Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 22 ° C

Libatkan Pihak Tepercaya, Kominfo dan Google Uji Coba Trusted Flagger Tangani Konten Negatif

Arie C. Meliala

JAKARTA, (PR).- Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kominfo dan Google  melakukan uji coba penggunaan trusted flagger (penanda yang tepercaya). Uji coba dilakukan dalam penanganan konten-konten negatif di aplikasi milik Google seperti Youtube.

"Mulai akhir Juli, Google beserta Kominfo menerapkan suatu sistem yang disebut trusted flagger. Trusted flagger sekarang ini dalam tahap uji coba, pilot project, efektifnya mungkin 2-3 bulan lagi," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam konferensi pers usai pertemuan dengan pihak Google, seperti dilansir Kantor Berita Antara, di Jakarta, Jumat, 4 Agustus 2017.

Rudiantara mengatakan, hal ini merupakan salah satu tindak lanjut dalam kesepakatan untuk meningkatkan level layanan (service level agreement) antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Google terkait penanganan konten negatif.

Melalui trusted flagger tersebut maka respons Google terhadap konten-konten negatif di Indonesia diharapkan juga semakin efisien dan efektif.

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintahan Google Asia Pasifik Ann Lavin mengatakan, Youtube telah memiliki flager (penanda). Penanda ini dapat digunakan  masyarakat untuk menandai konten-konten yang dinilai negatif.

Khusus untuk yang dipercaya



Namun, untuk trusted flagger Google bekerja sama dengan Kominfo dalam menangani konten negatif. Untuk itu, sejumlah organisasi sipil seperti ICT Watch, Wahid Institute dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) juga akan dilibatkan di dalamnnya.

Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Semuel A Pangerapan mengatakan, trusted flagger merupakan mekanisame khusus yang diberikan kepada para pihak yang dipercaya.

Melalui mekanisme tersebut, maka konten yang ditandai akan dilakukan review dan analisis. Analisis ini segera dilakukan Google tanpa menunggu antrean konten yang ditandai oleh masyarakat umum lainnya.

"Trusted flaging adalah mekanisme di mana kita mendapatkan prioritas karena kita pihak sudah di-trusted (dinyatakan tepercaya). Dengan prioritas ini akhirnya kita nggak pakai antre, kita langsung antrean pertama untuk di-review segera," tuturnya.

Untuk mekanisme trusted flaggers menurut dia, digunakan untuk konten-konten yang tidak sesuai dengan peraturan di Indonesia. Ini juga sekaligus sesuai standar komunitas yang dimiliki google, misalnya, terorisme.

Sementara untuk konten-konten yang melanggar peraturan di Indonesia namun tidak melanggar di luar negeri, misalnya, pornografi, akan dilakukan mekanisme lain.

"Contoh lain, misalnya, penghinaan lambang negara, nggak ada itu di sana, ada di kita. Itu menggunakan jalur satunya lagi bukan dari trusted flagger, jadi ada dua jalur itu yang kita bangun," ujarnya.***

Bagikan: