Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Sebagian cerah, 28.2 ° C

Saksi-saksi Kasus Korupsi E-KTP Butuh Perlindungan Khusus

Siska Nirmala Puspitasari
Aktivis yang tergabung dalam Masyarakat Sipil Prihatin Mega Korupsi KTP elektronik (E-KTP) menggelar aksi di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Minggu, 12 Maret 2017 lalu. Mereka menuntut komitmen KPK dan pemerintah mengusut tuntas kasus korupsi proyek elektronik Kartu Tanda Penduduk atau E-KTP yang diduga melibatkan sejumlah pejabat publik.*
Aktivis yang tergabung dalam Masyarakat Sipil Prihatin Mega Korupsi KTP elektronik (E-KTP) menggelar aksi di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Minggu, 12 Maret 2017 lalu. Mereka menuntut komitmen KPK dan pemerintah mengusut tuntas kasus korupsi proyek elektronik Kartu Tanda Penduduk atau E-KTP yang diduga melibatkan sejumlah pejabat publik.*

JAKARTA, (PR).- Anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni mengatakan, kematian Johannes Marliem jangan sampai mengganggu jalannya proses penegakan hukum kasus korupsi KTP Elektronik (E-KTP) di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kasus korupsi E-KTP tetap harus dituntaskan.

"Kami ucapkan bela sungkawa yang mendalam atas meninggalnya Johannes. Kami juga berharap semoga kasus E-KTP yang ditangani KPK tetap tuntas," kata Ahmad Sahroni, kepada wartawan, di Jakarta, Minggu, 13 Agustus 2017, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Johannes dikabarkan tewas di Amerika Serikat (AS), diduga akibat luka tembak. Johannes merupakan penyedia alat Automatic Fingerprint Identification System (AFIS) dalam proyek E-KTP dan belum sempat dihadirkan untuk bersaksi di persidangan.

Politikus Partai NasDem ini mengatakan, sebaiknya untuk saksi-saksi kasus besar memang sebaiknya diberikan perlindungan khusus oleh KPK. Hal itu, lanjut dia, untuk mencegah kejadian yang sama tidak kembali terulang.

"Seharusnya, saksi penting mendapatkan perlindungan khusus. Bukan malah mempublikasikan saksi-saksi tersebut kemana-mana sehingga nyawanya bisa terancam," kata Sahroni.

Kematian Johannes Marliem telah dikonfirmasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat, 11 Agustus 2017.

Johannes juga disebut saksi penting untuk membongkar kasus korupsi E-KTP. Pada media, Johannes mengaku memiliki rekaman pertemuan dengan para perancang proyek E-KTP yang turut dihadiri oleh Ketua DPR RI.

Atas tewasnya Johannes, KPK memastikan penyidikan korupsi E-KTP akan tetap berjalan karena KPK mengklaim memiliki bukti kuat, penyidikan E-KTP untuk dua tersangka, Setya Novanto yang saat itu Ketua Fraksi Partai Golkar dan Markus Nari.

Dalam dakwaan penuntut umum KPK kepada terdakwa Irman dan Sugiharto, Johanes Marliem juga disebut menerima sejumlah 14,88 juta dolar AS dan Rp25,24 miliar terkait proyek sebesar Rp5,95 triliun tersebut.***

Bagikan: