Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 31.1 ° C

Wantimpres Lakukan Mediasi Konflik Keraton Surakarta

Tok Suwarto
WALI Kota Solo FX Hadi Rudyatmo (kiri) bersama Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Subagyo HS (kedua kanan) menemui sejumlah keluarga sekaligus dewan adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Sasana Sewako keraton setempat, Solo, Jawa Tengah, Kamis 6 April 2017.*
WALI Kota Solo FX Hadi Rudyatmo (kiri) bersama Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Subagyo HS (kedua kanan) menemui sejumlah keluarga sekaligus dewan adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Sasana Sewako keraton setempat, Solo, Jawa Tengah, Kamis 6 April 2017.*

SOLO, (PR).- Konflik internal keluarga Keraton Surakarta, antara kubu Sunan Paku Buwono (PB) XIII melawan kubu Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan GKRAy. Koes Moertiyah Wandasari, terus berlangsung. Kamis 6 April 2017, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, bersama Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Soebagyo HS, berupaya menengahi perseteruan itu dengan menemui kedua kubu untuk mendapat masukan sekaligus menawarkan solusi.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas rencana upacara tradisi "Tingalan Jumenengan" atau peringatan kenaikan tahta raja Sunan PB XIII Hangabehi, yang menurut kubu Sunan PB XIII yang diwakili "Tim Lima" atau Satgas Panca Narendra, akan digelar pada 22 April 2017. Namun, pihak LDA maupun Satgas Panca Narendra belum sepakat mengenai penyelenggaraan upacara tradisi tersebut dan KGPH Puger yang mewakili LDA menyatakan akan menunggu keputusan Presiden Jokowi.

"Presiden minta, Tingalan Jumenengan bisa dilaksanakan 22 April 2017. Maksudnya agar budaya keraton tetap terjaga. Soal penataan keraton sepenuhnya merupakan hak sentana (kaum kerabat raja)," tutur Subagyo HS, seusai bertemu LDA di Sasana Sewaka, Kamis 6 April 2017.

Dalam pertemuan tertutup itu, Wantimpres mencatat sejumlah usulan yang disampaikan LDA dan akan dibawa kepada Presiden Jokowi. KGPH Puger yang ditunjuk LDA sebagai Plt Raja Keraton Surakarta, menyatakan, pihaknya menunggu setelah usulan yang dia disampaikan kepada Wantimpres kepada Presiden Jokowi mendapat keputusan.

"Namun Tingalan Jumenengan tetap harus ada, jangan sampai berhenti. Selama ini Jumenengan tetap diselenggarakan dengan Tari Bedaya Ketawang, meskipun tanpa kehadiran Sunan PB XIII," tukasnya.

Di kubu Satgas Panca Narendra, menyatakan, Tingalan Jumenengan di Sasana Sewaka harus dengan kehadiran Sunan PB XIII Hangabehi. Berdasarkan gal itu, Ketua Satgas Panca Narendra, GPH Benowo, menghendaki keraton yang kini tertutup dan pintu-pintunya dikunci dibuka. Kunci semua pintu keraton yang kini di tangan LDA supaya diserahkan ke Satgas Panca Narendra, untuk akses Sunan PB XIII dan persiapan Tingalan Jumenengan yang ke-13.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengungkapkan, dia belum bisa memastikan apakah dalam Tingalan Jumenengan nanti Sunan PB XIII dapat hadir. Dia berharap, Tingalan Jumenengan versi kedua kubu dapat digabung. "Kalau poin-poin usulan itu sudah dilaporkan kepada Presiden dan dilakukan kajian-kajian, bisa dibuat rumusan untuk menyatukan upacara Tingalan Jumenengan," katanya.***

Bagikan: