga untuk pemanfaatan lebih luas, perlu ketersediaan pasokan.

"Di bawah koordinasi Menko Kemaritiman, saat ini kami tengah memikirkan bagaimana model bisnis yang tepat untuk mengolah sampah plastik tersebut. Apakah dari bank sampah, pengepul, atau pemulung," kata Basuki.

Kerekatan jalan



Sebelumnya, Luhut Pandjaitan menyatakan bangga dengan hasil karya anak bangsa dalam penelitian pemanfaatan sampah plastik sebagai campuran aspal jalan.

"Saya memberikan apresiasi kepada Kementerian PUPR atas kerja bersama yang konkret ini," kata Luhut.

Sementara itu, Kepala Puslitbang Jalan dan Jembatan Deded P Syamsudin mengatakan, "Hasilnya tampak sangat baik dan sama sekali tidak mengurangi kualitas jalan. Bahkan justru bisa menambah kerekatan jalan. Ketika diukur, suhunya masih aman yaitu 150-180 derajat celcius, plastik tidak terdegradasi. Masih jauh dari batas degradasi sampah yaitu 250-280 derajat celcius sehingga belum memasuki tahap mengeluarkan racun," katanya seperti dilaporkan Antara.

Untuk rencana ke depan, limbah plastik ini akan dijadikan sebagai bahan campuran aspal dengan komposisi enam persen yang akan digunakan untuk pemeliharaan jalan.

Adapun kebutuhan preservasi jalan nasional mencapai 47.000 km. Jika satu kilometer jalan butuh tiga ton plastic, perlu limbah plastik sebanyak 140.000 ton yang kemudian dicacah menjadi plastik ukuran lima milimeter.

Berdasarkan hasil uji laboratorium 2017 dan hasil analisisnya, campuran beraspal panas dengan tambahan limbah plastik menunjukkan peningkatan nilai stabilitas Marshall 40 persen dan lebih tahan terhadap deformasi dan retak lelah dibandingkan dengan campuran beraspal panas standar.***

Bagikan: