Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Berawan, 19.7 ° C

HIV-AIDS di Puskesmas Remu Hingga Klinik Mawar

Tri Joko Her Riadi
WARGA meninggalkan Klinik Mawar di Kota Sorong, Papua Barat, Senin 21 Agustus 2017. Semua puskesmas dan klinik di Sorong diwajibkan melakukan tes HIV terhadap semua ibu hamil sebagai upaya mencegah penularan virus ke bayi.*
WARGA meninggalkan Klinik Mawar di Kota Sorong, Papua Barat, Senin 21 Agustus 2017. Semua puskesmas dan klinik di Sorong diwajibkan melakukan tes HIV terhadap semua ibu hamil sebagai upaya mencegah penularan virus ke bayi.*

DI Sorong, tes HIV bagi ibu hamil merupakan sebuah keharusan. Puskesmas menjadi pintu masuk pertama upaya menyelamatkan sang ibu dan bayinya lewat tes gratis ini. Sorong merupakan kota transit yang sibuk. Dengan jumlah penduduk 232.000 orang berdasarkan data BPS Papua Barat 2016, kota di tepi laut ini menjadi sumber penghidupan bagi mereka yang datang dari berbagai daerah, mulai dari Manado hingga Ambon.

Selain dua RSUD, berdiri 3 rumah sakit swasta. Jumlah puskesmas bertambah dari 6 unit pada 2015 menjadi 10 unit sejak akhir tahun lalu. Puskesmas Remu, yang setiap hari melayani rata-rata 100 warga, merupakan salah satu di antaranya.

Ruangan layanan ibu dan anak di salah satu sudut puskesmas. Temuan ibu hamil yang mengidap HIV-AIDS bukan barang aneh di sini. Tim dokter dan bidan selalu mempersiapkan diri untuk setiap kemungkinan terburuk.

"Begitu petugas sampai di alamat, pasien tersebut sudah tidak ada. Sudah pindah ke mana, tidak terlacak lagi. Itulah tantangan penanganan HIV-AIDS di kota transit seperti Sorong ini. Mobilitas warga sangat tinggi," ucap Ul.

Seperti umumnya fasilitas kesehatan di tanah Papua, Puskesmas Remu juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan mutu layanan. Saat ini, terdapat 78 pegawai puskesmas, mencakup 3 dokter umum dan 1 dokter gigi.

"Saat ini ada 5 dokter magang di sini. Kalau tidak dibantu mereka, jumlah petugas tidak akan cukup," ujar Kepala Puskesmas Remu Charis Olivia Febby Hattu. 

Kebersamaan di Klinik Mawar



Cerita tentang bagaimana rumitnya pendampingan ODHA datang dari Klinik Mawar RSUD Sele Be Solu. Klinik ini diperuntukkan bagi para pasien positif HIV. Bukan hanya pemeriksaan kesehatan, klinik ini juga memberikan layanan kelompok dukungan sebaya (KDS). Setiap ODHA bisa berbagi cerita dengan mereka yang mengidap penyakit sama.

"Layanan di klinik dibuat senyaman mungkin bagi pasien ODHA. Harapannya, tidak ada lagi diskriminasi bagi mereka. Kami ini kan bakal saling bertemu terus seumur hidup," ujar Maria, salah seorang perawat.

Klinik Mawar didesain sebagai ruang pelayanan yang terbuka di jantung kompleks rumah sakit. Keterbukaan dan kedekatan hubungan antara petugas kesehatan dan pasien tergambar jelas. Di luar rumah sakit, mereka juga beberapa kali menghadiri pertemuan rutin komunitas yang menjadi wadah para ODHA untuk saling menguatkan.

Angka kejadian tertinggi



Tanah Papua, terdiri dari Provinsi Papua dan Papua Barat, selalu menjadi sorotan di setiap pembahasan tentang penanganan HIV-AIDS di Indonesia. Dokumen "Situasi dan Analisis AIDS" yang diterbitkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan pada 2014 menyebut jumlah penderita HIV sejak 1987 hingga September 2014 secara nasional mencapai 150.296 orang. Sementara itu, jumlah kasus AIDS, tercatat sebanyak 55.799 orang. 

Di Papua, Kementerian Kesehatan mencatat jumlah infeksi HIV dalam kurun waktu tersebut mencapai 13.507 kasus. Di Papua Barat, jumlahnya 2.714 kasus. 

Jumlah temuan kasus di kedua provinsi timur Indonesia ini kalah jauh dari temuan di DKI Jakarta dalam kurun waktu yang sama, mencapai 32.782 kasus. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, prevalensi kasus HIV di kedua provinsi jauh lebih tinggi.

Angka kejadian kasus HIV-AIDS di Papua dan Papua Barat merupakan dua yang tertinggi di Indonesia, masing-masing 322,9 dan 215,6. Angka ini menghitung jumlah kasus HIV-AIDS per 100.000 penduduk di wilayah tertentu dalam rentang waktu tertentu. Rata-rata angka kejadian kasus HIV-AIDS nasional adalah 19,1; jauh di bawah angka kedua provinsi di timur Indonesia tersebut.

Dokumen Kementerian Kesehatan itu juga mengungkap warga negara usia produktif dalam rentang usia 20-39 tahun merupakan yang terbanyak mengidap HIV, mencapai 61,4 persen. Ibu rumah tangga diketahui sebagai salah satu profesi yang paling rentan, dengan jumlah kasus sebanyak 6.539 orang. 

Terapi ARV



Dokumen yang sama mengungkapkan betapa banyak tantangan program perawatan ODHA lewat terapi ARV. Tercatat di seluruh Indonesia terdapat 153.887 ODHA yang mendapatkan perawatan. Dari jumlah tersebut, ada 108.060 orang yang memenuhi syarat untuk terapi ARV. Jumlah yang menerima ARV anjlok lagi menjadi 84.030 orang. Per September 2014, tersisa 45.631 orang yang aktif meminum ARV, sementara tercatat 14.547 orang meninggal. 

Di Sorong, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sorong, tercatat sebanyak 1.697 ODHA sejak 2004 hingga Juni 2017 lalu. Dari jumlah tersebut, hanya 752 orang yang pernah memulai terapi ARV.Per Juni 2017, tercatat 551 ODHA yang masih aktif meminum ARV. 

Kepala Bidang Layanan Kesehatan Dinkes Kota Sorong Mafren Kambuaya mengungkapkan, penanganan HIV-AIDS dilakukan lewat penguatan sistem layanan yang terintegrasi sejak dari puskesmas hingga rumah sakit. Deteksi infeksi HIV harus dilakukan sedini mungkin agar penanganannya bisa optimal. 

"Puskesmas menjadi pintu masuk pertama penanganan HIV-AIDS. Peningkatan kapasitas dan infrastruktur layanan kesehatan terus dikerjakan," katanya.

Selain peningkatan mutu layanan kesehatan, pendekatan sosial-budaya juga mutlak diperkuat. Meski kampanye penanganan HIV-AIDS di Papua relatif sudah begitu terbuka, stigma masih jadi masalah tersendiri.***

Bagikan: