Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Badak Jawa Akan Jalani Tes DNA Sebelum Dipindah ke Cikepuh

Siska Nirmala (error)

JAKARTA, (PR).- Pelaksanaan translokasi badak jawa dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) ke Cikepuh akan diawali dengan proses seleksi individu melalui tes deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat (DNA). Pengecekan untuk mengetahui garis keturunan dan risiko penyakit tertentu ini penting dilakukan untuk menghindari terjadinya "inbreeding" atau perkawinan sekerabat.

Hal tersebut diutarakan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bambang Dahono Adji.

"Mau dilihat dulu DNA-nya, yang paling tepat dipindahkan yang mana. Jangan sampai satu keluarga, jadi masalah 'inbreeding' nanti," ujarnya, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Sebelumnya diberitakan, Suaka Margasatwa Cikepuh direkomendasikan untuk menjadi tempat translokasi Badak Jawa. Suaka Margasatwa yang terletak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu dinilai cocok untuk translokasi spesies langka tersebut.

Bambang menjelaskan, tes DNA nantinya akan dilakukan oleh Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia.

"67 badak sudah ada namanya semua tinggal cari posisinya di mana untuk bisa diambil sampelnya. Akan ada rapat lagi untuk mulai melaksanakan DNA-nya," kata Bambang.

Paling tidak, menurut dia, dua pasang individu badak jawa akan coba untuk ditranslokasikan ke Suaka Margasatwa Cikepuh. Dan untuk memastikan badak bercula satu ini nyaman di lokasi baru akan dibuat pula kawasan konservasi (sanctuary) khusus badak, mengingat di suaka margasatwa tersebut juga banyak satwa lain.

Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih memiliki badak di alam liar, meski kondisinya semakin tertekan oleh alih fungsi hutan untuk perkebunan maupun pertambangan, pembalakan liar hingga perburuan liar.

Kepunahan Badak Sumatera



Country Director Wildlife Conservation Society (WCS) Noviar Andayani mengatakan Vietnam mengumumkan kepunahan badak sumatera di alam liar pada 2008, disusul Malaysia pada 2015. Kini Malaysia hanya memiliki tiga ekor saja di Sabah, dan bukan berada di alam liar.

Selain badak jawa, Indonesia diperkirakan masih memiliki 100 sumatran rhinoceros atau badak sumatera yang tersebar di tiga lokasi yakni Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Sedangkan di Kalimantan, tepatnya di Kutai Barat tersisa hanya 23 individu.

"Yang di Kutai Barat memang badak sumatera namun secara morfologi berbeda dengan yang ada di Pulau Sumatera. Para ahli menyebutnya ini subspesies badak sumatera karena ukurannya lebih kecil," kata Bambang.

Upaya konservasi satwa liar dilindungi ini telah berjalan lama, dan dilakukan oleh banyak pihak di Indonesia dan dari luar negeri.

Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo Rahmono mengatakan populasi badak sumatera cepat mengalami penurunan, karena itu konservasi harus dilakukan bersama-sama. "Kalau dikerjakan sendiri-sendiri hasilnya tidak akan besar dan bisa tumpang tindih". ***

Bagikan: