Pikiran Rakyat
USD Jual 14.099,00 Beli 14.197,00 | Sedikit awan, 19.8 ° C

Oknum Pengirim TKI Ilegal Raup Jutaan Rupiah per Orang

Satrio Widianto

JAKARTA, (PR).- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Ayub Basalamah mengatakan, moratorium (penghentian sementara) penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Timur Tengah, telah membuka peluang penempatan tenaga kerja ilegal. Mereka di antaranya menggunakan visa umrah dan kunjungan wisata. Bahkan banyak TKI yang ditempatkan di negara konflik Suriah.

“Para oknum pengirim TKI ilegal ini mampu meraup keuntungan hingga 3500 dolar AS per/TKI yang dikirimnya atau setara Rp 46 juta. Bahkan, disinyalir dalam sehari minimal 100-an TKI yang diberangkatkan secara ilegal ke Timur Tengah,” ungkap Ayub dalam diskusi terkait peluncuran buku “Perdagangan Manusia Berkedok Pengiriman TKI” karya Siprianus Edi Hardum, di Jakarta, Kamis, 6 April 2017.

Oleh karena itu, Ayub berharap kementerian dan lembaga terkait segera menertibkan pelanggaran ini. “Bersama kepolisian sebenarnya pemerintah bisa sidak (inspeksi mendadak) ke klinik medical yang dipercaya agen penempatan di Timur Tengah dalam mengeluarkan rekomendasi kesehatan. Jumlah klinik medical itu ada 26 klinik. Jadi bisa ketahuan kalau ada TKI yang sedang dipersiapkan ke Timur Tengah,” ujarnya.Sekjen Kementerian Ketenagakerjaan Hery Sudarmanto mengatakan, TKI ilegal banyak memalsukan dokumen dan memanipulasi data dari calon TKI serta mengabaikan prosedur dan penempatan yang telah diatur oleh undang-undang dan ketentuan hukum yang berlaku. “Mereka adalah mafia dan kelompok-kelompok yang terorganisir,” katanya.

Disebutkan, TKI nonprosedural atau ilegal lahir karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang meksnisme menjadi TKI prosedural. Untuk itu, pihaknya mengapresiasi atas terbitnya buku ini dengan harapan menjadi referensi dalam mencegah praktik perektrutan TKI ilegal.

Ia menambahkan, adanya aktivitas orang-orang yang tidak bertanggung jawab inilah yang membuat TKI ilegal dekat dengan praktik perdagangan orang.

Sementara itu, penulis buku Siprianus Edi Hardum berharap buku yang ditulisnya itu bisa menjadi pegangan dalam upaya meningkatkan penempatan dan perlindungan terhadap calon TKI prosedural sejak dari rekruitmen sampai pada penempatan di negara tujuan.

“Buku yang saya tulis ini mengungkap tentang masalah TKI ilegal, juga persoalan yang dihadapi calon TKI sejak belum diberangkatkan sampai di negara penempatan. Bahkan yang lebih mengerikan adalah adanya perdagangan manusia berkedok pengiriman TKI. Jadi, buku ini merupakan potret yang terjadi di tengah tengah kita,” tandas Edi Hardum. ***

Bagikan: