Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Badai petir, 22.3 ° C

First Travel Tidak Sanggup Kembalikan Uang Jemaah

Siska Nirmala Puspitasari
Tim penyidik Bareskrim Mabes Polri berjalan meninggalkan kantor biro perjalanan umroh First Travel usai melakukan penggeledahan di Cisalak, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 12 Agustus 2017 lalu. Dalam penggeledahan tersebut tim penyidik memeriksa sejumlah dokumen terkait dugaan penipuan yang dilakukan biro perjalanan umroh First Travel sehingga mengakibatkan kerugian bagi ribuan calon jamaah umroh.*
Tim penyidik Bareskrim Mabes Polri berjalan meninggalkan kantor biro perjalanan umroh First Travel usai melakukan penggeledahan di Cisalak, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 12 Agustus 2017 lalu. Dalam penggeledahan tersebut tim penyidik memeriksa sejumlah dokumen terkait dugaan penipuan yang dilakukan biro perjalanan umroh First Travel sehingga mengakibatkan kerugian bagi ribuan calon jamaah umroh.*

JAKARTA, (PR).- PT First Anugerah Karya Wisata, atau PT First Travel diperkirakan sudah tidak mampu mengembalikan dana para jemaah yang sudah menyetorkan pembayaran biaya namun belum berangkat umrah.

"Jadi mereka itu sudah tidak mampu lagi," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak di Jakarta, Selasa, 15 Agustus 2017, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Hal tersebut diutarakannya berdasarkan temuan dana sejumah Rp 1,3 juta yang berasal dari delapan rekening pelaku. "Saldonya ada kurang lebih Rp 1,3 juta. Saya belum bisa jawab aliran dana di rekening itu ke mana saja," kata Herry.

Dia mengutarakan, Polri saat ini masih menyelidiki aliran dana jemaah yang telah disetorkan ke First Travel. Untuk menelusuri aliran dana tersebut, pihak Bareskrim akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Diketahui, pasangan suami istri yang menjadi tersangka dalam kasus ini adalah Andika Surachman sebagai Dirut PT First Anugerah Karya Wisata dan Anniesa Desvitasari Hasibuan sebagai Direktur PT First Anugerah Karya Wisata. Keduanya telah ditahan di Rutan Bareskrim di Polda Metro Jaya.

Menurut Brigjen Herry Rudolf, kasus itu terkuak berkat 13 orang agen First Travel yang melapor kepada polisi. First Travel menawarkan sejumlah paket umrah melalui para agennya, dengan harga yang murah kepada para calon jemaah.

Paket 1 atau yang disebut paket promo umrah dipasarkan seharga Rp 14,3 juta per jemaah. Paket reguler ditawarkan seharga Rp 25 juta. Sementara paket VIP dengan harga Rp 54 juta.

"Animo masyarakat cukup besar. Bahkan pelaku sempat merekrut agen-agen yang bertugas merekrut jemaah," katanya.

Dari hasil investigasi, kata Herry, pelaku telah merekrut 1.000 orang agen yang 500 agen di antaranya adalah agen yang aktif mencari jemaah. Selain itu terungkap bahwa sedikitnya ada 70.000 calon jemaah yang telah membayar biaya umroh. Namun hanya 35.000 jemaah yang bisa diberangkatkan.

"Sisanya, tidak bisa berangkat karena berbagai alasan," katanya.

Pihaknya memperkirakan kerugian yang diderita para jemaah atas kasus ini mencapai Rp550 miliar.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 55 Juncto Pasal 378, 372 KUHP dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi.***

Bagikan: